Market Indices

Bappenas : Inflasi dan Pengangguran Indonesia masih On Track

Oleh Jafei - Rubrik Ekonomi Bisnis

02 April 2013 18:40:00 WIB

Saat ini, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyusun RKP (Rencana Kerja Pemerintah) yang memuat antaralain: Prioritas pembangunan nasional, rancangan ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal serta program kementerian/lembaga, lintas kementerian/lembaga, kewilayahan dalam bentuk kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. Hal ini disampaikan oleh Deputi EKP (Evaluasi Kinerja Pembangunan), Edi Effendi Tedjakusuma dalam acara pemaparan persiapan penyusunan RKP 2014 (2/4) di Jakarta.

Edi menambahkan tahun ini pembahasan RKP 2014 untuk RPJMN (Rencana Pemerintah Jangka Menengah Nasional) yang akan menjadi masukan keberlangsungan program pemerintah/kementerian pada tahun 2014. Selain itu, Bappenas juga memaparkan perkembangan pembangunan nasional dalam dua pencapaian tahun lalu  yakni kelompok sudah tercapai (on track) dan perlu kerja keras. Pada kelompok on track  meliputi perkembangan tingkat inflasi Indonesia tahun 2012 yang relatif stabil dari target RPJMN kisaran 4,6-6persen dengan realisasi  tingkat inflasi hanya sebesar 4,3persen. “Selanjutnya yang masih on track yakni perkembangan tingkat  pengangguran dari target RPJMN sebesar 6,7-7persen dengan realisasi pencapaian 6,14persen pada bulan agustus tahun 2012” ungkapnya.

Sementara itu, pada kelompok pencapaian perlu kerja keras meliputi pada tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2012 yang masih fluktuatif dari target RPJMN kisaran 6,4-6,9persen namun realisasi growth economy Indonesia hanya sebesar 6,23persen. Selanjutnya tingkat kemiskinan Indonesia juga perlu kerja keras disebabkan target RPJMN pada  tingkat kemiskinan di  Indonesia tahun 2012 sebesar 10,5-11,5persen dari total jumlah penduduk namun realisasinya masih berada 11,66persen. Maka ini perlu adanya pembahasan penting dalam RKP 2014 agar pencapaian target pertumbuhan ekonomi dan tingkat kemiskinan Indonesia dapat terlaksana.

Disisi lain, Edy juga memaparkan tantangan dan peluang dalam prospek ekonomi Indonesia untuk tahun depan. Tantangan Indonesia saat ini antaralain: iklim investasi dan usaha masih perlu perbaikan, isu ketenagakerjaan, keterbatasan infrastruktur, kesehatan fiskal dan penyerapan anggaran, pengelolaan BBM dalam negeri, stabilitas sosial politik terkait pemilu. Sedangkan pada peluang Indonesia saat ini yakni potensi pasar yang besar, pemanfaatan jumlah midle class yang besar dan terus naik. Selain itu, Pemilu tahun depan mendorong kegiatan domestik. “ Maka dengan kerja keras pemerintah/kementerian/lembaga melalui penguatan ekonomi domestik Indonesia sehingga perekonomian Indonesia 2014 diperkirakan dapat mencapai sasaran 7%”harapnya.


Alnisa Septya Ratu
(alnisa@wartaekonomi.co.id)

Foto: Sufri Yuliardi

Executive Brief

Dahlan akui kesulitan untuk selamatkan usaha PT Merpati Nusantara Airline.

Dahlan: Proyek jalan tol Trans-Sumatera terapkan pola "bangun jual".

Dahlan pastikan tidak akan ada pergantian direksi BUMN sebelum terbentuknya pemerintahan baru.

Semarang jadi pasar potensial bagi sektor pariwisata.

Pemprov Jatim imbau masyarakat dirikan bangunan atau properti ramah lingkungan.

Pemerintah diminta perbanyak standardisasi sehingga produk dalam negeri siap hadapi MEA.

Menkeu: Isu normalisasi kebijakan moneter The Fed sebabkan kekhawatiran pelaku pasar keuangan.

OJK: Pendidikan keuangan pada masyarakat dapat tingkatkan pemanfaatan produk perbankan.

BRI akan realisasikan satu unit Kapal Teras pada tahun ini.

Entertainment & Life Style

16 September 2014 - Entertainment & Life Style

Lenovo PerkenalkanTablet ThinkPad 10

15 September 2014 - Entertainment & Life Style

Wanita Ini Gunakan "Terapi Telanjang" untuk Obati Pecandu Porno

14 September 2014 - Entertainment & Life Style

Indosat Perbarui Jaringan di Empat Kota