Portal Berita Ekonomi Senin, 01 Mei 2017

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

Executive Brief
  • 09:21 WIB. AS - Seorang perwira AS yang tewas saat melakukan patroli di Mosul diketahui bernama Letnan Satu Weston Lee.
  • 09:20 WIB. Arab Saudi - Arab Saudi menahan 46 anggota sel pelaku kejahatan peristiwa bom bunuh diri di Masjid Nabawi tahun 2016.
  • 09:06 WIB. Kemang - Buronan KPK, Miryam S Haryani tertangkap di sebuah hotel di Kemang, Jakarta Selatan.
  • 08:52 WIB. Kemenpupera - Menteri Basuki meninjau pelaksanaan proyek pembangunan Underpass Jatingaleh.
  • 08:36 WIB. Kemenpupera - Kemenpupera merencanakan pembangunan 100 unit rumah sehat pada 2017 di Jayawijaya.
  • 08:14 WIB. Trump - Donald Trump akan mengadakan pembicaraan dengan Singapura dan Thailand membahas permasalahan nuklir Korut.
  • 07:51 WIB. Trump - Donald Trump meminta para sekutu di Asia merapatkan barisan menghadapi Korea Utara.
  • 07:41 WIB. Kemenpupera - Kemenpupera akan melakukan sejumlah revitalisasi danau yang ada di Indonesia.
  • 07:04 WIB. May Day - Kepolisian DIY akan menyiagakan 2.000 personel gabungan untuk mengamankan kegiatan May Day.
  • 00:06 WIB. BMKG - Waspadai hujan disertai angin kencang di sekitar Jabodetabek pada Senin siang hingga malam hari.
  • 10:43 WIB. Jakarta - Gubernur Pelembang Alex Noerdin raih penghargaan sebagai kepala daerah peduli olahraga dari PWI.

INDEF Himbau Perbankan Syariah Jangan Jadi Followers

Foto Berita INDEF Himbau Perbankan Syariah Jangan Jadi Followers
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Pangsa pasar perbankan syariah hingga saat ini masih berada di kisaran 5%. Padahal mayoritas penduduk tanah air berstatus sebagai muslim. Hal tersebut seharusnya menjadikan captive market bagi bisnis perbankan syariah. Lambatnya penetrasi industri syariah diduga dipicu oleh belum adanya kepercayaan diri bagi industri syariah untuk mengelola bisnisnya.

Direktur Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati mengatakan selama ini banyak lembaga perbankan syariah yang ikut masuk kedalam bisnis bank konvensional. Seharusnya dengan potensi pasar yang demikian besarnya itu, industri syariah dapat berkembang lebih cepat dari perbankan konvensional. Perihal jati diri bisnis menjadi salah satu faktor utama tidak berkembangnya bisnis syariah. “Perbankan syariah jangan hanya jadi followers perbankan konvensional, hanya namanya saja yang berbeda,” katanya kepada wartaekonomi, Rabu (11/1).

Lebih lanjut dirinya mengatakan jika tren perbankan konvensional sedang mengarah ke sektor komersial, industri syariah pun pasti akan mengekor di belakangnya. Padahal dengan kreativitas dan juga kualitas SDM yang ada, perbankan syariah dapat menciptakan produk-produk yang memang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan original.

Awal mula kelahiran bank syariah dikatakan Enny adalah adalah akibat dari kelemahan bank konvensional. Artinya selama ini ada sektor-sektor yang memang tidak bisa digarap oleh bank konvensional. Nah hal tersebut yang seharusnya dimanfaatkan secara maksmial oleh perbankan syariah.

“Selama ini bank syariah memiliki rumusan baku yang terkadang tidak cocok dengan kebutuhan masyarakat,  baik itu secara makro ataupun mikro. Nah dengan rumusan yang baik pula, perbankan syariah dapat masuk kesitu,” tutupnya.

Tag: Keuangan Syariah, Perbankan, Institute for Development of Economics and Finance (Indef)

Penulis: Gito Adiputro Wiratno

Editor: Sucipto

Foto: Agus Aryanto

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 3,514.87 3,478.27
British Pound GBP 17,169.60 16,991.11
China Yuan CNY 1,989.13 1,969.21
Dolar Amerika Serikat USD 13,179.00 13,047.00
Dolar Australia AUD 10,171.55 10,063.15
Dolar Hong Kong HKD 1,699.24 1,682.01
Dolar Singapura SGD 9,827.01 9,722.78
EURO Spot Rate EUR 14,736.76 14,583.94
Ringgit Malaysia MYR 3,292.28 3,255.24
Yen Jepang JPY 13,026.59 12,889.75

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5685.298 -21.730 543
2 Agriculture 1839.381 20.337 21
3 Mining 1529.120 -17.451 43
4 Basic Industry and Chemicals 609.503 -1.322 66
5 Miscellanous Industry 1506.105 -8.414 42
6 Consumer Goods 2433.794 -29.716 39
7 Cons., Property & Real Estate 505.553 -2.724 62
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1143.420 -5.081 57
9 Finance 891.913 3.447 89
10 Trade & Service 923.096 -3.079 124
No Code Prev Close Change %
1 MINA 105 178 73 69.52
2 FORZ 220 330 110 50.00
3 VICO 179 240 61 34.08
4 AGRS 153 204 51 33.33
5 ASJT 775 955 180 23.23
6 KDSI 472 580 108 22.88
7 KICI 131 159 28 21.37
8 INDY 750 900 150 20.00
9 DSNG 460 550 90 19.57
10 INKP 1,840 2,080 240 13.04
No Code Prev Close Change %
1 HDFA 300 226 -74 -24.67
2 MTSM 370 282 -88 -23.78
3 HOME 236 208 -28 -11.86
4 NAGA 197 174 -23 -11.68
5 JECC 6,100 5,400 -700 -11.48
6 IBST 2,250 2,010 -240 -10.67
7 MBSS 500 450 -50 -10.00
8 CEKA 1,850 1,670 -180 -9.73
9 ASBI 362 330 -32 -8.84
10 BBLD 680 620 -60 -8.82
No Code Prev Close Change %
1 INDY 750 900 150 20.00
2 BUMI 454 448 -6 -1.32
3 DOID 1,110 1,100 -10 -0.90
4 BIPI 100 108 8 8.00
5 TRAM 107 108 1 0.93
6 TLKM 4,370 4,370 0 0.00
7 PBRX 605 595 -10 -1.65
8 ASII 9,000 8,950 -50 -0.56
9 UNTR 27,250 26,900 -350 -1.28
10 KREN 400 426 26 6.50