Market Indices

Proyeksi Ekonomi 2013: Strategi Mencapai Pertumbuhan Ekonomi Sebesar 7 Persen *)

Oleh Cipto - Rubrik Nasional

10 Desember 2012 11:02:00 WIB

Pada 2011 lalu, berbagai kalangan menaruh pandangan yang optimistik terhadap prospek perekonomian 2012. Optimisme initidaklah berlebihan, karena sejak awal 2011 tanda-tanda kebangkitan ekonomi Amerika Serikat (AS) dari krisisnya yang dialaminya pada 2008 mulai terlihat. Seiring dengan adanya kebangkitan krisis ekonomi AS tersebut, ekonomi Indonesia 2011 lalu tumbuh cukup signifikan, yaitu sebesar 6,5 persen lebih tinggi dibanding tahun2009 dan 2010 masing-masing tumbuh sebesar 4,5 persen dan 6,1 persen.

Namun, ketika sampai di pertengahan 2012, krisis global ternyata belum sampai di ujungnya. Luasnya dimensi krisis ekonomi yang dialami Eropa sejak 2011 lalu, ternyata menimbulkan dampak global yang luar biasa di tahun 2012.Hingga kini, Eropa dihadapkan pada jebakan utang, kontraksi fiskal, sempitnya ruang kebijakan moneter, melambungnya tingkat pengangguran, merapuhnya bangunan sektor keuangan, serta merosotnya kepercayaan pasar. Dan seluruh problematika tersebut menyatu membentuk suatu lingkaran negatif (vicious circle) dalam pusaran krisis, yang menyandera Eropa untuk dapat keluar dari krisis berkepanjangan.

Sebagai dampak dari pelemahan krisis ekonomi Eropa tersebut, sejak pertengahan 2012, perekonomian beberapa negara emerging market terutama China mulai kehilangan tenaga. Pertumbuhan ekonomi China terus mengalami kemerosotan, yaitu dari tumbuh sebesar 11,9 persen pada triwulan I 2010 menjadi hanya 7,4 persen pada triwulan III 2012. Berdasarkan proyeksi yang dikeluarkan IMF pada Oktober 2012 lalu, pertumbuhan ekonomi global  selama 2012 diperkirakan mencapai sebesar 3,3 persen, lebih rendah dibandingkan dengan proyeksi yang dibuat pada Juli 2011 lalu sebesar 3,5 persen.

Seiring dengan melemahnya pertumbuhan ekonomi global, terutama China, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga terkena dampaknya. Namun, seiring dengan meningkatnya kemampuan domestik kita, pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak mengalami penurunan yang sedratis sebagaimana dialami oleh negara-negara lain. Terbukti, pada tahun 2012 ini, perekonomian Indonesia tetap mampu bergerak tumbuh dengan bertumpu pada kekuatan domestik (domestic demand), yaitu konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan Investasi. Sementara itu, sektor eksternal (ekspor netto) mengalami pelemahan seiring dengan perekonomian global.

Secara kumulatif, pertumbuhan PDB Indonesia hingga triwulan III-2012 dibandingkan dengan periode yangsama tahun 2011 (c-to-c) tumbuh sebesar 6,29 persen. Pertumbuhan PDB sampai dengan triwulan III-2012 dibandingkan periode yang sama tahun2011 (c-to-c) didorong oleh kenaikan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB atau Investasi) sebesar 10,77persen dan konsumsi Rumah Tangga sebesar 5,29 persen, dan konsumsi Pemerintah mengalami pertumbuhan sebesar 2,93 persen. Sementara itu,ekspor hanyamengalami pertumbuhan sebesar 2,21 persen sedangkan impor masih mengalami pertumbuhan yang relatif tinggi, yaitu sebesar 6,04 persen.

Realisasi pertumbuhan ekonomi selama 2012 diperkirakan akan berada di bawah target atau asumsi yang ditetapkan dalam APBN 2012 sebesar 6,7 persen dan APBN-P 2012 sebesar 6,5 persen. Dalam proyeksinya pada Oktober 2012 lalu, IMF memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2012 akan mencapai 6,3 persen, lebih tinggi dibandingkan proyeksi berdasarkan Konsensus sebesar 6,1 persen.

Outlook Ekonomi 2013

Menginjak tahun 2013, perekonomian negara maju akan memasuki era the new normal. The New normal ini adalah merupakan bentuk “keseimbangan baru”, sebuah era hasil koreksi terhadap penggelembungan ekonomi selama era emas “the great moderation” yang cukup panjang yaitu kurun waktu 2000-2007. Gelembung ekonomi yang semakin membesar tapi rapuh itu akhirnya pecah, terkoreksi melalui episode “Lehman Shock” di akhir 2008.Dalam era ini, terdapat dua risiko besar yang patut diwaspadai, yang apabila tidak mampu dimitigasi, dapat menambah kompleksitas dalam pengelolaan kebijakan makro Indonesia.

Pertama, risiko yang masih dapat mengemuka dari penanganan krisis Eropa. Kedua risiko jurang fiskal (fiscal cliff) di Amerika Serikat apabila tidak dicapai kompromi politik, atas pencegahan terhadap peningkatan pajak dan pemangkasan belanja anggaran.Dalam publikasinya edisi Oktober 2012, IMF mengingatkan bahwa kegagalan mengatasi kombinasi dua risiko global ini, akan menyeret kembali negara maju ke dalam pusaran resesi. Ekonomi global pun pada tahun 2013 hanya akan tumbuh 2,0 persen, dibandingkan skenario baseline 3,6%.

Pada tahun 2013, diperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan bertumpu pada kekuatan domestik. Berdasarkan proyeksi IMF pada Oktober 2012, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan mencapai 6,3 persen. Sementara itu, Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2013 berkisar antara 6,3 persen – 6,7 persen. Pertumbuhan ekonomi 2013 ini terutama ditopang oleh pertumbuhan yang berasal dari Investasi, Pengeluaran Pemerintah, dan Konsumsi Rumah Tangga.

Strategi Mencapai Pertumbuhan 7 Persen Per Tahun

Dalam dokumen RPJM 2010 – 2014, pemerintah berupaya untuk menjaga tingkat pertumbuhan ekonomi dalam lima tahun tersebut akan dijaga pada kisaran 6,3 persen-6,8 persen. Bahkan, bila pemulihan ekonomi global terjadi secara lebih cepat dan tidak terjadi gejolakekonomi baru, melalui strategi penguatan ekonomi domestik dan penguatan ekspor,maka pertumbuhan ekonomi rata-rata tersebut dapat dipacu lebih tinggi dan padaakhir periode lima tahun ke depan mencapai 7 persen atau lebih.

Melihat perkembangan saat ini, dimana gejolak krisis global ternyata masih terjadi, diperkirakan realisasi pertumbuhan ekonomi selama kurun waktu 2010 - 2014 atau yang dapat dicapai selama pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid Kedua adalah tetap berada di kisaran 6,3 persen – 6,8 persen. Sementara itu, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen per di tahun-tahun mendatang, Indonesia perlu melakukan berbagai upaya terobosan dengan memperbaiki beberapa faktor penting yang selama ini kinerjanya belum maksimal.

Secara teknis, Indonesia memiliki potensi untuk dapat tumbuh sebesar pertumbuhan potensial-nya yaitu 7 persen per tahun. The Indonesia Economic Intelligence (IEI) telah mengindentifikasi berbagai faktor yang dapat menjadi kunci untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi tersebut. Berdasarkan identifikasi tersebut, setidaknya terdapat empat faktor kunci yang perlu didorong untuk merealisasikan target pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen.

Pertama, berdasarkan estimasi BankIndonesia (2011) pertumbuhan potensial perekonomian Indonesia berada pada tingkat7,0%, apabila ditopang pertumbuhan investasi minimal 12,0% setiap tahun. Sayangnya, berdasarkan perhitungan IEI, sejak tahun 2001 sampai dengan tahun 2011, rata-rata pertumbuhan investasi hanya mencapai sebesar 7,4%. Untuk mencapai pertumbuhan investasi sebesar 12 persen tersebut diperlukan alokasi belanja modal pemerintah serta peran investasi swastayang lebih besar.
 
Namun demikian, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi sekaligus berkesinambungan terdapatdua pra-kondisi yang harus dipenuhi. Pertama, adanya elemen kontinuitasberupa lingkungan makroekonomi yang kondusif. Kedua, adanya pertumbuhan akumulasi capital dan produktivitas (total factor productivity) sebagai elemenstruktural agar perekonomiandapat meningkatkan kapasitasnya dan berdayasaing. Pertambahan akumulasi kapital dapat tercapai melalui peningkataninvestasi, baik berupa mesin, bangunan pabrik, termasuk juga investasi yangbersifat intangible seperti riset dan pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM).

Kedua, dibutuhkan pertumbuhan produktivitas tenaga kerja sebesar 60 persen dari tingkat produktivitas tenaga kerja saat ini. Indonesia menghadapi tuntutan produktivitas. Menurut McKinsey (2012) menyebutkan bahwa perekonomian telah mencapai kinerja yang cukup baik dalam hal produktivitas tenaga kerja, yang menyumbang lebih dari 60 persen terhadap pertumbuhan ekonomi selama dua dasawarsa terakhir, sementara sisanya disumbang oleh pertumbuhan dalam jumlah angkatan kerja.

Faktor produktivitas tenaga kerja selama 2000-2010 menghasilkan pertumbuhan ekonomi rata-rata 2,9 persen per tahun. Namun, Indonesia perlu meningkatkan pertumbuhan produktivitasnya sebesar 60 persen dari angka yang dicapai saat ini, atau mencapai 4,6 persen per tahun,  agar perekonomian dapat mencapai target pertumbuhan PDB tahunan sebesar 7 persen.

Ketiga, dibutuhkan pertumbuhan di atas 7 persen untuk sektor manufaktur, atau dengan menaikkan kinerja sektor manufaktur seperti level sebelum terjadikrisis ekonomi 1997/1998. Disamping itu, perlu Indonesia memacu peningkatan kinerja sektor pertanian dan pertambangannya yang hingga saat ini pertumbuhannya masih di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi secara nasional (PDB).

Perlu diketahui, sejak krisis 1997/98, laju pertumbuhan sektor manufaktur cenderung melemah dan berada di bawah laju pertumbuhan ekonomi nasional. Padahal, sebelum krisis 1997/1998, kinerja sektor manufaktur mencapai pertumbuhan di atas 7% per tahun. Pertumbuhan sektor manufaktur saat ini terlalu lambat, sehingga penyerapan tenaga kerja di sektor ini relatif kecil. Akibatnya, pengurangan jumlah orang miskin menjadi lebih lambat dibandingkan dengan periode sebelum krisis.

Disamping itu, perlu Indonesia memacu peningkatan kinerja sektor pertanian dan pertambangannya yang hingga saat ini pertumbuhannya masih di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi secara nasional (PDB). Rata-rata pertumbuhan sektor pertanian, pertambangan, dan manufaktur selama 2001-2011 masing-masing sebesar 3,42 persen, 1,11 persen, dan 4,60 persen. Sedangkan rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional (PDB) selama 2001-2011 sebesar 5,33 persen.

Keempat, mendorong pertumbuhan ekonomi daerah lebih agresif melalui percepatan realisasi APBD & Investasi. Saat ini, telah bermunculan sentra-sentra pertumbuhan ekonomi baru, khususnya di luar Jawa, yang kini menjadi salah satu penopang penting tetap tercapainya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi. Beberapa daerah bahkan memiliki pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional. Sayangnya, daerah-daerah atau sentra-sentra pertumbuhan “baru” tersebut masih memiliki problem dengan rendahnya realisasi APBD.

Di sisi lain, daerah-daerah atau sentra-sentra pertumbuhan “baru” tersebut, belum menjadi tujuan investasi utama di Indonesia. Berdasarkan data UKP4, hingga triwulan III 2012, realisasi APBD baru mencapai 41,30 persen. Sementara itu, pada 2011, sebesar 60,20 persen investasi masih terkonsentrasi di Jawa dan sebesar 83,90 persen terkonsentrasi di Jawa dan Sumatera.

*) Sunarsip
Chief Economist, The Indonesia Economic Intelligence

Recomended Reading

Executive Brief

Bank Mandiri luncurkan layanan mikro terpadu bernama Layanan Mandiri Mikro Sejahtera.

OJK akan terus dorong layanan jasa keuangan mikro terpadu.

Firmanzah prediksi pada satu tahun ke depan perekonomian Indonesia alami sejumlah tantangan.

Bank Mandiri targetkan penurunan tingkat kredit bermasalah.

KPPU antisipasi potensi terjadinya tindakan kartel dalam penurunan suku bunga deposito.

Menkeu: APBN 2015 disusun penuh kehati-hatian untuk hadapi potensi risiko perekonomian global.

Bank QNB Kesawan komitmen dukung perkembangan sektor perbankan dan keuangan Indonesia.

Sharif Sutardjo ajak dunia internasional berikan perhatian terhadap sumber daya kelautan.

Hipmi sarankan pelaku UKM di Riau buat kemasan produk yang bagus.

ADB setujui program pinjaman 400 juta dolar AS untuk bantu Indonesia perbaiki iklim investasi.

ASEAN diminta untuk belajar dari kegagalan Masyarakat Ekonomi Eropa yang terapkan euro.

Dinar dan dirham dinilai paling ideal untuk menjadi mata uang tunggal ASEAN.

Perbanas: Konsolidasi perbankan akan mampu hasilkan bank yang lebih kuat.

Garuda Indonesia hapus airport tax mulai bulan Oktober 2014.

Kemendag buka peluang usaha bagi TKI di Taiwan.

Entertainment & Life Style

28 September 2014 - Entertainment & Life Style

Hati-hati! Tidur dengan Lampu Terang Bisa Berdampak Serius bagi Kesehatan

28 September 2014 - Entertainment & Life Style

Inilah Tiga Hal yang Disembunyikan Wanita Terkait Seks