Portal Berita Ekonomi Minggu, 23 April 2017

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

Executive Brief
  • 18:56 WIB. Korea Utara - Korea Utara sesumbar dapat menenggelamkan kapal induk AS.
  • 18:55 WIB. Liga 1 Indonesia (23/4) - Bali United 1 - 2 Persipura
  • 18:27 WIB. Jakarta - Bersama Menkes dan Menag, Menteri Puan tinjau langsung fasilitas Haji di Arab Saudi.
  • 18:25 WIB. Jakarta - Sandiaga sebut warga Jakarta semakin cerdas untuk tolak sembako politik.
  • 17:59 WIB. ISIS - Densus 88 memeriksa tiga WNI asal Jawa Barat setelah dideportasi dari Turki karena diduga hendak bergabung dengan ISIS.
  • 17:17 WIB. Kemenhub - Kemenhub berharap kedatangan kapal kontainer CMA-CGM Otello berdampak positif bagi ekspor impor Indonesia.
  • 17:16 WIB. Pertamina - Pertamina MOR VI Kalimantan menggelar promo Bright Gas 5,5 kg sejak 21 April hingga 26 April.
  • 17:15 WIB. Kemenhub - Kemenhub menerima hibah barang milik daerah dari Provinsi Maluku Utara senilai Rp169,29 miliar.
  • 16:51 WIB. XL - XL Axiata meresmikan peluncuran layanan jaringan 4G LTE untuk pelanggan di Kalimantan Timur.
  • 16:39 WIB. Jakarta - Sandi janji akan lepas saham Bir yang dimiiki DKI usai dilantik.
  • 16:37 WIB. Pilgub DKI - PPP akui tidak akan mampu raih suara pendukung saat Ahok terlibat kasus penistaan Agama.
  • 16:34 WIB. Sidoarjo - Mensos Khofifah ikut merayakan Isra Miraj dengan keluarga NU di Sidoarjo, Jawa Timur.

Generasi Milenial Tak Bisa Beli Rumah, Gerindra: Gara-gara Jokowi

Foto Berita Generasi Milenial Tak Bisa Beli Rumah, Gerindra: Gara-gara Jokowi
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Kebijakan pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dituding menjadi salah satu penyebab generasi milenial kehilangan daya beli atas rumah tinggal.

Wakil ketua Umum Gerindra Arief Poyuono mengatakan pemerintahan Jokowi sudah gagal menciptakan kenaikan masyarakat kelas menengah di perkotaan. Ia mengatakan bahwa saat ini pendapatan generasi milenial hanya naik 10 persen pertahun, sedangkan kenaikan harga tanah sebesar 15-20 persen pertahun.

"Kalau generasi milenial tidak bisa membeli rumah banyak penyebabnya. Salah satunya adalah kebijakan pemerintah yang menaikkan pajak PBB sangat tinggi di Jakarta. Kedua, akibat sektor properti hunian di Jakarta jadi semacam produk di pasar modal dengan cara melakukan bubble harga hunian properti oleh para mafia pengembang yang berakibat tingginya nilai harga properti di kota," katanya kepada wartawan di Jakarta, Jumat (17/2/2017).

Arief Poyuono menuding pemerintahan Jokowi gagal menjaga tingkat inflasi dan nilai mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sehingga menggerus pendapatan masyarakat.

"Lalu akibat bunga pinjaman kredit perbankan untuk properti yang sangat tinggi di atas 12% dibandingkan negara-negara di ASEAN," tegasnya.

Ia mengakui harga rumah tinggal di perkotaan pasti lebih tinggi apabila dibandingkan dengan di pedesaan. Akan tetapi, ia menegaskan apabila dibandingkan dengan negara-negara anggota G-20 maka hanya generasi milenial di Indonesia saja yang tidak mampu membeli rumah tinggal di perkotaan.

"Apalagi, buruh yang UMR hanya naik berdasarkan nilai inflasi maka tidak akan pernah mimpi punya hunian tinggal di kota. Paling, buruh hanya mampu tinggal di rumah kontrakan/petakan. Itupun patungan. Sudah jelas Joko Widodo gagal total," tukasnya.

Arief mendesak pemerintah menciptakan kota-kota industri dan kota satelit  di daerah-daerah dengan fasilitas mendekati ibukota dan juga sistem kepemilikan tanah yang lebih baik sehingga bisa membuka lapangan kerja baru.

"Dengan demikian, generasi milenial bisa bekerja dan tingkat pendapatan naik. Secara otomatis akan menciptakan penurunan harga hunian di ibukota akibat pindahnya warga kota Jakarta ke kota-kota satelit. Kalau dengan mengunakan cara-cara pengelolaan dan kebijakan ekonomi yang dilakukan Jokowi maka generasi milenial tidak akan pernah bisa memiliki hunian di kota," pungkasnya.

Tag: FX Arief Poyuono, Joko Widodo (Jokowi), Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra)

Penulis/Editor: Cahyo Prayogo

Foto: Mariarina.wordpress.com

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 3,514.87 3,478.27
British Pound GBP 17,169.60 16,991.11
China Yuan CNY 1,989.13 1,969.21
Dolar Amerika Serikat USD 13,179.00 13,047.00
Dolar Australia AUD 10,171.55 10,063.15
Dolar Hong Kong HKD 1,699.24 1,682.01
Dolar Singapura SGD 9,827.01 9,722.78
EURO Spot Rate EUR 14,736.76 14,583.94
Ringgit Malaysia MYR 3,292.28 3,255.24
Yen Jepang JPY 13,026.59 12,889.75

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5664.475 69.169 541
2 Agriculture 1823.242 -21.549 21
3 Mining 1527.258 -9.366 43
4 Basic Industry and Chemicals 604.665 0.747 66
5 Miscellanous Industry 1536.728 81.861 42
6 Consumer Goods 2438.363 10.107 39
7 Cons., Property & Real Estate 508.320 5.827 61
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1144.585 47.100 57
9 Finance 876.611 2.719 89
10 Trade & Service 917.711 9.714 123
No Code Prev Close Change %
1 BBHI 104 140 36 34.62
2 BGTG 88 117 29 32.95
3 ALKA 131 161 30 22.90
4 ASBI 358 426 68 18.99
5 RANC 412 480 68 16.50
6 HITS 650 745 95 14.62
7 ALMI 170 189 19 11.18
8 BAYU 900 1,000 100 11.11
9 SKLT 780 860 80 10.26
10 ARII 304 332 28 9.21
No Code Prev Close Change %
1 ASJT 600 472 -128 -21.33
2 HOME 256 212 -44 -17.19
3 BMAS 420 350 -70 -16.67
4 MFIN 1,350 1,150 -200 -14.81
5 TIRA 268 230 -38 -14.18
6 ERTX 184 160 -24 -13.04
7 JKSW 67 59 -8 -11.94
8 CANI 525 464 -61 -11.62
9 INCI 390 350 -40 -10.26
10 NAGA 180 165 -15 -8.33
No Code Prev Close Change %
1 BNLI 675 695 20 2.96
2 TLKM 4,110 4,420 310 7.54
3 ASII 8,575 9,150 575 6.71
4 SRIL 308 306 -2 -0.65
5 KBLI 645 670 25 3.88
6 RIMO 153 166 13 8.50
7 PRAS 200 198 -2 -1.00
8 KAEF 2,310 2,460 150 6.49
9 BBNI 6,250 6,150 -100 -1.60
10 JSMR 4,510 4,470 -40 -0.89