Portal Berita Ekonomi Selasa, 24 Januari 2017

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

Executive Brief
  • Split - Pekan ini Film Split berhasil merajai Box Office dengan penghasilan US$ 40 Juta
  • Melbourne - Rafael Nadal melaju ke semifinal Australia Open usai menang atas Monfils 6-3, 6-3, 4-6, 6-4,
  • Rod Laver Arena - Milos Raonic meraih tiket semifinal Australia Open usai mengalahkan Roberto Bautista Agut empat set 7-6 (6), 3-6, 6-4, 6-1.
  • Riau - Satu unit rulo alami kebakaran di Riau.

Anggota DPR: Harus Ada Kebijakan Khusus Turunkan Harga Cabai

Foto Berita Anggota DPR: Harus Ada  Kebijakan Khusus Turunkan Harga Cabai
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Fluktuasi harga cabai yang akhir-akhir ini terjadi di tengah masyarakat memerlukan adanya kebijakan khusus yang sifatnya menyeluruh tidak hanya dalam hal budi daya tetapi juga distribusi, kata Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khaeron. Harus ada 'treatment' (perlakuan) khusus dari pemerintah agar bisa menurunkan kembali harga di tingkat petani pada tingkat harga yang lebih rasional, kata Herman Khaeron di Jakarta, Rabu (11/1/2017).

Politisi Partai Demokrat itu mengemukakan hal tersebut saat melakukan inspeksi mendadak yang dilakukan di Pasar Palmerah, Jakarta Barat, Rabu pagi . Menurut dia, berdasarkan pengecekan ke Direktorat Jenderal Hortikultura, sebenarnya awalnya harga di tingkat produksi normal, tetapi karena harga di pasar mengalami kenaikan maka harga di tingkat petani juga ikut naik pula.

Karena itu, ia berpendapat bila ternyata hasil budi daya cabai cukup untuk pasokan, tetapi harga di pasar melonjak tinggi, maka yang perlu diperhatikan adalah terkait dengan aspek pendistribusian yang harus benar-benar dikawal dengan baik.

Herman menegaskan solusinya tidak bisa dilakukan secara parsial terkait dengan produksi saja, tetapi juga harus komprehensif seperti ada yang bersifat khusus dalam hal distribusi, yang juga bisa terdampak oleh sejumlah faktor seperti libur panjang yang terjadi pada penggantian tahun.

Sebelumnya, pemerintah dinilai perlu mengembangkan teknologi produksi hortikultura untuk komoditas pangan nusantara agar dapat mencegah kerentanan iklim seperti yang dialami cabai yang harganya melonjak akhir-akhir ini. "Kami melihat perkembangan teknologi produksi hortikultura kita masih tertinggal dari berbagai negara. Padahal dengan jumlah penduduk yang besar kebutuhan pangan menjadi sangat strategis," kata Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI Bidang Ekonomi dan Keuangan Ecky Awal Mucharam, Selasa (10/1).

Dia berpendapat lonjakan harga pangan setiap tahun yang terus berulang, seharusnya didekati dengan manajemen peningkatan produksi dan manajemen pasokan yang baik. Untuk itu, ujar dia, pemerintah perlu membenahi tata niaga dan manajemen pasokan komoditas hortikultura, serta harus memangkas kartel-kartel pangan dan harus mengelola stok komoditas secara tepat.

"Saya kira, pemerintah juga perlu serius menjalankan rencana untuk membangun gudang besar berpendingin (cold storage) seperti yang dimiliki Dubai untuk mengelola pangan-pangan strategis," katanya. Hal tersebut, lanjutnya, ketika pasokan tinggi, pasokan yang ada bisa disimpan di gudang berpendingin itu untuk selanjutnya dapat digunakan pada saat produksi berkurang.

Menurut Ecky, pengembangan teknologi produksi hortikultura yang harus ditingkatkan, selain mengembangkan produk olahan turunan untuk komoditas tersebut agar lebih tahan lama. Pengembangan varietas unggul yang tahan terhadap perubahan musim telah berkembang dinilai seharusnya dapat dikembangkan secara masif oleh pemerintah.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo di Pekalongan, Senin (9/1)mengatakan kenaikan harga cabai rawit merah yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia belakangan ini disebabkan karena cuaca dan musim yang buruk pada 2016. (Ant)

Tag: Cabai, Pertanian

Penulis: ***

Editor: Sucipto

Foto: Sufri Yuliardi

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 3,514.87 3,478.27
British Pound GBP 17,169.60 16,991.11
China Yuan CNY 1,989.13 1,969.21
Dolar Amerika Serikat USD 13,179.00 13,047.00
Dolar Australia AUD 10,171.55 10,063.15
Dolar Hong Kong HKD 1,699.24 1,682.01
Dolar Singapura SGD 9,827.01 9,722.78
EURO Spot Rate EUR 14,736.76 14,583.94
Ringgit Malaysia MYR 3,292.28 3,255.24
Yen Jepang JPY 13,026.59 12,889.75

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5250.968 -3.343 539
2 Agriculture 1896.077 1.496 21
3 Mining 1384.941 3.035 43
4 Basic Industry and Chemicals 532.183 -2.193 66
5 Miscellanous Industry 1332.032 2.763 42
6 Consumer Goods 2343.505 10.738 39
7 Cons., Property & Real Estate 516.292 -5.304 61
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1028.087 -1.536 56
9 Finance 799.166 -1.216 89
10 Trade & Service 855.133 -2.594 122
No Code Prev Close Change %
1 WICO 62 83 21 33.87
2 HOTL 145 180 35 24.14
3 HDFA 210 260 50 23.81
4 WAPO 57 70 13 22.81
5 UNIC 2,230 2,690 460 20.63
6 DNAR 256 296 40 15.62
7 LMAS 66 76 10 15.15
8 DGIK 76 87 11 14.47
9 TBMS 680 745 65 9.56
10 KDSI 330 358 28 8.48
No Code Prev Close Change %
1 INAF 3,400 2,550 -850 -25.00
2 IKBI 344 262 -82 -23.84
3 MLIA 555 424 -131 -23.60
4 DPNS 396 314 -82 -20.71
5 BINA 456 384 -72 -15.79
6 PLAS 206 180 -26 -12.62
7 BCIP 176 157 -19 -10.80
8 NAGA 218 196 -22 -10.09
9 MGNA 110 100 -10 -9.09
10 PTSN 76 70 -6 -7.89
No Code Prev Close Change %
1 ENRG 50 54 4 8.00
2 BRMS 89 90 1 1.12
3 BUMI 416 446 30 7.21
4 DYAN 66 69 3 4.55
5 DEWA 72 71 -1 -1.39
6 DGIK 76 87 11 14.47
7 TLKM 3,830 3,840 10 0.26
8 BWPT 304 326 22 7.24
9 PBRX 442 444 2 0.45
10 LMAS 66 76 10 15.15