Market Indices

Geliat Investasi Kakao di Lampung (Bagian I)

Oleh Hatta - Rubrik Daerah

31 Desember 2012 07:17:00 WIB

Provinsi Lampung berusaha meningkatkan kualitas dan kuantitas kakao serta taraf hidup petani kakao bermitra dengan raksasa industri cokelat Petra Foods. 

Kakao merupakan salah satu komoditas andalan nasional. Ia berperan penting dalam perekonomian Indonesia, terutama dalam penyediaan lapangan kerja, sumber pendapatan petani, dan sumber devisa bagi negara. Agrobisnis kakao dan agroindustri kakao perlu terus didorong perkembangannya karena apabila kakao dikelola menjadi produk jadi akan menghasilkan nilai tambah (value added) yang tinggi.

Indonesia merupakan negara penghasil kakao ketiga terbesar di dunia dengan produksi yang terus tumbuh sebesar 3,5% per tahun. Data International Cocoa Organization (ICCO) menyebutkan Indonesia mampu memproduksi 450.000 ton kakao pada 2011. Indonesia menyumbang sekitar 11% dari produksi kakao secara global. Namun, jumlah tersebut masih kalah dari Pantai Gading dan Ghana yang memproduksi 1.668 ton dan 860 ton pada 2011. Pangsa produksi kedua negara Afrika tersebut sebesar 54,23% dan 27,96% terhadap produksi kakao secara global.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI Gamal Nasir mengatakan Indonesia masih pemasok utama kebutuhan biji kakao dunia hingga kini. “Komoditas kakao menjadi salah satu komoditas unggulan perkebunan nasional,” tegas Gamal Nasir. Posisi Indonesia sebagai negara penghasil kakao terbesar ketiga dunia juga memberikan keuntungan bagi beberapa daerah penghasil kakao di Indonesia, terutama Provinsi Lampung.

Komoditas Unggulan Lampung

Kakao merupakan komoditas unggulan daerah Lampung, di samping hasil perkebunan lainnya seperti kopi, sawit, dan lada. Pada 2011 produksi kakao Lampung mencapai 3.692 ton. Dari jumlah tersebut, 24 ton (0,65%) dihasilkan dari perkebunan negara, sedangkan selebihnya, sebesar 3.668 ton (99,35%), dari  perkebunan swasta.

Seperti disitat dari lampung.bps.go.id, rata-rata penambahan luas area tanaman kakao di Provinsi Lampung mencapai 7% tiap tahunnya. Tahun ini saja,  luas area tanaman kakao di Provinsi Lampung sebesar 45.912 hektare. Hal ini sangat berpengaruh terhadap pasokan produksi kakao baik untuk pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri. Kakao tersebut banyak dipasok dari Kabupaten Lampung Selatan, Pesawaran, dan Lampung Timur.

Komoditas kakao juga merupakan salah satu penyumbang devisa yang cukup besar bagi Lampung. Ekspor kakao Lampung pada Januari 2012 sebesar 2.514 ton dengan nilai US$6,074 juta atau naik dibandingkan ekspor Desember 2011 yang sebanyak 1.725 ton senilai US$4,415 juta. “Negara tujuan utama ekspor kakao Lampung itu India dan Malaysia. Ada enam perusahaan yang bergerak pada bidang kakao di Provinsi Lampung,” kata Kepala Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Lampung Ardhy Wijaya.

Pada 2012, ekspor kakao Lampung ke India mencatat volume dan nilai yang cukup besar, yakni 2.311 ton senilai US$5,616 juta. Sementara itu, ekspor ke Malaysia mencapai 203,20 ton dengan nilai US$457.510. Pada periode 2007 hingga 2011, pertumbuhan ekspor komoditas kakao selalu mengalami peningkatan tiap tahunnya dengan rata-rata pertumbuhan nilai ekspor sebesar US$204,90 juta dan volume 77,400 ton (dikutip dari lampung.bps.go.id).

Namun, Ardhy Wijaya menambahkan harga beli kakao dari petani saat ini hanya Rp13.000 per kilogram, sedangkan pekan sebelumnya harganya Rp13.500 per kilogram. Hal ini disebabkan rendahnya kualitas komoditas tersebut dan banyak pengekspor yang enggan membelinya dalam jumlah besar. “Banyak petani kakao melakukan panen lebih awal, karena takut jika terlalu lama di pohon kualitasnya akan buruk dan dimakan hama,” katanya. (BERSAMBUNG)

 


Alnisa S.R

(redaksi@wartaekonomi.com)

Sumber: Warta Ekonomi No 23/2012

Foto: blogspot.com

Kabar EkBis

30 September 2014 - Ekonomi Bisnis

Kadin: Pacu Sektor Jasa untuk Hadapi MEA

30 September 2014 - Ekonomi Bisnis

Bali Siapkan Gerbangsadu untuk Hadapi MEA

30 September 2014 - Ekonomi Bisnis

Apindo: Hadapi MEA dengan Standardisasi Mutu Produk

Executive Brief

Citi Indonesia salurkan dana sebesar Rp 10,9 miliar kepada lima lembaga mitra.

OJK: Kebijakan pembatasan suku bunga dana bank tidak akan buat bank kesulitan likuiditas.

OJK jajaki kerja sama dengan Kemendagri untuk lakukan pengawasan lembaga keuangan mikro.

Panin Sekuritas optimis kinerja pada 2014 membukukan hasil positif.

OJK kaji definsi baru untuk keberadaan bank asing di Indonesia.

Bank Mandiri luncurkan layanan mikro terpadu bernama Layanan Mandiri Mikro Sejahtera.

OJK akan terus dorong layanan jasa keuangan mikro terpadu.

Firmanzah prediksi pada satu tahun ke depan perekonomian Indonesia alami sejumlah tantangan.

Bank Mandiri targetkan penurunan tingkat kredit bermasalah.

KPPU antisipasi potensi terjadinya tindakan kartel dalam penurunan suku bunga deposito.

Menkeu: APBN 2015 disusun penuh kehati-hatian untuk hadapi potensi risiko perekonomian global.

Bank QNB Kesawan komitmen dukung perkembangan sektor perbankan dan keuangan Indonesia.

Sharif Sutardjo ajak dunia internasional berikan perhatian terhadap sumber daya kelautan.

Hipmi sarankan pelaku UKM di Riau buat kemasan produk yang bagus.

ADB setujui program pinjaman 400 juta dolar AS untuk bantu Indonesia perbaiki iklim investasi.

ASEAN diminta untuk belajar dari kegagalan Masyarakat Ekonomi Eropa yang terapkan euro.

Dinar dan dirham dinilai paling ideal untuk menjadi mata uang tunggal ASEAN.

Perbanas: Konsolidasi perbankan akan mampu hasilkan bank yang lebih kuat.

Garuda Indonesia hapus airport tax mulai bulan Oktober 2014.

Kemendag buka peluang usaha bagi TKI di Taiwan.

Entertainment & Life Style

29 September 2014 - Entertainment & Life Style

Wanita Sering Bayangkan 10 Fantasi Seks Ini

29 September 2014 - Olahraga

Benitez Lega Napoli Mampu Kalahkan Sassuolo

28 September 2014 - Entertainment & Life Style

Hati-hati! Tidur dengan Lampu Terang Bisa Berdampak Serius bagi Kesehatan

28 September 2014 - Entertainment & Life Style

Inilah Tiga Hal yang Disembunyikan Wanita Terkait Seks