Portal Berita Ekonomi Rabu, 18 Januari 2017

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

Executive Brief
  • Nokia 6 - Preorder Nokia 6 mencapai satu juta unit dalam waktu seminggu.
  • Tata Motors - Tata Motors tertarik bergabung dengan Pemerintah Indonesia untuk merealisasikan Mobil Pedesaan
  • Madrid - Tekan polusi udara, kota Madrid larang penggunaan mobil pribadi di tahun 2019
  • REI - REI DIY targetkan pembangunan rumah 1.500 unit di tahun 2017.
  • Lampung - Neraca perdagangan luar negeri Lampung catatkan surplus US$220,32 juta.
  • Thailand - Penjualan menurun di Thailand, Toyota tidak akan menambah jatah ekspor kesana
  • Piala Afrika (18/1) - Ghana 1 - 0 Uganda
  • Piala Afrika (18/1) - Mesir 0 - 0 Mali

Serikat Pekerja Mathilda Tolak Kerja Sama Asing RDMP

Foto Berita Serikat Pekerja Mathilda Tolak Kerja Sama Asing RDMP
Warta Ekonomi.co.id, Balikpapan -

Serikat Pekerja (SP) Mathilda menggelar doa bersama dan Aksi Peduli Refinery Development Master Plan (RDMP). Aksi peduli ini digelar di dalam pagar area kilang Pertamina RU V Kalimantan, Senin (9/1/2017).

Ketua SP Mathilda Mugiyanto mengatakan pihaknya mendukung akselerasi pembangunan dan pengembangan kilang sebagaimana diamanahkan melalui Perpres Nomor 146/2015 demi mewujudkan kemandirian dan ketahanan energi nasional melalui peningkatan penyediaan BBM dan produk turunan migas lainnya secara terintegrasi.

"SP Mathilda menolak skema pembiayaan dalam bentuk apapun, termasuk joint venture dengan perusahaan asing atau swasta lainnya dengan cara menggadaikan kilang eksisting atau aset perusahaan lainnya," tandasnya di Balikpapan, Senin (9/1/2017).

Pengembangan kilang, menurutnya, harus bertujuan untuk menguatkan ketahanan energi nasional dan menjaga kemandirian bangsa dalam pemenuhan BBM dalam negeri.

"Untuk itu, praktik unbundling, baik secara terbuka maupun tersembunyi, termasuk agenda penyertaan modal berupa aset perusahaan dalam proses joint venture RDMP harus dihindarkan," tegasnya.

Pekerja Pertamina ini juga mempertanyakan kebijakan direksi yang menurut mereka telah menggadaikan Kilang RU IV Cilacap dalam proses joint venture RDMP, termasuk juga mempertanyakan joint venture pada kilang lainnya.

"Direksi tidak peka terhadap aspirasi pekerja bahwa dengan beralihnya pengelolaan perusahaan ke manajemen joint venture maka perlindungan terhadap hak-hak dan status pekerja serta syarat-syarat kerja lainnya menjadi tidak jelas dan mengarah timbulnya ketidakpastian masa depan pekerja. Untuk itu, rencana tersebut harus dibatalkan," kritiknya.

Mugiyanto bahkan menyebutkan Pertamina pada tahun 2016 mendapat laba hingga Rp40 triliun. Jumlah itu nilainya lebih dari cukup untuk mendanai proyek RDMP. SP mendukung penuh jika penggunaan 100 persen dana Pertamina digunakan untuk pengembangan kilang.

"Seharusnya direksi melakukan perubahan kebijakan strategi pembiayaan investasi dari hulu ke hilir mengingat investasi di hulu juga belum menguntungkan karena turunnya harga minyak. Fokus investasi juga bisa diubah, dari dulu 70 persen ke hulu, ke upaya mencari minyak, dan 30 persen ke arah pengolahan, distribusi, atau ke hilir menjadi lebih sesuai. Bila sekarang sektor hilir memerlukan dana lebih tentu bisa difokuskan ke sini dulu, terlebih lagi di hulu juga sedang tidak bagus iklimnya dengan harga minyak mentah yang sedang jatuh," tukas Mugiyanto.

Diketahui, Dewan Direksi Pertamina menjaminkan Kilang Cilacap untuk mendapatkan dana sebesar Rp30 triliun untuk menambah kekurangan pembiayaan pengembangan kilang-kilang Pertamina, di antaranya Kilang Balikpapan yang dikelola Pertamina Refinery Unit V.

Saudi Aramco, merupakan perusahaan minyak Saudi Arabia dengan penyertaan modal dari Amerika Serikat bersedia mengucurkan dana dengan imbalan 45 persen dari penghasilan kilang tersebut hingga utang Pertamina lunas.

Tag: PT Pertamina (Persero), Balikpapan

Penulis: Andi Aliev

Editor: Cahyo Prayogo

Foto: Andi Aliev

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 3,514.87 3,478.27
British Pound GBP 17,169.60 16,991.11
China Yuan CNY 1,989.13 1,969.21
Dolar Amerika Serikat USD 13,179.00 13,047.00
Dolar Australia AUD 10,171.55 10,063.15
Dolar Hong Kong HKD 1,699.24 1,682.01
Dolar Singapura SGD 9,827.01 9,722.78
EURO Spot Rate EUR 14,736.76 14,583.94
Ringgit Malaysia MYR 3,292.28 3,255.24
Yen Jepang JPY 13,026.59 12,889.75

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5266.938 -3.073 541
2 Agriculture 1885.940 12.223 21
3 Mining 1396.131 1.193 43
4 Basic Industry and Chemicals 534.340 -1.838 66
5 Miscellanous Industry 1334.917 11.556 42
6 Consumer Goods 2335.552 -13.929 39
7 Cons., Property & Real Estate 518.602 0.971 63
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1053.013 5.208 56
9 Finance 801.764 0.204 89
10 Trade & Service 847.173 -4.711 122
No Code Prev Close Change %
1 BINA 338 422 84 24.85
2 OASA 292 364 72 24.66
3 HOTL 149 180 31 20.81
4 BIPI 115 137 22 19.13
5 SMDM 81 95 14 17.28
6 SSIA 525 605 80 15.24
7 IBST 1,850 2,100 250 13.51
8 BOLT 855 970 115 13.45
9 MYTX 62 70 8 12.90
10 NRCA 386 434 48 12.44
No Code Prev Close Change %
1 PLAS 320 248 -72 -22.50
2 TALF 420 360 -60 -14.29
3 CENT 161 142 -19 -11.80
4 BNLI 745 670 -75 -10.07
5 JAWA 173 157 -16 -9.25
6 MCOR 212 193 -19 -8.96
7 AMRT 615 560 -55 -8.94
8 LMPI 162 148 -14 -8.64
9 INAF 4,100 3,750 -350 -8.54
10 SMBR 2,180 1,995 -185 -8.49
No Code Prev Close Change %
1 BIPI 115 137 22 19.13
2 BUMI 410 420 10 2.44
3 DSFI 164 175 11 6.71
4 MCOR 212 193 -19 -8.96
5 WSBP 585 590 5 0.85
6 LEAD 128 133 5 3.91
7 INCO 2,510 2,490 -20 -0.80
8 BRMS 77 80 3 3.90
9 SSIA 525 605 80 15.24
10 AGII 910 915 5 0.55