Market Indices

Pidato SBY: Ketidakpastian Ekonomi Global dan Berakhirnya Era Pangan Murah

Oleh Ihsan - Rubrik Ekonomi Bisnis

17 Agustus 2012 20:11:00 WIB

Menurut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, saat ini kita dihadapkan pada situasi ekonomi global yang masih diwarnai ketidakpastian. Krisis di Eropa terus berlanjut dan belum ada titik terangnya. Negara-negara maju umumnya mengalami stagnasi, bahkan resesi. Ekonomi negara-negara berkembang, juga mengalami perlambatan yang berarti. “Perekonomian global tahun ini, diperkirakan mengalami penurunan dari empat persen menjadi tiga setengah persen,” ujar SBY ketika menyampaikan Pidato Kenegaraan HUT Ke-67 Proklamasi Kemerdekaan RI di Depan Sidang Bersama DPR dan DPD RI.

Situasi ekonomi global, lanjut SBY, juga ditandai oleh belum menentunya proses transformasi politik di kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah. Ketegangan baru yang terjadi di kawasan itu, juga berpotensi menyebabkan naiknya harga minyak dunia. Sementara itu, di berbagai belahan dunia, banyak negara mengalami dampak negatif perubahan iklim. Kekeringan dan banjir sering menjadi ancaman terburuk, yang dapat mengakibatkan krisis pangan dan meningkatnya harga pangan dunia. “Kenaikan harga kedelai di pasar internasional misalnya, disebabkan oleh penurunan produksi yang drastis pada beberapa negara produsen utama kedelai,” tandasnya.

Bagaimana dengan kondisi dalam negeri?

Ada kebanggaan sedikit. “Masih segar dalam ingatan kita, 14 tahun yang lalu di tengah badai krisis yang amat berat, IMF datang memberikan pinjaman dengan persyaratan yang justru menambah sulit keadaan perekonomian kita. Kini, di saat ekonomi negeri kita terus tumbuh, IMF datang bukan untuk menawarkan pinjaman, tetapi untuk berkonsultasi dan bertukar pikiran dengan Indonesia dalam mengatasi krisis global yang terjadi saat ini,” jelas SBY.

“Alhamdulillah, saat ini negara kita tampil sebagai sebuah negara emerging economy, dan menjadi kekuatan ekonomi ke-16 dunia. Kita menjadi negara berpendapatan menengah, dengan tingkat kemiskinan dan pengangguran yang secara bertahap berhasil diturunkan. Kita harus yakin dan percaya, pada saatnya nanti, insya Allah kita menjadi negara yang kuat dan maju di Asia dan diperhitungkan dunia,” lanjutnya.

Kepala negara juga mengingatkan pentingnya untuk  terus memantau pergerakan dan tingginya harga minyak dunia. Tujuannya pasti, agar subsidi BBM tidak terus membengkak dan kita dapat melakukan langkah-langkah antisipasi. Kita harus mengambil langkah yang tidak merugikan rakyat. Pemerintah terus berupaya menyehatkan subsidi BBM melalui pembatasan dan penghematan, agar beban APBN dapat dikurangi secara bertahap. Dengan cara itu, alokasi subsidi BBM dapat digunakan untuk peningkatan pembangunan infrastruktur.

Pemerintah juga terus mencari, mengembangkan dan memanfaatkan energi baru dan terbarukan sebagai alternatif. Kecuali jika ada perubahan harga minyak mentah yang dramatis, yaitu meroketnya harga minyak itu, kita tidak begitu saja menaikkan harga BBM kita. Namun kita harus sungguh mencari solusi untuk kehematan penggunaan BBM, dan sehatnya APBN kita. “Sesungguhnya pemikiran untuk secara bertahap mengurangi subsidi BBM adalah semata-mata agar negeri kita dapat memiliki Ketahanan Energi di masa mendatang,” tegasnya.


Selain dinamisnya harga minyak dunia, harga pangan internasional menunjukkan pergerakan yang makin sulit diperkirakan. “Era pangan murah nampaknya telah berakhir,” tegas SBY. Tingginya harga pangan, diproyeksikan masih akan berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama. Karena itulah, kita harus menyediakan ketersediaan pangan yang memadai melalui optimalisasi sumber daya domestik. Kita harus dapat mengamankan penyediaan pangan pokok, utamanya beras. Target penetapan surplus beras 10 juta ton pada tahun 2014, meskipun memerlukan kerja keras kita semua harus dapat kita wujudkan. “Swa sembada pangan, harus kita perluas dan kita tingkatkan,” tekadnya.

(ihsan@wartaekonomi.com)

Foto: SY

Recomended Reading

Selasa, 15/04/2014 12:01 WIB

Bosan Macet, Warga Jakarta Tunggu MRT

Selasa, 15/04/2014 09:29 WIB

Wah, Ternyata Sebagian Pembeli Apartemen Mewah Australia WNI

Selasa, 15/04/2014 22:35 WIB

Jokowi Ogah Berkoalisi

Kabar EkBis

15 April 2014 - Infrastruktur

PLN Bangun Proyek CNG Rp 1,6 Triliun

15 April 2014 - Ekonomi Bisnis

Astra Otopart Bagi Dividen Rp402,477 Miliar

Kabar Indonesia

16 April 2014 - Politik

Jokowi: Petani Perlu Pendampingan

16 April 2014 - Politik

Prabowo Kunjungi Said Aqil

Executive Brief

Ekonom BNI: Ketidakpastian pasar uang berlangsung sampai Pilpres.

Adidas dan Chelsea luncurkan seragam tandang untuk musim 2014/15.

The Guardian Us dan The Washington Post raih Pulitzer Prize tahun ini.

Jokowi: Saya belum menemukan bakal cawapres yang tepat.

Jokowi: Bentuk kabinet kerja bukan kabinet politik

Bank Mutiara lakukan restrukturisasi kredit bermasalah Rp 135,8 M.

Selasa (15/4), saham Lorena dibuka Rp 895 atau melemah 5 poin dari harga IPO.

BEI: Aturan IPO sektor tambang segera dipatenkan.

BEI: APEX masuk dalam kategori saham tidak wajar.

Realisasi PMA dan PMDN akan tembus Rp 456 triliun tahun ini.

BPK temukan 10.996 kasus penyimpangan senilai Rp 13,96 triliun.

Gapkindo: Puluhan ribu ton karet gagal ekspor akibat mogok di Pelabuhan Belawan.

PBNU tentang wacana pembentukan poros baru parpol berbasis Islam.

Djayadi Hanan: PDI-P tak akan calonkan JK sebagai pendamping Jokowi.

Citilink catat tranksasi penjualan sebesar Rp 1,5 miliar dalam GITF 2014.

OJK keluarkan aturan konglomerasi keuangan pada Kuartal III 2014.

JPMorgan laporkan penurunan laba bersih kuartal I 2014 sebesar 19%.

Bank Agris akan lepas 20% sahamnya pada semester I 2014.

Intelijen Rusia: Pesawat MH370 dibajak teroris Afghanistan.

Pemprov Bali: Sepatu produk Bali beri devisa US$ 1,35 juta, Februari 2014.

Investasi pembangunan Sinarmas MSIG Tower capai Rp 1,5 triliun.

BPK: Audit elektronik merupakan pencegahan KKN secara sistemik.

Bank Mayapada akan terbitkan obligasi Rp 700 miliar pada Juli 2014.

Pemerintah akan terbitkan Saving Bonds Ritel Mei mendatang

Pemerintah lelang obligasi berjumlah indikatif Rp 8 T pada 15 April 2014.

Entertainment & Life Style

14 April 2014 - Entertainment & Life Style

Indosat Beri Penghargaan Legenda Sepak Bola Indonesia

14 April 2014 - Travel

Penumpang Kapal dari Bali Merosot