Portal Berita Ekonomi Jum'at, 24 Februari 2017

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

Executive Brief
  • Raja Arab - Menko Darmin Nasution sambut baik rencana kunjungan Raja Salman ke Indonesia.
  • Cabai - Cabai impor juga beredar di Sumenep.
  • LRT - Ahok optimistis LRT selesai sebelum Asian Games 2018.
  • Nasional - Presiden Jokowi menerima gelar adat kehormatan Maluku, Jumat (24/2).
  • Lebak - Bupati Lebak Iti Octavia mewajibkan tanam cabai lima batang per PNS.
  • Kedelai - Harga kedelai di Pekalongan naik jadi Rp7.500/kilogram.
  • Kopi - Pemkab Seruyan kembangkan budidaya kopi jenis arabica khusus di wilayah Seruyan Hulu.
  • PLN - Pemerintah memangkas jumlah penerima subsidi listrik untuk pelanggan 900 VA, dari 23 juta menjadi hanya 4,1 juta pelanggan.
  • Kentang - Harga kentang di Pangkalpinang berangsur turun.
  • Freeport - Pemkab Mimika prediksi jumlah karyawan Freeport yang di-PHK akan terus bertambah.

Kolom Yuswohady: Puasa Belanja? No Way!

Foto Berita Kolom Yuswohady: Puasa Belanja? No Way!
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Bulan Ramadan adalah saatnya mengekang hawa nafsu. Kita harus mengekang nafsu amarah, nafsu ngegosipin orang lain, atau nafsu berprasangka buruk kepada orang lain. Namun, ada nafsu yang sangat sulit untuk dilawan di masa Ramadan, yaitu nafsu belanja.

 

Sambil menulis artikel ini kemarin (persis sehari menjelang puasa), saya membuka-buka beberapa koran Ibu Kota. Di situ saya temui iklan satu halaman full color dari salah satu peritel ternama. Dalam iklan super mencolok itu tertulis besar-besar:  “Nikmati 1 Hari Hemat Lebih Awal 50%”. Rupanya peritel tersebut curi start untuk memicu perang diskon menyongsong waktu Lebaran.

Di halaman lain koran, saya temui iklan katalog (lagi-lagi satu halaman full color) milik peritel elektronik ternama yang dipenuhi foto produk mulai dari TV flat hingga lemari es. Iklannya menggiurkan karena persis di bawah setiap foto produk tertera angka regular price dibandingkan head-to-head dengan discount price-nya. Siapa pun yang melihatnya pasti tak tahan untuk segera ngacir membeli, karena potongan harganya memang fantastis.

Menjelang bulan puasa, peritel-peritel besar selalu jorjoran beriklan untuk menarik pembeli. Pasalnya, mereka tahu kebiasaan di kalangan ibu-ibu yang selalu menyetok barang keperluan sehari-hari menjelang puasa untuk persediaan selama sebulan ke depan. Alasan ibu-ibu: “Agar buka puasa dan sahurnya lancar, kayak jalan tol bebas hambatan!”

Coba mulai hari ini sampai sebulan ke depan Anda buka halaman-halaman iklan koran, pasti Anda akan mendapati iklan-iklan raksasa, mulai dari iklan-iklan program promo mal, iklan kartu kredit bank-bank besar yang menawarkan cicilan 0%, iklan promo tarif murah operator selular, hingga iklan-iklan gadget dan mobil yang sesungguhnya nggak nyambung dengan puasa. Semua jorjoran merayu kita untuk berbelanja.

Itulah sebabnya saya sering mengatakan: “Masa Ramadan adalah masa belanja!” Itu bagi si konsumen. Bagi si marketer lain lagi: “Masa Ramadan adalah masa jualan!” Di bulan Ramadan, nafsu-nafsu yang lain boleh dikekang, tetapi nafsu belanja akan tetap jalan, bahkan lebih kencang.

 

Mood Belanja

Siklus mood belanja di masa Ramadan biasanya berjalan seperti ini. Ketika Matahari menabuh genderang aksi mengumbar nafsu belanja satu atau dua hari menjelang puasa, saat itulah kita mulai aware dan diingatkan bahwa “masa belanja” telah datang. Seminggu sebelum puasa, ibu-ibu akan memborong barang-barang kebutuhan sehari-hari untuk stok selama sebulan berpuasa. Ini tak lain adalah “pemanasan” untuk memasuki puncak masa belanja yang sesungguhnya.

Seminggu pertama berpuasa, mood belanja ini meredup karena kita lagi hot-hot-nya menghayati dan menikmati ibadah yang kita jalani setahun sekali ini. Namun, setelah itu, mood belanja mulai tumbuh subur seperti layaknya jamur di musim hujan. Dan, mood ini mulai betul-betul menggeliat setelah dua minggu lewat kita berpuasa. Karena itu, saya sering menyarankan, kalau Anda melakukan promo Ramadan-Lebaran, geber-lah promo itu di 15 hari sebelum hari H Lebaran.

Setelah dua minggu lewat kita berpuasa, maka kita mulai tidak berkonsentrasi lagi dalam bekerja, apalagi kita-kita yang bekerja di instansi pemerintah. Masuk kerja boleh dari pagi sampai menjelang magrib, tetapi pikiran sudah melanglangbuana ke kampung. Yes: mudik! Di kepala kita pun sudah mulai samar-samar terbayang kelebat-kelebat gambar meneduhkan, seluruh kerabat berkumpul setelah shalat Ied, saling maaf-memaafkan, saling canda, saling kangen-kangenan, tentu saja lengkap dengan ketupat dan opor ayam super kental... amboi.

Seiring seisi kepala dipenuhi gambar-gambar suasana kampung halaman yang menyejukkan hati, mood berbelanja pun menggeliat naik kian cepat. Ketika terngiang-ngiang kerabat di kampung, maka hanya satu hal yang kita pikirkan: oleh-oleh. Oleh-oleh bisa macam-macam, mulai dari baju, makanan-minuman, perabot rumah tangga, hingga barang-barang elektronik. Di titik inilah aksi serbu mal atau tempat-tempat belanja untuk berburu oleh-oleh mulai agresif kita lakukan. Ini biasanya terjadi 10 hari sebelum hari H Lebaran.

Seminggu menjelang hari H Lebaran biasanya THR mulai mengalir ke kantong. Pada titik ini, mood belanja pun betul-betul menemukan momentum puncaknya. Di sinilah kita mulai seperti kesurupan berbelanja. Demi kerabat di kampung, segala cara kita gunakan agar bisa membawa oleh-oleh untuk mereka, kalau perlu ngutang. Itu sebabnya masa Lebaran adalah masa panen Pegadaian. THR nggak cukup nggak masalah, asal bisa ngutang, segala masalah wes ewess ewesss... lewat dulu, baru dipikir nanti sepulang dari mudik.  Di bulan suci ini, mengekang nafsu amarah, harus! Mengekang nafsu ngegosipin orang lain, harus! Mengekang nafsu belanja? No way!

Yuswohady

Managing Partner Inventure

Tag: ramadhan, lebaran

Penulis: Redaksi

Editor: Arif Hatta

Foto: YH

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 3,514.87 3,478.27
British Pound GBP 17,169.60 16,991.11
China Yuan CNY 1,989.13 1,969.21
Dolar Amerika Serikat USD 13,179.00 13,047.00
Dolar Australia AUD 10,171.55 10,063.15
Dolar Hong Kong HKD 1,699.24 1,682.01
Dolar Singapura SGD 9,827.01 9,722.78
EURO Spot Rate EUR 14,736.76 14,583.94
Ringgit Malaysia MYR 3,292.28 3,255.24
Yen Jepang JPY 13,026.59 12,889.75

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5385.906 13.158 539
2 Agriculture 1841.223 10.982 21
3 Mining 1419.623 -11.021 43
4 Basic Industry and Chemicals 565.553 5.187 66
5 Miscellanous Industry 1365.621 14.073 42
6 Consumer Goods 2374.993 14.543 39
7 Cons., Property & Real Estate 517.048 -2.460 61
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1062.681 -2.767 56
9 Finance 829.581 -0.573 89
10 Trade & Service 871.468 6.466 122
No Code Prev Close Change %
1 VRNA 95 117 22 23.16
2 DGIK 129 153 24 18.60
3 JAWA 133 149 16 12.03
4 MGNA 102 114 12 11.76
5 IKBI 350 386 36 10.29
6 ARII 338 370 32 9.47
7 KRAH 2,680 2,900 220 8.21
8 KBLI 318 344 26 8.18
9 SRIL 280 302 22 7.86
10 ASJT 580 625 45 7.76
No Code Prev Close Change %
1 TRAM 190 125 -65 -34.21
2 ICON 494 376 -118 -23.89
3 KOIN 320 250 -70 -21.88
4 CMPP 113 100 -13 -11.50
5 BIPP 97 89 -8 -8.25
6 BUMI 360 332 -28 -7.78
7 FREN 54 50 -4 -7.41
8 MAMI 73 68 -5 -6.85
9 CTBN 5,200 4,850 -350 -6.73
10 BCIP 182 170 -12 -6.59
No Code Prev Close Change %
1 TRAM 190 125 -65 -34.21
2 BUMI 360 332 -28 -7.78
3 BABP 67 67 0 0.00
4 DGIK 129 153 24 18.60
5 ELTY 52 50 -2 -3.85
6 BRPT 2,310 2,250 -60 -2.60
7 MCOR 328 336 8 2.44
8 SRIL 280 302 22 7.86
9 SMDM 87 84 -3 -3.45
10 AGRO 975 980 5 0.51