Market Indices

Pasukan Suriah Mulai Ofensif dan Unjuk Gigi (4)

Oleh Nur - Rubrik Internasional

10 Juni 2013 09:30:00 WIB

WE.CO.ID – Konflik Suriah memasuki fase yang jauh lebih berbahaya. Pasukan pemerintah makin ofensif dan unjuk gigi.

Setelah menempuh jalur defensif selama beberapa bulan dalam menghadapi kelompok pemberontak, pemerintah Suriah mulai menempuh langkah ofensif.

Presiden Assad mengerahkan pasukannya untuk menggempur gerilyawan pemberontak dan menguasai kembali kontrol di sejumlah wilayah strategis yang diduduki kelompok pemberontak. Pemerintah tidak hanya mengandalkan pasukan tentara regulernya tetapi juga banyak menyandarkan pada dukungan kelompok gerilyawan pro-pemerintah, terutama kelompok Hezbollah. 

Sokongan pasukan Hezbollah dukungan Iran dan pengiriman pasokan senjata sistem pertahanan antiserangan udara peluru kendali (rudal) S-300 dari Rusia membuat pemerintah makin percaya diri menghadapi rongrongan kelompok pemberontak.

Fokus penumpasan kelompok pemberontak terutama diarahkan ke kawasan strategis di seputar Ibu Kota Damaskus, seperti Daraya di selatan dan Gouta di utara. Hal itu sekaligus untuk mengamankan Bandar Udara Damaskus sebagai jembatan udara penghubung Suriah-Iran.

Pekan lalu, pasukan pemerintah menguasai kembali kota Qusayr di Provinsi Homs yang berbatasan dengan Libanon. Kota berpenduduk 50.000 orang itu sebelumnya dalam pengepungan selama dua pekan lebih. Kelompok oposisi menuding rezim Presiden Assad bertanggung jawab atas pembunuhan massal sekitar 200 warga di wilayah tersebut.

Kelompok pemberontak mengakui penaklukan kembali kota strategis Qusayr itu oleh pasukan pemerintah dengan dukungan gerilyawan Hezbollah. Namun, mereka menegaskan bahwa perang belum usai. Mereka menyatakan penaklukan itu bukan berarti terhentinya perlawanan mereka terhadap rezim al-Assad.

Hal lain yang membuat Suriah menjadi kawasan konflik yang sangat berbahaya ialah adanya dugaan penggunaan senjata kimia, terutama gas sarin yang merusak atau bahkan melumpuhkan syaraf. Eropa, PBB, dan AS menengarai penggunaan senjata kimia secara terbatas terjadi di kawasan Daraya dan di dekat Aleppo.

Pekan lalu, Prancis dan PBB menyatakan mereka memiliki bukti pasukan Suriah menggunakan gas sarin. Menurut Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius, bukti itu mereka dapatkan dari tes laboratorium terhadap sampel darah dan urin yang mereka dapatkan dari kawasan di wilayah Suriah. Adapun tes laboratorium itu dilakukan di Prancis. Meski demikian, AS tampak berhati-hati dalam menyikapi temuan dugaan penggunaan gas sarin tersebut.

Faktor yang juga tidak kalah membuat konflik Suriah berbahaya ialah kekisruhan dan kekerasan bersenjata untuk memperebutkan kekuasaan itu melibatkan para pemain dan boneka-boneka mereka. Siapakah mereka?

Suriah dikelilingi oleh negara-negara tetangga yang mempengaruhi hasil akhir penyelesaian perang saudara di sana yang lebih dari sekadar konflik domestik itu. Para tetangganya, termasuk negara yang letaknya lebih jauh seperti Qatar dan Arab Saudi, masing-masing punya faksi yang mereka dukung, termasuk dukungan terhadap “pemerintahan dalam penantian” kelompok-kelompok pemberontak. 

Kelompok minoritas Suni Irak yang berkonfrontasi dengan pemerintah yang didominasi kelompok Syiah tentu mendambakan pemerintahan Suriah yang dikuasai kelompok Suni yang kini banyak melawan pemerintahan. Suku-suku kaum Suni di Provinsi Anbar dan Ramadi memiliki hubungan sejarah panjang dengan kelompok Suni Suraih di perbatasan. Pemerintahan Suriah yang didominasi Suni diharapkan dapat mengimbangi pemerintah Irak yang dikuasai kaum Syiah.

Dalam lebih dari setahun terakhir, dilaporkan adanya pasokan senjata di lintas perbatasan Irak untuk kelompok gerilyawan Suriah anti-pemerintah. Pasokan itu berasal dari kelompok jihad Irak yang disebut-sebut terjalin kerja sama dengan gerilyawan Suriah yang mayoritas dari kelompok Suni.

Sementara itu, kekerasan yang makin intens di Irak berisiko menyeret Negeri 1001 Malam yang telah porak poranda pasca-gempuran pasukan sekutu pimpinan AS itu ke perang saudara baru. Hal itu bukan hanya akan berdampak buruk bagi investasi di seantero negeri itu melainkan juga memperuncing konflik geopolitik antara Iran dan negara-negara mornarki di Teluk.

Turki juga terseret dalam konflik Suriah sebagai dampak dari membanjirnya pengungsi ke wilayahnya. Komisi Tinggi Perserikatan bangsa Bangsa Urusan Pengungsi (UNHCR) mencatat sekitar 322.000 warga Suriah mengungsi ke wilayah Turki dan 100.000 lainnya siap menyeberang ke sana.

Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan pun mulai menaikkan tensi pernyataannya terhadap pemerintah Suriah belakangan ini. Dia tidak hanya melancarkan kritik terhadap Israel atas serangan militernya terhadap Suriah tetapi juga terhadap pemerintahan Presiden Assad.

"Anda, Bashar Assad, akan membayar untuk ini. Anda akan bayar mahal, sangat mahal karena Anda mempertontonkan keberanian terhadap yang lainnya, terhadap bayi-bayi yang mengedot,” kata Erdogan sebagaimana dikutip CNN.

Yordania tentu lebih gemas lagi ketimbang Turki. Mereka harus mengatasi 450.000 pengungsi asal Suriah yang mulai frustasi dan gelisah di kamp-kamp pengungsian. Jumlah tersebut setara dengan 7% penduduk Yordania.  Di Libanon, jumlah pengungsi Suriah mencapai 455.000. Secara keseluruhan, menurut catatan UNHCR, konflik Suriah telah melahirkan tambahan sekitar 500.000 pengungsi hanya dalam tempo dua bulan.

Libanon yang juga terlilit masalah sektarian seperti halnya Suriah tentu terlalu sibuk untuk melibatkan diri dalam konflik Suriah. Namun, mau tidak mau, Libanon berpotensi terseret dalam konflik di negara tetangganya itu. Beberapa  tokoh kaum Salaf Libanon telah menyatakan jihad melawan rezim Assad sebagai respons terhadap meningkatnya keterlibatan Hezbollah di Suriah. Sheikh Ahmed Assir, misalnya, menyerukan warga Suni di kota Sidon untuk membentuk brigade jihad guna membantu kelompok anti-pemerintah Suriah di kota Qusayr. (HABIS)

nurcholish@wartaekonomi.com

Recomended Reading

Berita Terkini

Jum'at, 18/04/2014 11:25 WIB

Inovasi Iklan Membidik Pasar Iklan Mobile

Jum'at, 18/04/2014 11:00 WIB

Dinas Kesehatan Papua Butuh Perawat Laki-laki

Jum'at, 18/04/2014 10:52 WIB

Commonwealth Life Buka Kantor ke-32

Jum'at, 18/04/2014 10:30 WIB

BNI Perluas Solusi "Treasury" ke Indonesia Timur

Jum'at, 18/04/2014 09:58 WIB

Kiper Everton Howard Perpanjang Kontrak

Kabar EkBis

17 April 2014 - Strategi Korporasi

Kuartal-I 2014 Laba AALI Meningkat 120,2%

17 April 2014 - Ekonomi Bisnis

Kemenkop Gelar GKN Di Maluku Utara

Executive Brief

Putin: Saya berharap tidak gunakan kekuatan militer di Ukraina Timur.

Indonesia Property Watch: Alasan akuisisi BTN mengada-ada.

Pemerintah timbang pengurangan kewajiban bea keluar tambang mineral.

KKP akui kemampuan awasi pencurian ikan di perairan RI terbatas.

Dahlan minta Freeport setor dividen interim.

BPS cegah korupsi dengan Program Pengendalian Gratifikasi.

OJK kaji mekanisme akuisisi Bank Mandiri atas BTN.

BPS pastikan harga komoditas dalam negeri terkendali.

LPS akan likuidasi Tugu Kencana di Sukoharjo.

PT Phapros akan lakukan IPO pada tahun 2015.

Kamis (17/4) sore, IHSG naik ke level 4.897.

Rupiah menguat ke angka Rp 11.423 pada Kamis (17/4) sore.

Dahlan: Akuisisi BTN, Bank Mandiri akan kalahkan Bank Malaysia.

Standard Chartered: Harga BBM bersubsidi harus naik.

Unjuk rasa anti-Piala Dunia terus berlanjut di Brasil.

Indo Premier luncurkan supermarket reksa dana daring, Rabu (16/4).

KPU: Jadwal pendaftaran capres dan cawapres tanggal 18-20 Mei 2014.

Syarief Hasan: Demokrat tetap lanjutkan konvensi dan ajukan capres.

OJK: Tingkat melek keuangan masyarakat Indonesia sangat rendah.

KKP: Indonesia belum manfaatkan potensi budidaya laut.

Recommended Reading

Jum'at, 18/04/2014 13:06 WIB

Peringatan untuk Operator Seluler

Jum'at, 18/04/2014 08:35 WIB

Krisis Ukraina Sebabkan Nilai Dolar dan Euro Datar

Jum'at, 18/04/2014 07:30 WIB

Menkeu Minta Kementerian BUMN Tagih Dividen Freeport

Jum'at, 18/04/2014 04:30 WIB

Pemerintah Pertimbangkan Pengurangan Bea Keluar Tambang

Kamis, 17/04/2014 18:33 WIB

Ronaldo Dkk Akan Unjuk Kemampuan Di Indonesia

Kamis, 17/04/2014 18:03 WIB

Puncak Konvensi Partai Demokrat Akhir April

Kamis, 17/04/2014 17:32 WIB

AALI Bagikan Dividen Rp 515 Per Saham

Kamis, 17/04/2014 17:30 WIB

Diplomat Barat Kecam "Cerita Fantasi" Rusia tentang Ukraina

Entertainment & Life Style

17 April 2014 - Entertainment & Life Style

SpeedUp SmartWatch, Canggih dan Terjangkau

17 April 2014 - Olahraga

Unjuk Rasa Anti-Piala Dunia Berlanjut