Market Indices

Pernikahan Konglomerat: Cinta atau Bisnis? (Bagian II)

Oleh Hatta - Rubrik Ekonomi Bisnis

16 Desember 2012 17:02:00 WIB

Tahun 2012, resepsi pernikahan spektakuler antar anggota keluarga inti konglomerat banyak dilakukan. Melihat fenomena pernikahan generasi penerus konglomerasi itu, sebuah pertanyaan pun muncul: apakah perkawinan konglomerat ini memang semata-mata merupakan kisah kasih kedua mempelai yang berlanjut ke jenjang pelaminan ataukah ada juga tujuan bisnisnya, terutama untuk beraliansi atau menggabungkan bisnis mereka?

James T. Riady, CEO Grup Lippo, membantah perkawinan kedua puterinya itu juga merupakan perkawinan bisnis. “Tujuannya bukan untuk penggabungan bisnis. Tujuannya memang untuk pernikahan antara dua anak muda yang saling mengasihi,” ujarnya kepada Warta Ekonomi. Namun, keluarganya juga tidak melarang bila kemudian antara keduanya kemudian menjalin aliansi bisnis ke depannya. “Semua kemungkinan terbuka,” terangnya.

Kemungkinan terjadi aliansi bisnis antara dua konglomerasi memang terbuka ketika anggota keluarga inti dari dua konglomerasi itu menikah. Selain jaringan relasi bisnis bertambah luas, kemitraan strategis antara kedua kelompok usaha yang berbeda bisa terjadi. Hubungan keluarga lantas juga menjadi hubungan bisnis.

Hal ini setidaknya terlihat dari pernikahan Martin B. Hartono dengan Grace L. Katuari. Martin adalah putera dari R. Budi Hartono, pemimpin Grup Djarum, sementara Grace adalah puteri dari Eddy William Katuari, pemimpin Grup Wings. Kebetulan atau tidak, selain terjadi hubungan keluarga karena pernikahan itu, Grup Djarum juga melakukan kolaborasi dengan Grup Wings di sejumlah proyek prestisius. Tahun 2000, Grup Wings bergabung dalam konsorsium bersama Grup Lautan Luas dan Grup Djarum untuk membeli PT Ecogreen Oleochemicals, salah satu perusahaan produsen oleokimia terbesar di dunia yang memproduksi bahan baku industri perawatan tubuh, sabun, detergen, makanan, plastik, farmasi, dan sebagainya. Disamping itu, kerjasama Grup Wings dan Grup Djarum juga terjadi di bidang properti. Atas nama PT Nagaraja Lestari, keduanya bekerja sama membangun proyek properti ritel komersial Pulogadung Trade Center.

Menurut pengamat bisnis keluarga Patricia Sutanto, CEO The Jakarta Consulting Group, aliansi bisnis antara dua konglomerasi karena hubungan pernikahan memang sangat mungkin terjadi. Itu tergantung kecocokan dan kerukunan kedua keluarga konglomerat tersebut. Patricia menilai fenomena pernikahan antara dua anggota keluarga super kaya alamiah terjadi karena mereka memiliki lingkungan pergaulan yang sama. “Mereka berlatar belakang sama dan berada di tingkat sosial ekonomi yang sama sehingga mereka pun bergaul di tempat yang sama pula, lalu sering bertemu, hingga menemukan kecocokan atau kesamaan untuk kemudian mereka memutuskan menikah. Jadi, sulit dikatakan bahwa mereka menikah karena dijodohkan,” terangnya.

Akan tetapi, Patricia mengingatkan ada konsekuensi lain yang harus diperhatikan ketika dua konglomerasi terjalin hubungan keluarga karena pernikahan, yaitu masalah konflik kepentingan.”Mereka harus menjaga atau memagari agar tidak terjadi konflik kepentingan di bisnisnya,” tandas Patricia. Contohnya, bila kedua keluarga konglomerat itu sama-sama terjun di bisnis properti, bukan tidak mungkin perusahaan mereka bersaing satu sama lain di dalam mendapatkan sebuah proyek properti prestisius.

Kesulitan yang mereka hadapi kemudian adalah, pertama,  bagaimana menjaga informasi strategi bisnis perusahaan masing-masing yang berbeda satu sama lain agar tidak diketahui pesaing, walaupun mereka telah menikah. Kedua, bagaimana mengarahkan para eksekutif profesionalnya untuk tidak “bertabrakan” dengan perusahaan milik keluarga isteri atau suaminya. “Ini tentu menyulitkan eksekutif profesionalnya karena tugas mereka adalah mengembangkan bisnis,” papar Patricia.

Persoalan lain adalah bagaimana mengarahkan pilihan anak-anak mereka kelak sebagai hasil pernikahan antara dua anggota keluarga konglomerat yang berbeda. “Masalah ini mungkin sekarang belum muncul, tetapi ketika cucu atau cicit mereka telah dewasa, mereka akan dihadapkan pada masalah ini, apakah ikut bergabung di konglomerasi ayahnya atau ibunya atau apakah memilih berbisnis sendiri atau bahkan memutuskan tidak ikut berbisnis sama sekali. Ini pilihan yang sulit bagi mereka,” pungkas Patricia.

Soal konflik kepentingan ini nampaknya memang harus diwaspadai.  Sebab, tak semua pernikahan konglomerat dalam perjalanannya kemudian dapat berjalan harmonis.  Beberapa pernikahan generasi muda konglomerat saat ini disebut-sebut mengalami keretakan hingga kemudian berujung pada perpisahan. Hal semacam ini tentu tak diinginkan keluarga besar para taipan. Karena, bagaimanapun, kelanggengan bisnis konglomerasi yang mereka rintis dan besarkan pada masa depan tergantung dari tingkah laku generasi penerusnya.

 

Fadjar Adrianto dan M. Ihsan

(redaksi@wartaekonomi.com)

Sumber:Warta Ekonomi No 21/2012

Foto: investor.co.id

Recomended Reading

Executive Brief

BRI raup laba sebesar Rp 11,72 triliun pada semester pertama tahun 2014.

CT minta para pelaku pasar tetap tenang dan tidak ambil langkah spekulatif.

BRI akan konsolidasikan BRI Agro dengan Bank Mutiara.

Eko Budihardjo meninggal dunia pada Selasa (22/7) pukul 21.30 WIB.

Sesuai Keppres No 36/TNI/2014 telah ditetapkan Letjen TNI Gatot Nurmantyo sebagai Kasad.

BRI cari pinjaman valas kepada enam bank asing sebesar 350-400 juta dolar AS.

Garuda Indonesia siapkan 9.950 kursi tambahan untuk hadapi lebaran.

Menko Perekonomian: Segala transaksi keuangan di Pelabuhan Tanjung Priok wajib gunakan rupiah.

Garuda Pekanbaru siapkan 31.104 kursi untuk angkut penumpang rute Jakarta-Pekanbaru.

Entertainment & Life Style

19 Juli 2014 - Entertainment & Life Style

Lenovo Mini Notebook E10, Dijual Eksklusif Di Carrefour

18 Juli 2014 - Entertainment & Life Style

Lima Kegiatan Ini Bisa Buat Hubungan Anda Kembali Romantis

15 Juli 2014 - Entertainment & Life Style

Apel Bantu Tingkatkan Kenikmatan Seksual Wanita