Market Indices

Kerawanan dan Potensi Krisis Ekonomi (I)

Oleh Hatta - Rubrik Ekonomi Bisnis

14 September 2012 10:02:00 WIB

Benarkah perekonomian kita cukup kuat menghadapi krisis global yang terus mengganas? Tidak ada jawaban yang pasti, karena krisis selalu mengandung unsure ketidakpastian. Tidak ada satu metode secanggih apapun mampu memprediksi ketidakpastian secara baik. Ketidakpastian tetaplah tidak pasti. Hal yang bisa dikaji adalah mendeteksi kerawanan (vulnerability) yang bisa dalam waktu cepat berubah menjadi kekacauan (volatility).

Dalam literature ilmu ekonomi memang dibedakan antara vulnerability dan volatility. Situasi yang sering kali terjadi selama ini, deteksi dini terjadi tatkala goncangan sudah terlanjur terjadi. Sistem peringatan dini (early warning system) umumnya hanya mampu mengidentifikasi gejolak, dan tidak menunjukkan indikasi kerawanan. Sehingga, ketika alarm berbunyi, sebenarnya semuanya sudah sangat terlambat; krisis sudah diambang pintu.

Berdasarkan asumsi tersebut, lebih penting mengidentifikasi kerawanan ketimbang memasang rambu-rambu terhadap gejolak. Karena jika kita bergerak ketika gejolak sudah terjadi, maka tidak banyak yang bisa diperbuat. Pada fase tersebut, yang  terjadi adalah bagaimana meminimalisasi kerusahan serta memitigasi krisis agar tidak meluas kemana-mana.

Maka dari itu, pertanyaan pokoknya bagi perekonomian kita sekarang: apa sajakah potensi kerawananperekonomian kita? Mengindentifikasi sumber-sumber kerawanan menjadi penting, karena dari situasi tersebutlah, bila ada faktor pemicunya, bisa bergerak sangat cepat menjadi goncangan besar atau yang kemudian disebut sebagai krisis.

 

Sektor Keuangan

Dalam sebuah konferensi pers pada pertemuan tingkat tinggi APEC, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan Indonesia mewaspadai gejolak yang terjadi di Vietnam. Negara ini memang tengah menghadapi masalah yang cukup besar di sektor perbankan mereka, sehingga kemungkinan membutuhkan talangan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk mengatasi kredit macet sekaligus stagnasi ekonomi yang berlarut-larut.

Diperkirakan membutuhkan sekitar US$12 juta untuk menginjeksi pasar keuangan Vietnam, agar bisa kembali berfungsi membangkitkan perekonomian yang tengah lesu. Apakah gejolak sektor keuangan Vietnam akan menjadi pemicu yang sama seperti krisis 1997/1998, sebagaimana krisis Thailand menimbulkan efek berantai hingga ke Indonesia?

Situasi 1997/1998 dan sekarang ini sangat berbeda. Pertama, sektor perbankan kita sedang dalam posisi yang sangat baik, justru setelah melewati krisis besar pada waktu itu. Dengan rata-rata Capital Adequacy Ratio (CAR) sekitar 16 persen, tingkat keuntungan yang relatif tinggi serta kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) yang relative rendah, sulit membayangkan perbankan kita akan menjadi “alat perantara”  (transmission) dari krisis, seperti terjadi pada 1997 lalu.

Pada 1997/1998, ada dua penyakit sangat mematikan pada perbankan kita Pertama, terjadi ketimpangan antara utang dalam bentuk dolar dengan pengembalian dalam bentuk rupiah (currency mismatch). Sebagian besar utang bank pada waktu itu dalam bentuk dolar, sementara pengembaliannya dalam bentuk rupiah. Akibatnya, ketika terjadi pelemahan nilai tukar secara tajam, utang-utang tersebut tak bisa dilunasi.

Kedua, terjadi ketimpangan dalam usia jatuh tempo (maturity mismatch). Selain berdenominasi dolar, utang-utang sebagian besar perbankan kita pada waktu itu berbentuk utang jangka pendek. Sementara, utang tersebut digunakan untuk membiayai proyek-proyek jangka panjang. Akibatnya, ketika mereka harus melunasi, bank kekeringan likuiditas. Itulah mengapa banyak bank kolaps, sehingga perlu bail-out dari otoritas bank sentral (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia/BLBI) serta pembentukan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

Situasi perbankan saat ini jauh sekali berbeda dengan situasi pada waktu itu. Sehingga, dari sisi perbankan tidak perlu banyak dikuatirkan. Memang ada situasi di mana investor asing mendominasi pasar saham dan pasar modal kita. Sebesar kurang lebih 60 persen investor di pasar modal kita adalah investor asing. Sementara di pasar obligasi investor asingnya sekitar 35 persen.

Jika terjadi gejolak, pastilah mereka keluar dari pasar keuangan domestik, sehingga akan menekan nilai tukar. Apalagi, di pasar keuangan berlaku prinsip “paradox of liquidity”. Artinya, likuiditas akan mengalir deras masuk (capital inflow) ke pasar keuangan negara berkembang, ketika situasi nyaman. Namun, ketika terjadi gejolak, mereka akan kembali ke negara maju, karena dianggap aman untuk menanamkan investasi portofionya. Sehingga, meskipun negara-negara maju mengalami penurunan peringkat utang, namun mereka masih dianggap sebagai surge bagi investasi (safe haven).

Namun begitu, ketika situasinya kembali tenang, modal-modal jangka pendek tersebut akan kembali masuk ke negara berkembang seperti Indonesia. Kita memiliki beberapa kelebihan, karena selain dinilai memiliki fundamental ekonomi yang relative baik, juga imbal hasil (yield) serta perolehan (gain) di pasar keuangan kita masih termasuk yang paling tinggi. Sehingga, mereka pasti akan kembali ke pasar keuangan kita. Gejolak terjadi secara temporer. (BERSAMBUNG)

 

A. Prasetyantoko

Pengamat Ekonomi & Dosen di Unika Atma Jaya, Jakarta

(redaksi@wartaekonomi.com)

Foto: SY

Recomended Reading

Berita Terkini

Jum'at, 11/07/2014 21:34 WIB

Jokowi-JK Menang Telak di Belanda

Jum'at, 11/07/2014 20:38 WIB

KPU: Survei Tidak Pengaruhi Hasil Pilpres

Jum'at, 11/07/2014 19:31 WIB

OJK Yakin Pergerakan Positif IHSG Dorong IPO

Jum'at, 11/07/2014 18:47 WIB

Putin Desak Israel Hentikan Kerusuhan Bersenjata

Jum'at, 11/07/2014 17:22 WIB

Antam Siap Ekspor Alumina Mulai Agustus

Jum'at, 11/07/2014 16:53 WIB

Pertamina Salurkan Biosolar ke SPBU di Riau

Jum'at, 11/07/2014 15:59 WIB

OJK: Kita Harus Tetap Pantau, Meski IHSG Tembus 5.000

Jum'at, 11/07/2014 15:44 WIB

Garuda akan Kembali Terbangi Rute Pekanbaru-Medan

Executive Brief

Telkomsel alami kenaikan trafik layanan data sekitar 17,37 persen.

KKP: Peningkatan kapasitas logistik melalui moda transportasi laut merupakan hal vital.

REI siapkan 30 rumah gratis untuk masyarakat berpenghasilan rendah.

Telkomsel dominasi iklan digital dengan pangsa pasar di atas 50 persen.

BI cermati potensi tekanan inflasi yang berasal dari pola musiman perayaan lebaran.

BI waspadai risiko perekonomian global dalam beberapa waktu mendatang.

BEI: Perbedaan hasil hitung cepat Pilpres 2014 tidak pengaruhi investor.

BI perkirakan Riau alami pertumbuhan ekonomi 3,71-4,71 persen pada triwulan II 2014.

BI catat laju inflasi di Sumatera Barat pada Juni 2014 masih dalam level terkendali. 

BNI siapkan dana tambahan Rp 14,4 triliun untuk penuhi kebutuhan uang tunai Lebaran 2014.

BNI: Pertumbuhan kredit konsumer pada 2015 dapat mencapai 17-18 persen.

OJK: Peserta calon direksi dan komisaris bank tidak lulus dalam tahap kompetensi.

Bank Muamalat targetkan pertumbuhan aset di Malaysia pada 2014 sebesar 30 persen.

Bank Muamalat optimis capai pertumbuhan sebesar 30 persen pada akhir 2014.

Fitch ingatkan pemerintahan baru Indonesia teruskan reformasi struktural.

Kunjungan ke pusat perbelanjaan mewah melonjak hingga 100 persen di Medan saat Pilpres.

Menko Polhukam minta kedua capres ajak pendukungnya untuk bersikap proporsional.

Pegadaian Wilayah Sumbagsel kembangkan produk pelayanan Multi Pembayaran Online.

Komisi Eropa perintahkan Latvia bayar denda 741.000 euro karena gagal tangani dana pertanian.

Menkeu: Pertumbuhan ekonomi tahun 2015 pada kisaran 5,5 persen-6,0 persen.

Entertainment & Life Style

08 Juli 2014 - Olahraga

Absennya Neymar Tidak Mudahkan Jerman

07 Juli 2014 - Entertainment & Life Style

Inilah Sembilan Fobia Seksual Teraneh yang Pernah Ada