Market Indices

Suriah Dalam Bahaya Adu Senjata Kekuatan Dunia

Oleh Nur - Rubrik Internasional

30 Mei 2013 06:00:00 WIB

WE.CO.ID – Suriah yang terus dirundung konflik internal terancam makin runyam. Uni Eropa (EU), Israel, dan Rusia tengah menyeret negara di Timur Tengah itu menjadi medan konflik bersenjata internasional.

Kekhawatiran atas kondisi seperti itu bukannya tanpa alasan setelah melihat gerakan-gerakan yang dilakukan EU dan Rusia dalam beberapa hari belakangan ini. Akhir pekan lalu, para menteri luar negeri EU berkumpul membahas pencabutan embargo senjata terhadap Suriah. Meski tidak mufakat bulat, EU toh akhirnya sepakat memutuskan mencabut embargo senjata yang telah diterapkan sejak Mei 2011 itu.

EU memang tampak sangat berhati-hati dalam mengelurakan keputusan tersebut. Dalam pernyataan seusai pertemuan para menlu EU itu, disebutkan bahwa mereka sepakat untuk tidak melanjutkannya hingga tahap pengiriman senjata. Mereka pun akan meninjau ulang keputusan tersebut sebelum 1 Agustus mendatang. 

Awal pekan ini (Senin, 27/5/2013), EU menyatakan anggotanya dapat mengambil kebijakan sendiri terkait dengan pengiriman senjata ke Suriah. Langkah EU tersebut membuka pintu akses persenjataan bagi para pemberontak Suriah yang sejak dua tahun lalu terus melancarkan perlawanan untuk menumbangkan Presiden Bashar al-Assad. Barat dan Amerika Serikat bersama sekutu mereka, yakni Israel, selama ini dikenal sebagai pihak yang pro-kelompok pemberontak yang ingin menumbangkan Presiden Assad.

Rusia yang dikenal sebagai pendukung Presiden Assad seperti tidak mau ketinggalan langkah. Negara bekas Uni Soviet yang pada era Perang Dingin memimpin blok Timur dalam perlombaan senjata melawan blok Barat pimpinan AS itu menyiapkan peluru kendali (rudal) antiserangan udara S-300. Rusia menyatakan akan mengirimkan sistem persenjataan mobil yang keandalannya disejajarkan dengan Rudal Patriot AS yang dikerahkan pasukan sekutu di Irak dan kini dipergunakan NATO untuk mengamankan Turki dari ancaman serangan Suriah itu.

Deputi Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov sebagaimana dikutip BBC, Rabu (29/5/2013) mengatakan peluru kendali S-300 itu sebagai faktor pengimbang yang dapat menjadi penghalang pihak-pihak asing yang ingin memasuki konflik Suriah.

Rusia menganggap keputusan EU tersebut merusak rencana konferensi perdamaian internasional bagi Suriah yang digagas Moskow bersama AS. Konferensi perdamaian itu rencananya akan digelar bulan depan.

Ryabkov memang mengatakan kontrak pembelian rudal S-300 dengan Suriah telah ditandatangani beberapa tahun silam. Namun, pernyataan Ryabkov yang dikeluarkan beberapa hari setelah pencabutan embargo terhadap Suriah itu bisa diterjemahkan sebagai reaksi kemarahan Rusia atas keputusan EU itu. Momentum pengumuman rencana pengiriman senjata canggih itu memunculkan pertanyaan: kenapa baru sekarang dilakukan kalau memang kontraknya telah lama diteken?

Rusia sebelumnya juga enggan secara spesifik menyebutkan nama sistem persenjataan canggih yang akan mereka pasok ke Suriah. Penyebutan nama senjata canggih itu (S-300) dalam pernyataan  terbaru Rusia itu dipandang sebagai sinyal terjadinya eskalasi ketegangan dalam konflik Suriah.

Beberapa pengamat militer melihat pernyataan terbaru Rusia mengenai penjualan senjata itu sebagai “pengubah permainan” dalam mengatasi krisis Suriah.

"Hal itu secara samar memastikan perundingan (perdamaian) AS-Rusia tidak akan berarti sekaligus mengirimkan sinyal peringatan yang sama dengan pengiriman senjata ke Iran. Langkah itu juga dapat menyeret Israel ke dalam perang Suriah,” kata Anthony Cordesman dari Centre for Strategic and International Studies sebagaimana dikutip BBC.

Dilaporkan, Rusia selama ini menahan pengiriman senjata ke Suriah sebagai kompensasi atas komitmen Israel untuk tidak melancarkan serangan udara lagi terhadap Suriah.

Menteri Pertahanan Israel Moshe Yaalon mengatakan Rusal S-300 itu masih belum meninggalkan Rusia. “Saya berharap senjata-senjata itu tidak akan meninggalkan Rusia dan jika, semoga Tuhan mencegahnya, senata itu sampai (juga) ke Suriah, kami tahu apa yang harus dilakukan,” katanya dengan nada mengancam.

Inggris dan Prancis sebagai kekuatan utama EU menyatakan mereka berupaya menekan pemerintah Suriah di Damaskus untuk menempuh penyelesaian politik atas perang saudara yang berkecamuk sejak dua tahun lalu itu. Kedua negara tersebut memiliki kapabilitas memasok senjata kepada pihak yang mereka sebut kelompok pemberontakk moderat Suriah.

Para aktivis dari kelompok oposisi mengklaim mereka mencatat lebih dari 200 orang tewas dalam pembantaian massal yang diduga dilakukan oleh pasukan pendukung Presiden Assad pada awal bulan ini.

Sementara itu, di dalam negeri, kelompok oposisi Suriah menyambut baik pencabutan embargo oleh EU itu. “Pencabutan embargo senjata itu sebagai langkah menuju ke arah yang benar,” George Jabboure Netto, juru bicara Dewan Nasional Suriah yang beroposisi.

Kelompok pembangkang lainnya, Koalisi Nasional Suriah, juga memuji langkah EU meski mereka menyesalkannya karena ”agak terlambat”. 

Hingga tenggat tidak resmi pada perundingan di Istambul, Turki, Selasa (28/5/2013), kelompok oposisi Suriah belum menyatakan apakah mereka akan menghadiri konferensi perdamaian yang diprakarsai AS dan Rusia itu bulan depan.

nurcholish@wartaekonomi.com

Foto: BBC News

Recomended Reading

Berita Terkini

Jum'at, 19/09/2014 08:28 WIB

BRI akan Realisasikan Kapal Teras Dorong Layanan

Jum'at, 19/09/2014 08:02 WIB

Jokowi: Perizinan Kementerian Harus Satu Pintu

Jum'at, 19/09/2014 07:27 WIB

Dow dan S&P 500 Capai Rekor Tertinggi Baru

Jum'at, 19/09/2014 06:56 WIB

Harga Minyak Turun Karena Persediaan AS Meningkat

Jum'at, 19/09/2014 05:59 WIB

Emas Jatuh Setelah Laporan Klaim Pengangguran AS Positif

Kamis, 18/09/2014 23:22 WIB

Sepi Proyek, Adhi Karya Revisi Target Kontrak Baru

Kamis, 18/09/2014 23:09 WIB

Ini Proyek-proyek Medco Energi

Kamis, 18/09/2014 23:01 WIB

BMKG: Cuaca Sumsel dalam Kondisi Ekstrem

Executive Brief

Investor asal Surabaya kian minati beragam produk properti di Australia.

BI terbitkan empat aturan penyempurnaan ketentuan transaksi valas.

Menkeu: Isu normalisasi kebijakan moneter The Fed sebabkan kekhawatiran pelaku pasar keuangan.

OJK: Pendidikan keuangan pada masyarakat dapat tingkatkan pemanfaatan produk perbankan.

BRI akan realisasikan satu unit Kapal Teras pada tahun ini.

Banggar DPR sepakati postur pinjaman luar negeri RAPBN 2015 sebesar Rp 23,8 triliun.

Modern Internasional akan terus kembangkan bisnis makanan dan minuman siap saji.

DBS: Bisnis wealth management dunia sedang soroti Indonesia.

Vaninder Singh nilai Indonesia mampu respons dengan baik kebijakan kenaikan suku bunga Fed.

Entertainment & Life Style

14 September 2014 - Entertainment & Life Style

Indosat Perbarui Jaringan di Empat Kota

13 September 2014 - Olahraga

Timnas Senior Dijadwalkan Hadapi Lebanon