Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Government
Video
Indeks
About Us
Social Media

Asuransi Kerugian Pertebal Premi

Warta Ekonomi -

WE Online, Jakarta- Dalam jajaran 10 perusahaan asuransi kerugian yang berpremi bersih tertinggi, sebagian besar mencatatkan pertumbuhan premi yang signifikan.


Industri perasuransian semakin menunjukkan pertumbuhannya yang semakin menguat. Dari segi pertumbuhan aset maupun premi dari tahun ke tahun semakin menebal. Bahkan perasuransian adalah sektor yang paling dominan dari segi aset bila dibandingkan dengan industri keuangan non bank lainnya (IKNB).

Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sampai dengan kuartal I tahun 2014, profil sebaran aset, industri perasuransian merupakan industri dengan aset terbesar sebesar. Aset perasuransian mencapai Rp700,80 triliun. Sedangkan aset industri pembiayaan sebesar Rp421,29 triliun, dana pensiun sebesar Rp166,29 triliun, lembaga jasa keuangan lainnya sebesar Rp98,5 triliun dan industri jasa penunjang IKNB sebesar Rp4,29 triliun.

Data tersebut menunjukkan bahwa industri asuransi memang sebagai industri yang terus ekspansif. Apalagi indikator-indikator ekonomi di Indonesia yang kian menunjukkan stabilitas. Dari sisi aset, total aset asuransi jiwa naik Rp280,53 triliun di kuartal IV tahun 2013 menjadi Rp303,33 triliun di kuartal I tahun 2014. Sedikit berbeda dengan aset asuransi umum dan reasuransi yang sedikit melorot dari Rp103,14 triliun di kuartal IV tahun 2013 menjadi Rp100,32 triliun di kuartal I tahun 2014.  

Dari segi premi, premi bruto sampai dengan 31 Maret 2014 mengalami rata-rata kenaikan sebesar 6,1% menjadi Rp57,1 triliun dibandingkan triwulan sebelumnya. Penyumbang dari kenaikan premi karena asuransi sosial khususnya BPJS Kesehatan. Pasalnya terjadi peningkatan jumlah peserta asuransi kesehatan sementara asuransi komersial lainnya mengalami penurunan jumlah premi bruto.

Menurut data OJK, komposisi premi bruto industri perasuransian memang didominasi dari asuransi jiwa dibandingkan yang lainnya. Premi bruto asuransi jiwa mencatatkan porsi 44,6%, dan  menyusul BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan sebesar 25,7%. Adapun  asuransi kerugian dan reasuransi tercatat sebesar 25,5%. Sisanya berasal dari premi perusahaan penyelenggara program asuransi untuk PNS dan TNI/POLRI sebesar 2,7%, dan premi yang diterima oleh perusahaan penyelenggara program asuransi sosial sebesar 1,5%.

Pertebal Premi

Perusahaan asuransi terus berupaya untuk mempertebal premi. Bagi perasuransian umum/kerugian akan memiliki tantangan tersendiri bila dibandingkan dengan perasuransian jiwa. Kondisi perekonomian sangat mempengaruhi kinerja perasuransian umum. Perkembangan ekonomi makro akan sangat menentukan ke arah mana premi perusahaan akan tertiup.

Sampai dengan akhir tahun 2013, perusahaan perasuransian yang beraset di atas Rp3 triliun masih mayoritas yang memimpin premi neto dalam jajaran perusahaan asuransi kerugian. Dalam jajaran 10 perusahaan perasuransian yang berpremi neto tertinggi, terdapat 6 perusahaan yang berasal dari kelompok beraset Rp3 triliun, dan 4 perusahaan lainnya berasal dari kelompok perusahaan asuransi kerugian beraset antara Rp1-3 triliun.

Asuransi Astra Buana menjadi perusahaan perasuransian yang paling tebal premi netonya dibanding perusahaan lainnya. Tercatat premi neto Astra Buana sebesar Rp2,53 triliun di tahun 2013. Tak hanya terbesar, kenaikan premi neto tersebut juga sangat signifikan sebesar 22,61%, dari yang sebesar Rp2,07 triliun di tahun 2012.

Bagi anak perusahaan Astra ini akan cukup menantang di tahun ini. Namun, Astra Buana tetap pede akan tetap menjadi pemimpin pasar di perasuransian umum. Perusahaan ini tetap memandang tahun ini dengan cermat, tapi tetap mencanangkan pertumbuhan premi paling tidak 10%.

“Kalau secara umum kita lihat ekonominya. Kalau ekonominya bagus, asuransi umum pasti bagus,” kata Direktur Utama Asuransi Astra Santosa. Namun, sebagai perusahaan perasuransian yang sebagian besar preminya ditopang oleh kendaraan (otomotif), Asuransi Astra akan memanfaatkan momentum besar pertumbuhan sektor otomotif.

“Kalau khusus untuk kita tergantung otomotif. Otomotif itu puncaknya 2-3 bulan ke depan, ini mau lebaran. Setelah itu seperti kuartal I,” kata Santosa.

 Disamping Asuransi Astra, perusahaan asuransi lainnya yang masuk dalam jajaran premi neto tertinggi dan mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan pada tahun 2013. Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) dan Asuransi Central Asia (ACA) mencatatkan penebalan premi neto yang sangat signifikan, khususnya untuk kelompok aset di atas Rp3 triliun. Masing-masing mampu mengerek premi sebesar 58,46% dan 24,74% di tahun 2013.

Askrindo berhasil menggenjot premi bruto dari Rp698,59 miliar di tahun 2013 menjadi Rp1,10 triliun di tahun 2013. Sebagai penjamin Kredit Usaha Rakyat (KUR), perusahaan ini mencatatkan plafon penyaluran KUR pada 2013 dengan jumlah yang dijaminkan mencapai Rp40,1 triliun. Jumlah tersebut meningkat dibanding periode tahun lalu yang sebesar Rp34,3 triliun. Disamping penjaminan KUR, Askrindo juga mencatatkan premi penjaminan Non KUR (Asuransi Kredit dan Suretyship) pada 2013 mencapai Rp715,26 miliar atau melebihi anggaran 2013 sebesar Rp397,52 miliar.

Pertumbuhan premi neto sebesar 24,74% merupakan buah dari upaya kerja keras ACA, sehingga pada tahun 2013, premi neto perusahaan naik dari Rp888,82 miliar di tahun 2012 menjadi Rp1,11 triliun di tahun 2013. 

Asuransi properti merupakan salah satu penyumbang premi terbesar ACA setiap tahunnya. Asuransi properti ACA telah membukukan premi sebesar Rp 652,784 miliar di tahun 2013. Meski sebenarnya jumlah tersebut adalah jumlah yang rendah dibanding tahun sebelumnya. Pendapatan premi dari lini ini turun tipis dari tahun sebelumnya yang berpendapatan premi sebesar Rp 653,866 miliar. Selain asuransi properti, penopang premi dari ACA berasal dari konstruksi. Bahkan di tahun lalu berkah diperoleh dari lini ini. Di tahun 2013, pertumbuhan premi asuransi konstruksi mengalami kenaikan yang cukup signifikan selama lima tahun terakhir. Penerimaan premi bruto asuransi konstruksi mencapai Rp51,985 miliar, naik 38% dari penerimaan tahun 2012 sebesar Rp37, 586 miliar, bandingkan dengan kenaikan di tahun 2012 yang hanya 4,9%.

Tahun 2014 akan menjadi tahun yang tentunya memiliki momentum yang positif, apabila suksesi kepemimpinan politik dapat meyakinkan para pengusaha untuk terus menggelar bisnisnya. Begitu pula upayanya untuk menstabilkan kondisi ekonomi makro Indonesia. Hal ini akan memberikan angin segar bagi industri asuransi kerugian.

 

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Arif Hatta
Editor: Arif Hatta

Tag Terkait:

Advertisement

Bagikan Artikel: