Portal Berita Ekonomi Jum'at, 24 Februari 2017

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

Executive Brief
  • Raja Arab - Menko Darmin Nasution sambut baik rencana kunjungan Raja Salman ke Indonesia.
  • Cabai - Cabai impor juga beredar di Sumenep.
  • LRT - Ahok optimistis LRT selesai sebelum Asian Games 2018.
  • Nasional - Presiden Jokowi menerima gelar adat kehormatan Maluku, Jumat (24/2).
  • Lebak - Bupati Lebak Iti Octavia mewajibkan tanam cabai lima batang per PNS.
  • Kedelai - Harga kedelai di Pekalongan naik jadi Rp7.500/kilogram.
  • Kopi - Pemkab Seruyan kembangkan budidaya kopi jenis arabica khusus di wilayah Seruyan Hulu.
  • PLN - Pemerintah memangkas jumlah penerima subsidi listrik untuk pelanggan 900 VA, dari 23 juta menjadi hanya 4,1 juta pelanggan.
  • Kentang - Harga kentang di Pangkalpinang berangsur turun.
  • Freeport - Pemkab Mimika prediksi jumlah karyawan Freeport yang di-PHK akan terus bertambah.

Paradigm Paralysis in ERM & Internal Audit

Foto Berita Paradigm Paralysis in ERM & Internal Audit
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Saya membaca artikel atau thought yang digagas oleh Tim Leech dan Lauren Hanlon dengan judul Paradigm Paralysis in ERM & Internal Audit. Saya pakai judul tersebut pada artikel ini untuk membahas dan memberikan pencerahan kepada publik tentang isu yang menggelitik ini. Tim menyebutnya sebagai kelumpuhan (paralysis) paradigma enterprise risk management (ERM) dan audit intern. Tentu saja, di artikelnya Tim mengkritisi praktik ERM. Ia berangkat dari asumsi suatu korporasi telah menerapkan manajemen risiko (MR).

Kelemahan umum pada praktik MR di suatu korporasi adalah: (1) MR yang dilakukan bersifat statis berkala seperti pemutakhiran profil risiko dilakukan setiap enam bulan atau setahun sekali. Itupun banyak yang masih berifat risiko ketidakpatuhan dan fokus pada control-centric; (2) ketika profil risiko tersusun, pengendalian intern sebagai wujud respons risiko masih dipahami sebagai one-on-one atas risiko individual. Akan lebih baik bagi penanggung jawab bisnis atau operasional memperoleh ikhtisar pengendalian kunci atau kritikal secara lengkap sebagai apa yang harus menjadi perhatiannya pada suatu periode risiko; (3) kerangka kerja dan metodologi identifikasi dan penilaian risiko yang dibuat oleh unit MR tidak sejalan dari metodologi yang digunakan audit intern dan pemangku assurance lainnya di internal korporasi sehingga MR yang terintegrasi atau yang bersifat enterprise tidak terealisir.

Selain kelemahan pada praktik MR yang sudah dijelaskan di muka, ada paradigma MR dan audit intern yang menurut Tim Leech tidak berjalan atau lumpuh, yang akan dijelaskan di bawah ini:

Kebanyakan paradigma MR adalah risk-centric yang melihat risiko terpisah dari tujuan value-creation dan value-preservation. Malahan, pendekatan risk-centric ini lebih banyak kepada value-preservation dari pada menyeimbangkan tujuan value-creation dan value-preservation. Tujuan value-creation adalah membentuk peningkatan nilai untuk pemegang saham, seperti bagaimana meraih pangsa pasar yang ditargetkan. Tujuan value-preservation adalah sebaliknya yaitu melindungi dari semua potensi yang mengikis nilai untuk pemegang saham, misal fraud, pemborosan, ketidakpatuhan, perbuatan melawan hukum.

Dalam penyusunan profil atau peta risiko masih berbasis proses bisnis bukan mengacu pada tujuan strategis korporasi yang hendak dicapai pada suatu tahun/periode sehingga profil risiko yang tersusun masih berisikan tujuan value-preservation atau lebih dikenal sebagai risk register daripada objective register.

Tim Leech menggagas agar dibuat laporan profil risiko yang menyeimbangkan tujuan value-creation dan value-preservation atau disebut objective register. Untuk mengubah paradigma ini, manajemen mengambil peran pemilik risiko sekaligus menjadi penilai atas keseluruhan status risiko residual atau komposit untuk masing-masing tujuan strategis korporasi.

Paradigma yang keliru lainnya adalah pandangan bila suatu unit kerja secara terbuka melaporkan risiko-risiko yang serius dan signifikan maka unit kerja itu pasti akan masuk menjadi unit kerja dengan ranking tertinggi untuk diaudit. Hal ini terkesan sebagai suatu hukuman atas self assessment yang jujur sehingga muncul keengganan unit-unit kerja untuk apa adanya karena tentu saja kehadiran audit intern masih dianggap sebagai stereotype yang tidak menyenangkan dan tidak memberikan nilai tambah kepada yang teraudit.

Paradigma ini harus diubah. Tim Leech menyatakan bahwa pemimpin unit kerja pemilik risiko yang memberikan laporan yang jujur yaitu status risiko residual atau komposit yang negatif (existing control tidak sebanding dengan risiko melekatnya) harus diberikan penghargaan, bukan hukuman oleh audit intern dan manajemen.

Konsep three lines of defense yang di-endors oleh IIA dan regulator sebagai kerangka kerja tata kelola risiko, menempatkan manajemen dan dewan komisaris sebagai penerima laporan saja atas risiko yang bersifat hazard dan tidak aktif serta tidak menjadi peserta aktif dalam proses MR. Tim Leech menggagas five lines of defense di mana manajemen dan dewan komisaris eksplisit menjadi bagian dari lini pertahanan risiko. Artinya, manajemen mengambil peran pemilik risiko sekaligus menjadi penilai atas keseluruhan status risiko residual atau komposit untuk masing-masing tujuan strategis korporasi.

Pemahaman atau paradigma yang menjadi mindset ini tidak lepas dari kebiasaan dan konsep yang sudah mendalam, termasuk materi pendidikan formal di kampus dan  pendidikan informal bahwa ERM adalah pengelolaan risik yang value-preservation dengan menggunakan risk register sebagai media pelaporan dan pengawasan.

Risiko kemudian dikaitkan dengan control-centric dan kepatuhan. Menurut Tim Leech, COSO dan ISO31000 masih menekankan pada control-centric. Menurut Tim Leech, risk register sebaiknya digantikan oleh objective register. Namun disadari, selain belum umum, terdapat kelangkaan staf MR dengan pengetahuan dan keterampilan implementasi objective-centric dan objective register.

IIA belum secara aktif mendukung perubahan metode ERM tradisional yang risk-centrc dan control and process-centric ke pendekatan management-driven, objective-centric risk. Pedoman IIA atas evaluasi MR belum memasukkan penilaian risiko yang terhubung dengan tujuan top value creation dan value preservation secara menyeluruh.

Auditor intern dianjurkan memasukkan objective register sebagai dasar untuk menentukan audit universe-nya. Konsekuensinya, auditor intern harus mengubah mindset, pengetahuan, dan keterampilannya yang selama ini adalah menilai atau memberikan pendapat atas kecukupan dan keefektifan pengendalian intern (value preservation) menjadi pendapat atas keandalan self assessment manajemen atas objective-centric atau pencapaian tujuan strategis organisasi (value creation).

Dapat disimpulkan bahwa konsep-konsep yang telah dijelaskan di atas dapat dipertimbangkan sebagai suatu wacana pemikiran (thought) alternatif dari konsep yang sudah dianggap pakem. Wacana pemikiran tersebut adalah five lines of defense yang eksplisit memasukkan manajemen dan dewan komisaris sebagai pemilik dan penilai risiko residual atas tujuan strategis korporasi, pergeseran ke arah objective- centric dan objective register daripada hanya risk register yang klasik, serta tujuan audit intern yang titik beratnya pada value preservation yaitu kecukupan dan keefektifan pengendalian intern menjadi opini atas objective register yang notabene adalah kecukupan MR untuk mencegah risiko tujuan strategis korporasi tidak tercapai dan peluang-peluang agar tujuan strategis korporasi tercapai sehingga meningkatkan nilai bagi pemegang saham (value creation).

Penulis: Diaz Priantara, Board of IIA Indonesia & ACFE Indonesia Chapter; anggota IAI, IAPI, IKPI; Dosen Universitas Mercu Buana

Tag: Diaz Priantara

Penulis: http://wartaekonomi.co.id/penulis.html,

Editor: Cahyo Prayogo

Foto: Diaz Priantara

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 3,514.87 3,478.27
British Pound GBP 17,169.60 16,991.11
China Yuan CNY 1,989.13 1,969.21
Dolar Amerika Serikat USD 13,179.00 13,047.00
Dolar Australia AUD 10,171.55 10,063.15
Dolar Hong Kong HKD 1,699.24 1,682.01
Dolar Singapura SGD 9,827.01 9,722.78
EURO Spot Rate EUR 14,736.76 14,583.94
Ringgit Malaysia MYR 3,292.28 3,255.24
Yen Jepang JPY 13,026.59 12,889.75

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5385.906 13.158 539
2 Agriculture 1841.223 10.982 21
3 Mining 1419.623 -11.021 43
4 Basic Industry and Chemicals 565.553 5.187 66
5 Miscellanous Industry 1365.621 14.073 42
6 Consumer Goods 2374.993 14.543 39
7 Cons., Property & Real Estate 517.048 -2.460 61
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1062.681 -2.767 56
9 Finance 829.581 -0.573 89
10 Trade & Service 871.468 6.466 122
No Code Prev Close Change %
1 VRNA 95 117 22 23.16
2 DGIK 129 153 24 18.60
3 JAWA 133 149 16 12.03
4 MGNA 102 114 12 11.76
5 IKBI 350 386 36 10.29
6 ARII 338 370 32 9.47
7 KRAH 2,680 2,900 220 8.21
8 KBLI 318 344 26 8.18
9 SRIL 280 302 22 7.86
10 ASJT 580 625 45 7.76
No Code Prev Close Change %
1 TRAM 190 125 -65 -34.21
2 ICON 494 376 -118 -23.89
3 KOIN 320 250 -70 -21.88
4 CMPP 113 100 -13 -11.50
5 BIPP 97 89 -8 -8.25
6 BUMI 360 332 -28 -7.78
7 FREN 54 50 -4 -7.41
8 MAMI 73 68 -5 -6.85
9 CTBN 5,200 4,850 -350 -6.73
10 BCIP 182 170 -12 -6.59
No Code Prev Close Change %
1 TRAM 190 125 -65 -34.21
2 BUMI 360 332 -28 -7.78
3 BABP 67 67 0 0.00
4 DGIK 129 153 24 18.60
5 ELTY 52 50 -2 -3.85
6 BRPT 2,310 2,250 -60 -2.60
7 MCOR 328 336 8 2.44
8 SRIL 280 302 22 7.86
9 SMDM 87 84 -3 -3.45
10 AGRO 975 980 5 0.51