Market Indices

Kunci Keberhasilan Pembangunan Negara-Negara Berkembang (Bagian I)

Oleh Hatta - Rubrik Ekonomi Bisnis

16 Desember 2012 14:02:00 WIB

Lembaga-lembaga politik pada akhirnya bukanlah penggerak utama atau satu-satunya yang menentukan tingkat pertumbuhan suatu negara. Banyak faktor lain, seperti geopolitik, penemuan teknologi, dan sumber daya alam yang juga berperan besar.

Selama ini, kemajuan ekonomi suatu negara banyak diklaim sebagai akibat keberadaan  lembaga-lembaga politik "inklusif" berbasis sistem pluralistik yang melindungi hak-hak individu. Hal ini, pada gilirannya diklaim membantu terbentuknya lembaga ekonomi yang inklusif, yang mengamankan hak milik pribadi dan mendorong kewirausahaan. Hasilnya dalam jangka panjang adalah tingkat pendapatan yang lebih tinggi dan peningkatan kesejahteraan rakyat secara umum.

Logikanya, pembangunan ekonomi tergantung pada adanya inovasi penemuan-penemuan baru (seperti mesin uap, yang membantu mulainya Revolusi Industri) dan penemuan yang dihasilkan dari kegiatan penelitian dan pengembangan, untuk kemudian didistribusikan secara luas. Kegiatan tersebut terjadi hanya ketika seorang penemu dapat mengharapkan untuk menuai manfaat ekonomi dari pekerjaan mereka. Motif keuntungan juga mendorong terjadinya difusi, saat perusahaan bersaing untuk menyebarkan manfaat dari penemuan tersebut ke populasi pasar yang lebih luas. Hambatan terbesar untuk proses ini adalah kepentingan pribadi penguasa despotik, yang takut bahwa kelas menengah yang makmur dapat merusak kelanggengan kekuasaan mereka (karena menuntut peran serta lebih besar dalam proses politik), atau pemilik teknologi lama, yang ingin tetap bertahan dalam bisnis tanpa melakukan investasi baru. Seringkali, kedua kelompok ini memiliki identitas personal yang sama.

Hanya saja, meskipun politik dalam negeri dapat mendorong atau menghambat pertumbuhan ekonomi suatu negara, banyak faktor lain, seperti geopolitik, penemuan teknologi, dan sumber daya alam yang juga berperan besar. Lembaga-lembaga politik pada akhirnya bukanlah penggerak utama atau satu-satunya yang menentukan tingkat pertumbuhan suatu negara. Ketidaktepatan dalam memetakan hubungan antara politik, inovasi teknologi, geografi maupun faktor alam dengan pertumbuhan ekonomi akan mempersulit penjelasan mengapa negara-negara tertentu mengalami pertumbuhan, sementara yang lain tidak. Dan, model yang dihasilkan tidak akan dapat dipercaya untuk memprediksi perkembangan ekonomi.

Dari tahun 1980 hingga sekarang, ada sejumlah negara berkembang dengan pemerintah tidak demokratis dan sangat korup yang dapat tumbuh lebih cepat dari negara-negara miskin dengan pemerintah demokratis dan kurang korup. Demokrasi banyak yang gagal sebagai akibat dari memburuknya ekonomi. Sebaliknya, ada beberapa rezim otoriter berubah menjadi lebih inklusif dan demokratis sebagai akibat dari kemajuan ekonomi mereka.

 

Difusi Teknologi

Politik memang penting dan pemerintah yang buruk dapat membunuh pembangunan. Namun, kunci untuk memahami keberhasilan pembangunan adalah untuk tetap terbuka akan kompleksitas sebenarnya dari proses global inovasi dan difusi serta segudang alternatif pola hubungan antara faktor politik, geografi, ekonomi, dan budaya yang membentuk arus mengalirnya teknologi di seluruh dunia.

Untuk pembangunan, difusi suatu penemuan (teknologi) seringkali lebih berkontribusi terhadap kemajuan ekonomi negara-negara terbelakang daripada tindakan penemuan itu sendiri. Penguasa otoriter seringkali berhasil mempromosikan masuknya teknologi asing. Sebuah masyarakat tanpa hak-hak sipil, politik, dan properti mungkin memang sulit untuk menghasilkan inovasi sendiri di luar sektor militer, tetapi seringkali lebih mudah diarahkan untuk mengadopsi teknologi yang telah dikembangkan di tempat lain. Pikirkan ponsel. Diciptakan di Amerika Serikat, namun dengan cepat menyebar ke seluruh dunia, baik untuk negara demokrasi maupun bukan. Mereka bahkan telah merambah Somalia, sebuah negara yang tidak memiliki pemerintah nasional atau hukum yang jelas, tetapi memiliki industri layanan seluler yang sangat kompetitif.

Pada kenyataannya, sebagian besar lompatan ekonomi negara-negara terbelakang bukanlah hasil dari inovasi teknologi dalam negeri, tetapi adaptasi arus teknologi dari luar negeri, yang pada gilirannya seringkali dibiayai oleh penerimaan ekspor dari sumber daya alam dan upah rendah tenaga kerja industri. Cina tidak menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat dalam sejarah setelah tahun 1980 berkat penemuan dalam negeri, melainkan karena cepat mengadopsi teknologi yang diciptakan di tempat lain. Dan, tidak seperti Uni Soviet, Cina tidak berusaha untuk mengembangkan sistem teknologi sendiri dalam persaingan dengan Barat. Cina mengintegrasikan sistem manufaktur lokal ke dalam sistem teknologi produksi global. Cina kemungkinan akan menjadi sumber inovator penting di masa depan, tetapi inovasi belum menjadi kunci untuk 30 tahun terakhir pertumbuhan pesat negara ini.

Terlebih lagi, lembaga-lembaga politik otoriter, seperti yang berlaku di Cina, kadang-kadang justru dapat mempercepat, bukannya menghambat, arus masuk teknologi. Cina telah membuktikan diri sangat efektif dalam membangun infrastruktur besar dan kompleks (seperti pelabuhan, kereta api, jaringan kabel serat optik, dan jalan raya) yang melengkapi modal industri. Dan, infrastruktur kemudian menarik datangnya sektor swasta asing yang membawa modal dan teknologi. Lalu, tidak seperti pemerintahan yang inklusif, rezim otoriter sering berinovasi dalam sektor militer yang manfaatnya kemudian tumpah ke dalam ekonomi sipil. Di Korea Selatan dan Taiwan, misalnya, investasi publik dalam teknologi militer telah membantu meletakkan benih berkembangnya teknologi sipil. (BERSAMBUNG)

 

 

R. Nugroho Purwantoro

Penulis adalah Peneliti Lembaga Management Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

(redaksi@wartaekonomi.com)

Sumber: Warta Ekonomi No 22/2012

Foto: sufri yuliardi

Recomended Reading

Berita Terkini

Selasa, 29/07/2014 13:28 WIB

Mantan Menag: Sistem Syariah Sedang 'Booming'

Selasa, 29/07/2014 13:28 WIB

Mantan Menag: Sistem Syariah Sedang 'Booming'

Selasa, 29/07/2014 13:09 WIB

BJB Bukukan Laba Bersih Rp478M

Selasa, 29/07/2014 12:01 WIB

Puncak Arus Balik di Soekarno-Hatta Minggu

Selasa, 29/07/2014 11:29 WIB

Gema Takbir di 'Negeri Drakula'

Selasa, 29/07/2014 11:07 WIB

Mahasiswa Unpad Meriahkan Festival Folklore di Bulgaria

Selasa, 29/07/2014 10:32 WIB

Bentrokan Bersenjata Panaskan Ibukota Libya

Selasa, 29/07/2014 10:02 WIB

Presiden Brazil Kutuk 'Pembantaian' Gaza

Kabar Indonesia

28 Juli 2014 - Nasional

Saat Politisi Bersilaturahim (II)

28 Juli 2014 - Nasional

Saat Politisi Bersilaturahim (I)

Executive Brief

Mahyudin: Partai Golkar sangat siap untuk jadi oposisi.

Tim hukum Prabowo-Hatta: Ada indikasi politik uang yang dilakukan timses Jokowi-JK.

Mahyudin katakan ARB berpeluang besar untuk kembali pimpin Partai Golkar.

Devisa hasil perkebunan Bali tembus angka satu juta dolar AS selama Januari-Mei 2014.

TPID Jember prediksi inflasi pada bulan Juli 2014 di wilayah setempat capai 0,86 persen.

Pelni dapat Rp 7 miliar dari Kemenhub untuk angkut gratis pemudik sepeda motor.

DPRD Kalsel perkirakan Bank Kalsel bisa jadi regional champion dalam dunia perbankan.

Wali Kota Yogyakarta minta wisatawan Malioboro taati peraturan lalu lintas.

Recommended Reading

Selasa, 29/07/2014 12:01 WIB

Puncak Arus Balik di Soekarno-Hatta Minggu

Selasa, 29/07/2014 08:06 WIB

Enam Alasan Memilih Berinvetasi Reksadana

Minggu, 27/07/2014 21:51 WIB

MK Berjanji Netral Sidangkan Sengketa Pilpres 2014

Minggu, 27/07/2014 18:57 WIB

Kadin: Peran Atase Perdagangan Perlu Lebih Efektif

Minggu, 27/07/2014 16:14 WIB

Kadin Inginkan Percepatan Realisasi Infrastruktur yang Tertunda

Minggu, 27/07/2014 15:43 WIB

BI: Kredit Perbankan Sulut Tumbuh 11,76 Persen pada 2014

Sabtu, 26/07/2014 14:01 WIB

Beredar Website Palsu Bank Indonesia

Sabtu, 26/07/2014 04:05 WIB

BEI Tetapkan 28 Juli-1 Agustus Libur Bursa

Entertainment & Life Style

27 Juli 2014 - Entertainment & Life Style

Sebelum Menu Utama, Yuk "Foreplay" Dahulu!

27 Juli 2014 - Entertainment & Life Style

Mudik Nyaman Ala Atalia Kamil

27 Juli 2014 - Entertainment & Life Style

Broadband di Kapal, Telkomsel: Ini Sejarah Baru