Market Indices

APBN: Menuju Anggaran Berimbang 2014, Perlukah? (I)

Oleh Hatta - Rubrik Ekonomi Bisnis

27 Juli 2012 17:02:00 WIB

Untuk mencapai anggaran berimbang, pemerintah harus mengendalikan belanja sekaligus mengoptimalkan potensi pendapatan.


Pemerintah terus mengupayakan kemungkinan Indonesia kembali menerapkan kebijakan pengelolaan anggaran berimbang. Tahun ini defisit anggaran diperkirakan mencapai 2,23% dari produk domestik bruto (PDB) akibat batalnya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Namun menambah utang untuk menutup defisit yang bukan diakibatkan pengeluaran yang bersifat jangka panjang dan memiliki efek berganda di masa depan tidak akan menjadi opsi yang akan dipertimbangkan pemerintah.


Kebijakan pengelolaan anggaran berimbang berarti penerimaan negara sama dengan pengeluaran negara. Kebijakan ini diharapkan dapat menekan utang pemerintah yang kian membesar untuk membiayai defisit anggaran. Untuk mencapainya, dengan kondisi perekonomian saat ini, berarti pemerintah harus menekan pengeluarannya, atau meningkatkan pendapatan negara.


Pemerintah mengakui bahwa defisit anggaran tahun 2012 ini dikarenakan batalnya kenaikan harga BBM yang menyebabkan subsidi bahan bakar membengkak. Saat ini pengendalian subsidi bahan bakar akan sangat sulit dilakukan, belanja rutin pemerintah seperti belanja pegawai, belanja modal, dan pos belanja rutin lainnya juga sulit untuk ditekan. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan RI Bambang Brodjonegoro mengatakan jika pemerintah ingin mencapai anggaran berimbang harus meningkatkan penerimaannya.


Bisa atau tidaknya, atau mungkin lebih tepatnya perlu atau tidaknya Indonesia kembali menerapkan pengelolaan anggaran berimbang pemerintah harus belajar dari pengalaman masa lalu dan melihat kebutuhan pembangunan di masa yang akan datang. Selama masa Orde Baru Indonesia menerapkan kebijakan pengelolaan anggaran berimbang. Namun karena pada waktu itu utang diperhitungkan sebagai pendapatan, ketika penerimaan negara tidak sebesar pengeluarannya, dan selisih tersebut dibiayai oleh utang, utang pemerintah pun membengkak hingga mencapai 89% dari PDB pada tahun 2000.


Penerimaan negara juga bisa lebih besar dari pengeluaran, seperti yang terjadi pada era boom minyak antara tahun 70-80. Jika kondisi itu terjadi, di bawah kebijakan anggaran berimbang pemerintah harus menghabiskan surplus anggaran pada tahun anggaran yang sama. Padahal saat itu pemerintah memiliki opsi lain yakni surplus tersebut ditabung untuk membiayai perekonomian tahun berikutnya. Sehingga jika pada tahun berikutnya, dengan berbagai perkembangan kondisi perekonomian APBN dianggarkan defisit dana lebih dari tahun sebelumnya bisa membiayai defisit.


Happy Fajrian 

(redaksi@wartaekonomi.com)

Sumber: Warta Ekonomi No 15/2012

Kabar EkBis

02 September 2014 - Ekonomi Bisnis

Wacana Kenaikan BBM Pengaruhi Usaha UKM di Depok

02 September 2014 - Agrikultur

BPS: Petani Bali Kreatif Olah Hasil Panen

Kabar Indonesia

02 September 2014 - Politik

Hatta Ucapkan Selamat Kepada Jokowi

Executive Brief

BI: Surplus neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2014 lebih baik dari perkiraan bank sentral.

Bappenas sandingkan program prioritas Jokowi dengan program kebijakan SBY.

Pengamat: Pemerintah perlu genjot pertumbuhan ekonomi yang lambat.

BI isyaratkan akan terus menahan suku bunga acuan.

BPS catat kenaikan tarif tenaga listrik menjadi salah satu komoditas penyumbang laju inflasi.

KSEI harapkan bank pembayaran transaksi bursa terintegrasi dengan fasilitas AKSes.

Wamenkeu: Target laju inflasi hingga akhir 2014 sebesar 5,3 persen dapat tercapai.

OJK akan bentuk tim pengembang surat utang.

Pengamat: Pembiayaan perbankan nasional masih terbatas dalam pembangunan infrastruktur.

OJK: Tingkat kepercayaan investor terhadap instrumen investasi reksa dana meningkat.

Pemerintah siapkan langkah terobosan untuk dorong pemulihan hutan yang alami kebakaran.

Bali raih devisa sebesar 50.745,77 dolar AS dari ekspor kerajinan tulang.

Selandia Baru nilai Makassar tempat yang menjanjikan di bidang investasi pangan. 

BI sarankan industri hijau cari pasar baru.

Hipmi usulkan agar pemerintah tidak naikkan harga solar bersubsidi.

Peluang industri nutrisi termasuk susu di Indonesia dinilai semakin prospektif.

Citilink Indonesia bersinergi dengan operator akomodasi pariwisata Best Western International.

Recommended Reading

Selasa, 02/09/2014 21:22 WIB

BI: Penjualan Rumah pada Triwulan II Turun

Selasa, 02/09/2014 18:09 WIB

OJK: Pemberian Kredit Harus Perhatikan Aspek Lingkungan Hidup

Selasa, 02/09/2014 17:04 WIB

Aviliani Harapkan Pemerintahan Jokowi-JK Galakkan Padat Karya

Selasa, 02/09/2014 10:13 WIB

BI: Penggunaan Transaksi Non-Tunai Masih Rendah

Selasa, 02/09/2014 05:58 WIB

Hatta Ucapkan Selamat Kepada Jokowi

Senin, 01/09/2014 16:04 WIB

OJK Cabut Izin PT Cahyagold Prasetya Finance

Senin, 01/09/2014 14:07 WIB

BPS: Ekspor Juli 2014 Turun 6,03%

Senin, 01/09/2014 13:17 WIB

BPS Catat Inflasi Agustus 2014 Sebesar 0,47%

Entertainment & Life Style

31 Agustus 2014 - Olahraga

Alex Song "Barcelona" Perkuat West Ham

31 Agustus 2014 - Olahraga

Chelsea Tundukkan Everton