Market Indices

Tren Musik: Musik Digital Mengancam! (I)

Oleh Hatta - Rubrik Digital Economy

05 Agustus 2012 13:03:00 WIB

Munculnya musik dalam bentuk file digital tidak sepenuhnya berdampak negatif. Teknologi digital juga banyak memunculkan peluang-peluang baru bagi para pelaku industri musik.

Di salah satu bilik sebuah warung internet (warnet) terlihat seorang remaja sedang asyik mengakses internet di komputer di hadapannya. Masuk ke sebuah halaman website musik,  ia pun sibuk memilih file lagu-lagu hits pilihannya di website itu untuk kemudian ia unduh di komputer. Selesai diunduh, ia kemudian  mencolokkan kabel data untuk memindahkan file lagu-lagu kesukaannya itu ke telepon genggamnya. Tak seberapa lama, sebanyak 10 file lagu pilihannya telah berada di dalam menu telepon genggamnya. Setelah membayar tarif sewa warnet hanya Rp4.000 per jam, itu, ia pun keluar dari warnet sembari mengenakan earphone dan bersenandung mengikuti irama lagu hits yang ia putar melalui telepon genggamnya.

Itulah fenomena perilaku remaja zaman sekarang yang makin umum terjadi.

Mereka dengan sangat mudah, cepat, dan murah (bahkan gratis) bisa menikmati puluhan lagu kesukaannya karena berbentuk file digital. Bandingkan dengan masa 60 tahun yang lalu (tahun 1950-an), ketika orang hanya dapat mendengarkan musik rekaman dengan menggunakan piringan hitam. Keberadaan piringan  hitam pun mulai tergusur pada tahun 1970-an diganti dengan menggunakan kaset. Pada pertengahan tahun 1990-an, kejayaan era kaset pun mulai punah setelah format musik rekaman telah bergeser dengan disimpan ke dalam CD.

Teknologi kemudian bergerak semakin maju dan banyak memengaruhi berbagai sendi-sendi kehidupan manusia, termasuk dalam mendengarkan musik rekaman. Saat ini musik rekaman tidak lagi hanya dikemas ke dalam bentuk fisik berupa CD, tetapi telah berbentuk file musik di komputer atau medium teknologi lainnya seperti laptop, tablet PC, atau MP3 player. Orang bisa mendengarkan musik rekaman kesukaannya hanya dengan membuka file musik itu dengan berbagai perangkat teknologi.

Radjasa Barkah, managing director Universal Music Indonesia dan pengurus Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI), membeberkan data bahwa tren penjualan musik dunia dalam bentuk digital akan semakin meningkat, sementara dalam format CD akan semakin menurun seperti halnya yang pernah terjadi dengan penjualan musik dalam format piringan hitam (LP) dan kaset (music cassette/MC). Data itu memperlihatkan sejak tahun 1973 penjualan musik dalam format piringan hitam mendominasi dunia, tetapi sejak tahun 1983, dominasi piringan hitam mulai digeser oleh format kaset. Namun, pada tahun 1993  kejayaan format kaset mulai diambil alih oleh format kepingan CD hingga kemudian muncul format digital pada tahun 2005 yang pelan-pelan mulai menggusur keberadaan format CD.

Data dari Radjasa itu kemudian memperlihatkan setelah mencapai puncak kejayaannya pada tahun 1999, maka penjualan musik dalam format CD semakin merosot dan diperkirakan semakin menuju titik terendahnya pada tahun 2013. Sebaliknya, penjualan musik dengan format digital akan semakin meningkat dan diproyeksi akan melampaui penjualan musik dalam format CD pada tahun 2019.

Jadi, berbeda dengan abad 21 sekarang, musik rekaman pada abad sebelumnya selalu disajikan ke dalam bentuk fisik. Sebelum tahun 1970-an, dunia musik di Tanah Air menggunakan piringan hitam sebagai sarana untuk mengekspresikan musik. Lalu, muncul perangkat kaset, pita kaset, dan tape recorder sebagai media penyimpan data musik atau lagu. Pita kaset adalah pita magnetik yang mampu merekam data dengan format suara. Dari tahun 1970 sampai tahun 1990-an, kaset merupakan salah satu format media yang paling umum digunakan dalam industri musik.

Namun, seiring berkembangnya teknologi, pada pertengahan 1990-an, kaset mengalami masa-masa akhir kejayaannya di Indonesia. Masuknya teknologi compact disc (CD) ke Indonesia menyediakan alternatif baru dan lebih canggih bagi para penikmat musik rekaman. Kualitas suaranya yang lebih jernih dan pemilihan pemutaran lagu yang lebih mudah dan cepat menjadi beberapa kelebihan CD dibandingkan kaset. Pada tahun 2000-an, kaset pun makin tergencet oleh perkembangan CD. Perusahaan-perusahaan rekaman di Tanah Air telah menjadikan CD sebagai sarana rekaman musik.

Kini kemajuan teknologi kembali menunjukkan pengaruh besarnya kepada kehidupan manusia. Musik kini bisa direkam dalam format digital dan bisa disimpan dalam bentuk file. Industri musik pun banyak mengalami perubahan. Memang dampak negatifnya ada, seperti pembajakan musik yang nampak semakin menjadi-jadi karena begitu gampangnya file musik atau lagu dipindahtangankan tanpa menghormati hak penciptanya. Kemudian juga banyak toko penjualan CD musik tutup karena semakin banyak orang tak membeli CD musik karena lebih memilih memperoleh file digitalnya, baik secara legal maupun tidak.

 

RINI KURNIA SARI DAN FADJAR ADRIANTO

(redaksi@wartaekonomi.com)

Sumber: Warta Ekonomi No 15/2012

Recomended Reading

Kabar EkBis

20 Agustus 2014 - Properti

Dahlan Resmikan Proyek Besar PTPP

20 Agustus 2014 - Infrastruktur

Tekan Biaya Logistik, IKAL Dukung Tol Laut

Kabar Indonesia

20 Agustus 2014 - Politik

Dirut RNI: Intervensi Masih Kental di BUMN

20 Agustus 2014 - Politik

PDI-P: RAPBN 2015 Miskin Program Stimulus

Executive Brief

BI habiskan sekitar Rp 3 triliun per tahun untuk cetak uang kartal.

BI dorong Pemprov Jateng sosialisasikan transaksi nontunai.

Tri Herdianto: Keberadaan OJK arahkan industri keuangan untuk ikuti aturan hukum.

KSEI akan kerja sama dengan Bank Mandiri untuk sinergikan pasar modal dan perbankan.

Menkeu: :enaikan harga BBM bersubsidi dapat berikan ruang fiskal yang lebih ekspansif.

Enny Sri Hartati: RAPBN 2015 butuhkan terobosan fundamental oleh pemerintah baru.

PDI-P: RAPBN 2015 masih miskin program stimulus yang bermanfaat.

Menkeu: Alokasi dana desa yang ideal adalah Rp 64 triliun.

DJP gandeng Kepolisian RI untuk amankan penerimaan pajak 2014.

OJK: Pengembangan infrastruktur dan perbaikan peraturan perlu terus dilakukan.

Budi Gunadi optimis kinerja IHSG di BEI akan terus membaik.

Menkeu: Pemerintah dan DPR siap lakukan pembahasan RUU Redenominasi.

BI perluas sosialisasi tentang penggunaan alat pembayaran nontunai.

Faisal Basri harapkan pemerintahan baru naikkan rasio alokasi anggaran infrastruktur.

Menkeu: Penerbitan uang NKRI jadi momentum penggunaan rupiah dalam setiap transaksi.

RNI: Indonesia masih kekurangan SDM di bidang industri gula.

Undip: Pemerintah mendatang harus mampu tingkatkan efisiensi.

MS Hidayat harapkan staf Kemenperin terus tingkatkan kinerja secara optimal.

Ditjen Pajak keluarkan meterai tempel dengan desain baru.

Komisi Pemberantasan Korupsi meluncurkan KanalKPK TV yaitu siaran mengenai program pencegahan korupsi melalui siaran "streaming"

Entertainment & Life Style

18 Agustus 2014 - Olahraga

Sturridge Bawa Liverpool Raih Kemenangan