Market Indices

Indonesia Harus Mencegah Konflik di Laut Cina Selatan

Rubrik Internasional

27 April 2013 09:10:00 WIB

Persengketaan di laut Cina selatan yang melibatkan China dan sejumlah negara ASEAN menguji sejauh mana peran Indonesia untuk membangun rasa solidaritas kawasan dan mencegah terjadinya eskalasi konflik, kata seorang peneliti. "Sebagai ketua ASEAN pada 2011, Indonesia terus memelihara visi hingga pembentukan komunitas ASEAN (2015,-red), namun kita akan lihat apakah dapat membawa kawasan pada sikap strategis koheren, dan kesatuan solidaritas politik untuk menjadi aktor ASEAN dalam menjaga keamanan kawasan," kata Peneliti Politik dan Hubungan Internasional Donald E. Weatherbee.


Donald E. Weatherbee yang mendapat gelar profesor dari University of South California, mengatakan hal itu dalam pemaparan bertema Kemajuan Politik Luar Negeri Indonesia yang diselenggarakan Lembaga Persahabatan Indonesia-AS (Usindo) di Jakarta, Jumat. Hal ini menjadi tantangan untuk Indonesia dalam melanjutkan kegemilangan politik luar negerinya. Weatherbee, yang lebih dari empat dekade telah melakukan penelitian di berbagai Universitas di Asia Tenggara, mengatakan kini usaha Indonesia dan negara-negara ASEAN untuk mencari jalan diskusi dengan China merupakan "permintaan yang sangat rumit", "Anda tahu rumit melihat fleksibilitas pergerakan maritim China yang seakan menyebutkan bahwa memang tidak perlu ada peraturan," ujarnya.


"Tidak pernah ada isu yang mengakibatkan sengketa ASEAN seperti ini," ucapnya menambahkan.


Namun, dia memuji peran Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa yang cekatan berdiplomasi di pertemuan ASEAN 2011 --saat diketuai Kamboja-- karena berhasil mendapat persetujuan untuk memulai pembahasan Laut China Selatan. Menurut Weatherbee, hasil pertemuan saat itu menyelamatkan "muka" ASEAN namun dalam bersamaan berhasil menjaga hubungan dengan China."Usaha terkahir Marty, mampu menyealmatkan ASEAN namun juga tidak menyerang China," ujarnya.


Dia menambahkan, Indonesia juga perlu mengingat kembali semangat persatuan yang ditularkan kepada ASEAN pada 1979, ketika Vietnam menginvasi Kamboja terkait sengketa perbatasan di Thailand. Dia mengatakan, pada saat itu ASEAN dengan inisatif Menteri Luar Negeri Indonesia Mochtar Kusumaatmadja mengemukakan startegi garis depan yang memicu gerakan politik di Bangkok dan bantuan militer untuk menyelasaikan permasalahan itu. "Namun, kini ketika China menantang Filipina dan Vietnam, mereka seperti ditinggalkan ASEAN secara politik," katanya.


"Sekarang ada 10 anggota ASEAN, yang mayoritas memliki perjanjian investasi dan hubungan baik dengan China dibanding solidraitas ASEAN," ujarnya.

Indonesia dan ASEAN kini sedang mendesak China untuk mendiskusikan permasalahan di Laut China Selatan dan segala potensi ekonomi di wilayah itu. Konfrensi Tingkat Tinggi ASEAN pada pekan ini di Brunei Darusalam menghasilkan kesepatakan untuk merencanakan pertemuan Menlu China dan ASEAN tahun ini di Beijing, China.

Qin Gang, Direktu Jenderal Departemen Informasi Kementrian Luar Negeri Cina, dalam pertemuan dengan sejumlah pemimpin media Indonesia di Beijing belum lama ini mennyatakan, bahwa sikap Cina adalah tetap. “Kami akan melakukan konsultasi secara baik-baik. Tetapi kami tidak ingin ada intervensi dari pihak luar. Kami yakin kawasan ini butuh perdamaian dan kestabilan agar kita bisa memelihara kemakmuran yang sedang kita nikmati,” tandasnya. (Ant/MI)


(*/Redaksi)

Foto: M. Ihsan

Editor: Ihsan

Recomended Reading

Kamis, 20/11/2014 04:22 WIB

Pesan Ibunda Ahok: Jangan Galak-galak

Kamis, 20/11/2014 02:48 WIB

Ahok Ingin Sopir Digaji Dua Kali UMP

Kamis, 20/11/2014 12:18 WIB

Kadin: Jangan Buat Susah Dampak Kenaikan BBM

Berita Terkini

Jum'at, 21/11/2014 23:07 WIB

Pangkas Biaya Logistik, Pemerintah akan Gunakan Kereta Api

Jum'at, 21/11/2014 22:26 WIB

Presiden Jokowi Tidak Paham Hukum

Jum'at, 21/11/2014 21:18 WIB

Harga BBM Naik, Surat Utang Makin Diminati

Jum'at, 21/11/2014 20:22 WIB

Mendag Janji Turunkan Harga Cabai

Jum'at, 21/11/2014 20:18 WIB

Ini Tanggapan OJK Terkait Kepemilikan Stasiun Televisi TPI

Jum'at, 21/11/2014 20:04 WIB

Kemensos Siap Bantu Penanganan Banjir di Jakarta

Jum'at, 21/11/2014 19:23 WIB

OJK: Sisa Saham Bank Mutiara Masih dalam Tahap Pengkajian

Jum'at, 21/11/2014 19:03 WIB

Ahok Tak Kapok Beli Bus Buatan Tiongkok

Executive Brief

Nilai tukar rupiah ditutup menguat 42 poin menjadi Rp 12.133 per dolar AS.

Bursa Saham Indonesia

IHSG ditutup menguat 18,47 poin atau 0,36% ke posisi 5.112,04 poin.

Indeks LQ45 ditutup naik 3,40 poin atau 0,39% ke posisi 878,55 poin.

Ketum Nasdem Surya Paloh meminta masyarakat tidak ragukan kualitas kader parpol.

Ketua DPR Setya Novanto tidak permasalahkan pengangkatan M Prasetyo sebagai Jaksa Agung.

Menteri Yuddy: Pejabat yang selenggarakan pernikahan maksimal undang 500 orang dan tak boleh mewah.

Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini harapkan M Prasetyo profesional pimpin Kejaksaan Agung.

Sebuah bom meledak dan lukai lima polisi dekat satu Universitas Kairo, Mesir.

Satu kapal perang AL Australia menyita heroin senilai 158 juta dolar AS di perairan Samudera Hindia.

KBRI Denhaag promosikan kemajuan Indonesia di sekolah pertanian Citaverde College.

Dokter asal Kuba yang terkena Ebola di Sierra Leone diterbangkan ke Swiss untuk jalani perawatan.

CIMB Niaga gandeng PT PP guna percepat penyaluran kredit pemilikan rumah.

Kementerian PU siap jangkau 72 desa pada 2015 terkait program akses air bersih.

Wapres JK ucapkan selamat atas hari jadi Muhammadiyah yang ke-102 tahun.

Seorang pria bersenjata tembak tiga mahasiswa hingga terluka di Florida State University.

Dua kapal AS bertabrakan di Samudera Hindia, tetapi tidak ada awak terluka.

Entertainment

17 November 2014 - Olahraga

Boateng Absen Saat Jerman Hadapi Spanyol

16 November 2014 - Travel

Jakarta Siapkan Konsep 'Smart Tourism'