Portal Berita Ekonomi Senin, 01 Mei 2017

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

Executive Brief
  • 11:22 WIB. May Day - Menaker Hanif Dhakiri mengajak buruh untuk merayakan May Day dengan penuh kegembiraan.
  • 11:19 WIB. e-KTP - Polisi berhasil tangkap Maryani di kawasan Hotel Kemang, Jakarta.
  • 10:56 WIB. Madrid - David De Gea dikabarkan sudah mendapatkan kontrak personal dari Real Madrid.
  • 10:54 WIB. Pokemon GO - Pokemon Go akan munculkan fitur PvP dalam waktu dekat ini.
  • 10:41 WIB. HNSI - HNSI meminta Pemprov NTT melakukan patroli wilayah perairan perbatasan negara Indonesia-Australia secara rutin.
  • 10:40 WIB. BPJS Ketenagakerjaan - BPJS Ketenagakerjaan mencatat 41.000 peserta di Nusa Tenggara Timur hingga April 2017.
  • 09:26 WIB. Prancis - Militer Prancis eksekusi militan ekstrimis di hutan dekat perbatasan negara Mali.
  • 09:25 WIB. Kemenpupera - Kemenpupera menganggarkan Rp258,43 miliar untuk merevitalisasi Danau Limboto di Gorontalo.
  • 09:23 WIB. Yogyakarta - Rata-rata tingkat okupansi hotel di Yogyakarta naik menjadi 90 persen selama libur panjang akhir pekan.
  • 09:22 WIB. Jayawijaya - Pemkab Jayawijaya akan mengaktifkan kembali stasiun pangan di wilayah tersebut.
  • 10:43 WIB. Jakarta - Gubernur Pelembang Alex Noerdin raih penghargaan sebagai kepala daerah peduli olahraga dari PWI.

OJK: Evergreen Bisa Terbitkan Obligasi Bila Right Issue Gagal

Foto Berita OJK: Evergreen Bisa Terbitkan Obligasi Bila Right Issue Gagal
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Skema penyelamatan Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera yang memiliki 6,7 juta nasabah terus bergulir. Apalagi, setelah skema restrukturisasi melalui penerbitan saham baru (rights issue) PT Evergreen Invesco Tbk tertunda. Alhasil, kini muncul skema baru untuk menyelamatkan perusahaan asuransi tersebut.

Hingga akhir tahun ini, izin right issue dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) belum diperoleh karena masih ada persyaratan administrasi yang belum dipenuhi Evergreen. Selain itu, kondisi bursa saham di pengujung tahun ini kurang kondusif.

Adapun nilai rights issue Evergreen berubah dari semula Rp 30 triliun menjadi cuma Rp10,33 triliun. Pemangkasan drastis nilai aksi korporasi itu lantaran tidak ada kebutuhan dana jangka pendek yang mendesak.

"Memang laporan yang kami terima Evergreen belum bisa right issue karena beberapa ketentuan admistrasi di pasar modal. Tapi mereka akan mengganti itu bukan dari right issue tapi pinjaman pemegang saham kepada Evergreen lalu Evergreen kasih uang ke Bumiputera jadi nothing to lose dengan pasar modal," ujar Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) OJK Dumoly F Pardede kepada Warta Ekonomi di Jakarta, Selasa (27/12/2016).

Menurutnya, opsi penerbitan obligasi bisa dilakukan Evergreen apabila right issue tidak juga dapat terealisasikan. "Kalau pasar modal tidak bisa lakukan pernyataan efektif mereka bisa terbitkan obligasi ataupun yang lain. OJK hanya mau ada dana masuk, ada jaminan pembayaran klaim di kemudian hari. Nah itu sudah berjalan perjanjian kerjasamanya," jelas Dumoly.

Sebagaimana diketahui, AJB Bumiputera mengalami pertumbuhan negatif klaim sejak lima tahun terakhir. Artinya pertumbuhan klaim terhadap pertumbuhan premi sudah negatif dimana pertumbuhan klaim lebih cepat sementara pertumbuhan premi tidak bisa mengejarnya.

OJK sudah memantau itu sejak tahun 2013, makanya untuk menyelematkan AJB Bumiputera, regulator memutuskan untuk merestrukturisasi AJB Bumiputera guna memperkuat solvabilitasnya dengan cara menyuntikkan dana, sehingga ada keseimbangan dana likuid terhadap liabilitas (kewajiban)-nya.

Namun, karena Bentuk AJB Bumiputera adalah perusahaan asuransi bersama bukan perusahaan terbuka membuat OJK cukup sulit dan rumit memberikan skema modal/ dana kepada AJB Bumiputera.

"Kita tahu AJB Bumiputera itu asuransi bersama tidak mungkin punya akses permodalan kalau diminta OJK karena semua pemegang polis juga pemilik modal. Jadi cara satu-satunya adalah mencari investor melalui create entitas baru sebagai anaknya Bumiputera," papar Dumoly.

Lebih jauh Dumoly menjelaskan, saat ini pihaknya bersama pengelola statuter telah membentuk anak perusahaan benama PT Holding Bumiputera Investama untuk mencari investor potensial dan menjual aset-aset AJB Bumiputera yang prospektif.

"Sekarang sudah kita tawarkan ini, yaitu properti yang ada di Depok, Sudirman, di beberapa kantor cabang yang prospektif dalam bentuk skema bumiputera investama yang berkisar sampai hampir Rp6 triliun. Lalu bagaimana kita jualnya apakah kita cari pebisnis secara langsung atau terbuka," imbuh Dumoly.

OJK, lanjut Dumoly menginginkan skema penawaran itu dilakukan secara terbuka. Pasalnya kalau terbuka prosesnya bisa transparan sehingga dapat menghindari nepotisme kolusi antara bumiputera dengan para pihak-pihak yang berpengaruh maupun OJK sendiri.

"Sehingga kita tawarkan melalui pasar modal, tp apakah bs IPO? Nggak bisa karena usianya (anak usaha Bumiputera) belum tiga tahun. Jadi yang bisa kita lakukan melalui back door listing. Back door listing kita lakukan dan yang benar-benar mau masuk dan mau menawarkan itu dari Evergreen," ungkap Dumoly.

Domuly menambahkan, "dari properti yang ada itu kami dapat laporan mereka akan dapat dana tunai kemudian mendapat notes perjanjian utang, itung-itungannya sudah ada dan bisa menutupi semua klaim."

Berdasarkan informasi yang diperoleh Katadata, aset finansial perusahaan asuransi tertua di Indonesia tersebut cuma Rp 5,5 triliun dan properti Rp 2,5 triliun. Alhasil, ada selisih besar antara aset dan kewajiban (liabilitas) AJB Bumiputera yang per Juli lalu mencapai Rp 20 triliunan.

Sementara, klaim AJB Bumiputera diramalkan mencapai Rp 6 triliun tahun ini. Pada 2017, nilai klaim diperkirakan hampir Rp 7 triliun, lalu di atas Rp 7 triliun pada 2018. Pembengkakan klaim terus berlanjut menembus Rp 8 triliun pada 2019 dan terus menanjak di tahun-tahun selanjutnya.

Tag: Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dumoly Freddy Pardede, Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera

Penulis: Fajar Sulaiman

Editor: Cahyo Prayogo

Foto: Sufri Yuliardi

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 3,514.87 3,478.27
British Pound GBP 17,169.60 16,991.11
China Yuan CNY 1,989.13 1,969.21
Dolar Amerika Serikat USD 13,179.00 13,047.00
Dolar Australia AUD 10,171.55 10,063.15
Dolar Hong Kong HKD 1,699.24 1,682.01
Dolar Singapura SGD 9,827.01 9,722.78
EURO Spot Rate EUR 14,736.76 14,583.94
Ringgit Malaysia MYR 3,292.28 3,255.24
Yen Jepang JPY 13,026.59 12,889.75

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5685.298 -21.730 543
2 Agriculture 1839.381 20.337 21
3 Mining 1529.120 -17.451 43
4 Basic Industry and Chemicals 609.503 -1.322 66
5 Miscellanous Industry 1506.105 -8.414 42
6 Consumer Goods 2433.794 -29.716 39
7 Cons., Property & Real Estate 505.553 -2.724 62
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1143.420 -5.081 57
9 Finance 891.913 3.447 89
10 Trade & Service 923.096 -3.079 124
No Code Prev Close Change %
1 MINA 105 178 73 69.52
2 FORZ 220 330 110 50.00
3 VICO 179 240 61 34.08
4 AGRS 153 204 51 33.33
5 ASJT 775 955 180 23.23
6 KDSI 472 580 108 22.88
7 KICI 131 159 28 21.37
8 INDY 750 900 150 20.00
9 DSNG 460 550 90 19.57
10 INKP 1,840 2,080 240 13.04
No Code Prev Close Change %
1 HDFA 300 226 -74 -24.67
2 MTSM 370 282 -88 -23.78
3 HOME 236 208 -28 -11.86
4 NAGA 197 174 -23 -11.68
5 JECC 6,100 5,400 -700 -11.48
6 IBST 2,250 2,010 -240 -10.67
7 MBSS 500 450 -50 -10.00
8 CEKA 1,850 1,670 -180 -9.73
9 ASBI 362 330 -32 -8.84
10 BBLD 680 620 -60 -8.82
No Code Prev Close Change %
1 INDY 750 900 150 20.00
2 BUMI 454 448 -6 -1.32
3 DOID 1,110 1,100 -10 -0.90
4 BIPI 100 108 8 8.00
5 TRAM 107 108 1 0.93
6 TLKM 4,370 4,370 0 0.00
7 PBRX 605 595 -10 -1.65
8 ASII 9,000 8,950 -50 -0.56
9 UNTR 27,250 26,900 -350 -1.28
10 KREN 400 426 26 6.50