Market Indices

Konflik Suriah Masuki Fase Lebih Berbahaya Bagi Perdamaian (1)

Oleh Nur - Rubrik Internasional

10 Juni 2013 06:30:00 WIB

WE.CO.ID – Konflik Suriah memasuki fase baru yang lebih berbahaya karena bisa merembet ke tetangganya di kawasan Timur Tengah dan menyeret negara-negara lain di luar kawasan.

Konflik Suriah tidak bisa dikatakan sebagai perang saudara antarsesama anak bangsa yang berbeda faksi politik dan aliran sektarian semacam kelompok Suni dan Syiah. Pertikaian perebutan pengaruh dan kekuasaan di Suriah telah menyeret keterlibatan negara-negara lain. Amerika Serikat (AS). Israel, dan sekutu mereka di Eropa tergoda melibatkan diri karena mereka punya berbagai kepentingan di sana. Yang paling menonjol ialah kepentingan geopolitik untuk membendung pengaruh Iran yang dituding pro-Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Iran disebut-sebut mengerahkan dukungan gerilyawan Hezbollah terhadap pasukan pemerintah Suriah dalam menghadapi kelompok pemberontak yang mayoritas kaum Suni. Rivalitas Suni-Syiah kemudian menjadi hembusan api yang memanaskan padang konflik negara di Timur Tengah itu.

Rusia tidak mau ketinggalan tampil sebagai “pengimbang” Barat. Dari aspek kebutuhan militer Suriah, selama ini Rusia menjadi tumpuan pasokan senjata di tengah embargo senjata yang diberlakukan Uni Eropa sejak Mei 2011. Embargo itu memang akhirnya dicabut akhir pekan lalu. Tapi, keputusan itu dipandang sebagai upaya membuka akses bagi para pemberontak Suriah untuk mendapatkan pasokan senjata dari Eropa. Inggris dan Prancis disebut-sebut sebagai negara Eropa yang paling berpotensi memasok senjata untuk kelompok pemberontak anti-Presiden Assad.

Rusia yang terikat kontrak penjualan senjata ke pemerintah Suriah yang diteken pada 2010 pun seperti mendapatkan angin dengan langkah pencabutan embargo senjata oleh EU itu. Tidak lupa, Rusia mengkritik langkah pencabutan embargo senjata yang memberikan jalan bagi kelompok pemberontak Suriah itu. Seraya memprotes, Rusia memulai pengiriman peluru kendali (rudal) canggih S-300 yang merupakan sistem persenjatan antiserangan udara.

Prospek perdamaian pun terancam gagal terwujud. Konferensi perdamaian internasional guna mencari solusi perdamaian Suriah yang digagas Rusia bersama Amerika Serikat sudah beberapa kali ditunda. Konferensi yang melibatkan semua pihak yang bertikai di Suriah itu semula direncanakan Mei silam di Jenewa, Swiss, namun kemudian diundur menjadi Juni ini. Jadwal kemudian berubah diundur lagi menjadi bulan depan. Itu pun belum ada jaminan bakal benar-benar terselenggara karena pihak-pihak yang bertikai belum memberikan komitmen hadir.  Mereka mengajukan syarat yang yang saling menegasikan dan belum dicapai titik temu.

Para pengamat mengkhawatirkan Suriah yang telah lebih dua tahun dilanda konflik bakal bernasib seperti Somalia atau bahkan lebih buruk lagi. Suriah dibelit persoalan sangat sensitif tempat berpadunya sentimen berlatar agama dan etnis yang membentang di sepanjang perbatasan dari seluruh penjuru mata angin. Adapun Somalia “terbendung” dari pengaruh atau intervensi dari seberang perbatasan.

Somalia juga tidak pernah memiliki senjata kimia, rudal, dan senjata modern lainnya sebagaimana Suriah yang dikenal sebagai negara paling banyak meriamnya di dunia.

Dengan kondisi yang seperti itu saja, konflik Somalia yang berkepanjangan akhirnya membawa negara itu kolaps 20 tahun lalu. Somalia tersayat-sayat oleh aksi anarkistis kelompok, terorisme, dan kelaparan. Hingga kini, perairan Somalia pun dikenal sebagai sebagai wilayah pelayaran yang sangat berbahaya karena keganasan para perompaknya. 

Bagaimana dengan Suriah? Dengan latar belakang dan kondisi seperti itu, para pengamat melihat situasi Suriah lebih berbahaya. (BERSAMBUNG....)

nurcholish@wartaekonomi.com

Foto: BBC News

Recomended Reading

Senin, 01/09/2014 14:03 WIB

Sambut MEA 2015, KKP Siapkan SDM Unggul

Senin, 01/09/2014 11:11 WIB

BI Bantu Petani Bawang di Simalungun

Senin, 01/09/2014 11:23 WIB

Garuda akan Terbangkan 83.144 Calon Haji

Executive Brief

BI: Surplus neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2014 lebih baik dari perkiraan bank sentral.

Bappenas sandingkan program prioritas Jokowi dengan program kebijakan SBY.

Pengamat: Pemerintah perlu genjot pertumbuhan ekonomi yang lambat.

BI isyaratkan akan terus menahan suku bunga acuan.

BPS catat kenaikan tarif tenaga listrik menjadi salah satu komoditas penyumbang laju inflasi.

KSEI harapkan bank pembayaran transaksi bursa terintegrasi dengan fasilitas AKSes.

Wamenkeu: Target laju inflasi hingga akhir 2014 sebesar 5,3 persen dapat tercapai.

OJK akan bentuk tim pengembang surat utang.

Pengamat: Pembiayaan perbankan nasional masih terbatas dalam pembangunan infrastruktur.

OJK: Tingkat kepercayaan investor terhadap instrumen investasi reksa dana meningkat.

Harga kebutuhan pokok di Biak Numfor relatif stabil.

Pemerintah siapkan langkah terobosan untuk dorong pemulihan hutan yang alami kebakaran.

Penjualan BBM bersubsidi jenis premium dan solar di Biak Numfor masih normal. 

Bali raih devisa sebesar 50.745,77 dolar AS dari ekspor kerajinan tulang.

Selandia Baru nilai Makassar tempat yang menjanjikan di bidang investasi pangan. 

BI sarankan industri hijau cari pasar baru.

Hipmi usulkan agar pemerintah tidak naikkan harga solar bersubsidi.

Peluang industri nutrisi termasuk susu di Indonesia dinilai semakin prospektif.

Citilink Indonesia bersinergi dengan operator akomodasi pariwisata Best Western International.

Garuda Indonesia akan lakukan investigasi penyebab meninggalnya Kapten Ramdanto.

Entertainment & Life Style

31 Agustus 2014 - Olahraga

Alex Song "Barcelona" Perkuat West Ham

31 Agustus 2014 - Olahraga

Chelsea Tundukkan Everton