Portal Berita Ekonomi Kamis, 27 Juli 2017

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

Executive Brief
  • 05:31 WIB. Champions League Qualification (27/7) - Celtic 0 - 0 Rosenborg
  • 05:30 WIB. Champions League Qualification (27/7) - Nice 1 - 1 Ajax
  • 22:00 WIB. Operator - Kemkominfo akan menyusun formula tarif data menyusul perang tarif internet oleh operator telekomunikasi.
  • 21:59 WIB. Operator - Bos Indosat: Aturan tarif data harus dipercepat.
  • 21:57 WIB. Operator - KPPU: Tarif batas bawah tak bisa dijadikan sebagai instrumen untuk menentukan tarif.
  • 21:55 WIB. Operator - Menkominfo: Formula tarif data memungkinkan operator bermanuver dalam kompetisi.
  • 21:53 WIB. Operator - KPPU: Konsolidasi akan membawa kompetisi antaroperator menjadi lebih sehat.
  • 21:43 WIB. NASA - NASA akan luncurkan Jet Supersonik pada 2021.
  • 21:52 WIB. MIUI - MIUI 9 telah diperkenalkan secara resmi di Beijing, China.
  • 21:36 WIB. Pilpres- Pengamat Politik J Wisnu Kasdulah menilai duet SBY-Prabowo bisa jadi ancaman bagi pencapresan Jokowi di 2019.
  • 21:33 WIB. BI- Gubernur BI Agus Martowardojo meminta daerah jangan terlalu terpaku pada harga komoditas yang lagi bagus di Pasar Global.
  • 21:26 WIB. Pilpres- Ketum Gerindra Prabowo S dan Ketum Partai Demokrat SBY akan menggelar pertemuan besok di Cikeas membahas Pilpres 2019.
  • 21:24 WIB. DPR- Wakil Ketua DPR Fadli Zon mengkritik keras rencana pemerintah yang akan menggunakan dana tabungan haji untuk infrastruktur.
  • 21:22 WIB. KTA- Mendagri Tjahjo Kumolo menyatakan kementeriannya telah menerbitkan Permendagri terkait Kartu Identitas Anak (KTA).
  • 21:19 WIB. Angket- Fraksi PAN di DPR kemungkinan besar akan cabut kadernya dari keanggotaan Pansus Angket tentang KPK.

Survei IDM: Publik Dukung Penurunan Tarif Interkoneksi

Foto Berita Survei IDM: Publik Dukung Penurunan Tarif Interkoneksi
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Survei yang dilakukan Indonesia Development Monitoring diperoleh data bahwa mayoritas penguna jasa telekomunikasi seluler sangat mendukung rencana penurunan tarif interkoneksi melalui revisi PP Nomor 52 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi oleh Pemerintah.

"Hasil temuan survei pada konsumen jasa telepon seluler dah fix line sangat berharap dan mendukung lahirnya kebijakan pemerintah memberikan jasa layanan interkoneksi yang murah antaroperator telepon," kata Direktur Eksekutif IDM Widodo Tri Sektianto dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (6/9/2016).

Hal itu tergambar dalam hasil survei Indonesia Development Monitoring (IDM) yang digelar dengan tema "Opini Publik Terkait Jasa Layanan Operator Telepon Seluler di Indonesia Terkait Tarif yang Dibebankan Operator Jasa Telepon Seluler".

Widodo menjelaskan, dalam survei itu, sebanyak 73,4 persen responden menyatakan setuju penurunan tarif interkoneksi, 23 persen tidak setuju, sementara tidak tahu 3,6 persen.

Menurut dia, mayoritas responden menilai tarif interkoneksi melalui sambungan telepon dan pesan singkat (SMS) antaroperator seluler masih relatif sangat mahal.

"Padahal, untuk 'roaming' internasional, baik 'voice' maupun data, dianggap tidak mahal dibandingkan interkoneksi 'roaming' di luar negeri," ujarnya.

Menurut dia, hal itu terbukti berdasarkan biaya terminasi lokal antar seluler sebesar Rp250 per menit, sedangkan biaya terminasi jarak jauh bertarif Rp452 per menit sehingga hal tersebut tidak berlogika jika dibandingkan dengan tarif on-net operator.

Ia menjelaskan bahwa pengguna telepon seluler lebih banyak untuk kebutuhan menelepon dan SMS daripada untuk keperluan media sosial dan akses internet, padahal responden menganggap tarif telepon interkoneksi dan SMS jauh lebih mahal.

"Mahalnya tarif interkoneksi antaroperator dari hasil temuan survei pendapat masyarakat akhirnya membebani pelanggannya sebab beban interkoneksi ditanggung pelanggan melalui tarif off-net yang mahal," katanya.

Sementara itu, menurut dia, mahal dan murahnya tarif on-net menyebabkan peningkatan 'churn rate' di masing-masing operator, belum lagi ketidakefisienan dari pelanggan yang cenderung menggunakan lebih dari satu nomor handphone.

Hal itu, menurut dia, juga mengakibatkan tidak efisien dalam penggunaan nomor, padahal nomor merupakan sumber daya terbatas.

"Saya juga menyoroti perbedaan ketetapan tarif on-net dan tarif off-net dari operator selular, bakal menciptakan masalah tersendiri sebab tarif off-net operator bisa lebih dari 15 kali lebih mahal dibanding tarif on-net," ujarnya.

Hal itu, menurut Widodo, akan berakibat pelanggan operator menggunakan banyak nomor dari operator lain untuk menghindari tarif off-net yang mahal.

Selain itu dia menjelaskan, sudah pasti terjadi churn rate tinggi sebab promosi yang tak rasional, jor-joran di tarif on-net dan beban tarif mahal di off-net.

"Bisa jadi, kompetisi tarif off-net tak berfungsi sebab operator besar tak mau mengubah dan operator kecil tidak berani memulai melakukan penurunan harga off-net, apalagi jika hal ini terkait dengan biaya interkoneksi di Indonesia yang masih mahal," katanya.

Survei IDM itu dilakukan pada tanggal 21 s.d. 30 Agustus 2016 di 33 provinsi dan 200 kabupaten/kota di Indonesia. Responden terpilih sebanyak 1.241 penguna jasa telepon seluler dari 281.9 juta populasi pengunaan jasa operator dan SIM card yang aktif.

Survei itu mengunakan metode "multistage random sampling" dengan tingkat kepercayaan 95 persen dengan "margin of error" kurang lebih 2,6 persen. (Ant)

Tag: operator seluler

Penulis: ***

Editor: Vicky Fadil

Foto: Runni Lubis

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,573.98 3,537.30
British Pound GBP 1.00 17,456.14 17,278.94
China Yuan CNY 1.00 1,984.48 1,964.64
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 13,401.00 13,267.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,605.55 10,496.85
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,715.88 1,698.50
Dolar Singapura SGD 1.00 9,836.32 9,734.39
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,614.85 15,453.40
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,128.88 3,095.43
Yen Jepang JPY 100.00 11,979.08 11,856.12

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5800.206 -13.329 558
2 Agriculture 1772.884 -2.241 18
3 Mining 1465.301 5.157 44
4 Basic Industry and Chemicals 612.195 -1.939 67
5 Miscellanous Industry 1386.417 1.397 41
6 Consumer Goods 2484.457 -30.445 45
7 Cons., Property & Real Estate 481.634 0.333 65
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1196.048 -6.175 60
9 Finance 963.563 4.319 89
10 Trade & Service 922.973 -1.862 129
No Code Prev Close Change %
1 PADI 510 635 125 24.51
2 MLIA 494 565 71 14.37
3 MFMI 850 970 120 14.12
4 KICI 160 178 18 11.25
5 KARW 200 220 20 10.00
6 BIPI 103 113 10 9.71
7 DOID 680 745 65 9.56
8 TINS 745 815 70 9.40
9 BRAM 13,700 14,975 1,275 9.31
10 BKDP 80 87 7 8.75
No Code Prev Close Change %
1 ENRG 400 300 -100 -25.00
2 HDFA 240 193 -47 -19.58
3 FINN 404 350 -54 -13.37
4 PNBS 128 112 -16 -12.50
5 KIAS 105 92 -13 -12.38
6 APII 266 238 -28 -10.53
7 JECC 5,850 5,325 -525 -8.97
8 CKRA 88 81 -7 -7.95
9 MBAP 1,950 1,800 -150 -7.69
10 SSTM 515 480 -35 -6.80
No Code Prev Close Change %
1 SRIL 370 370 0 0.00
2 WSBP 452 472 20 4.42
3 TLKM 4,720 4,700 -20 -0.42
4 DOID 680 745 65 9.56
5 AISA 1,185 1,175 -10 -0.84
6 BIPI 103 113 10 9.71
7 STAR 73 71 -2 -2.74
8 PBRX 505 505 0 0.00
9 BBCA 18,575 18,775 200 1.08
10 TINS 745 815 70 9.40