Portal Berita Ekonomi Rabu, 29 Maret 2017

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

Executive Brief
  • 22:47 WIB. DK OJK - Komisi XI mengatakan pihaknya menjadwalkan fit and proper test 14 calon DK-OJK pada 14 April.
  • 22:45 WIB. Meksiko - Kerusuhan penjara di Meksiko utara mengakibatkan dua narapidana tewas.
  • 21:31 WIB. London - PM Theresa May resmi mengajukan surat pengunduran Inggris dari Uni Eropa.
  • 21:30 WIB. Pilgub DKI - Sandiaga janji akan benahi transportasi umum Jakarta.
  • 21:27 WIB. Jakarta - MPR tanggapi aksi 313 sebagai hak demokrasi warga Indonesia.
  • 21:04 WIB. PPRO - PP Properti Tbk. mengumumkan harga pelaksanaan right issue sebesar Rp280 per saham.
  • 20:14 WIB. BIRD - Blue Bird Tbk. mematok belanja modal tahun ini di kisaran Rp1 triliun naik sedikit dari realisasi tahun lalu sekitar Rp900 miliar.
  • 20:12 WIB. BIRD - Blue Bird Tbk. akan mengoptimalkan pendapatan dari lini bisnis baru yang dirintis perseroan sejak tahun lalu.
  • 19:16 WIB. Berlin -  Volkswagen has filed a legal complaint with a Munich court against the searches carried out by German prosecutors.
  • 19:12 WIB. Somalia - Bencana kekeringan di Somalia memaksa lebih dari 3.000 orang mengungsi setiap hari.
  • 19:07 WIB. Nigeria - Wabah meningitis yang melanda Nigeria mengakibatkan 269 orang tewas.
  • 19:06 WIB. London - Ford warns Brexit deal must include tariff-free access to customs union.
  • 18:58 WIB. BMSR - Harga saham Bintang Mitra Semestaraya Tbk  mengalami penurunan paling dalam pada perdagangan hari ini, Rabu (29/3/2017).
  • 18:59 WIB. SDPC - PT Millennium Pharmacon International Tbk  membukukan penguatan harga saham paling tajam pada perdagangan hari ini, Rabu (29/3/2017).
  • 18:54 WIB. Berlin - Mercedes-Benz owner Daimler is accelerating its electric car program.

Mengobati Birocrazy

Foto Berita Mengobati Birocrazy
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Birokrasi sudah lama menjadi sasaran kritik karena dinilai kurang mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat. Bukannya melayani, birokrasi justru ingin dilayani bahkan beberapa ada yang terjebak dalam kubangan korupsi. Perayaan HUT Korpri 29 November lalu harusnya bisa menjadi ajang refleksi, mau kemana dan harus bagaimana birokrasi Indonesia ke depan.

 

Menurut Dwiyanto, birokrasi sedang terjangkit penyakit parah yaitu kecenderungannya yang kuat pada status quo. Maksudnya, birokrasi sulit untuk diajak berubah. Tak peduli orde baru atau reformasi, birokrasi selalu begitu. Mau undang-undang lama atau baru, birokrasi tetap begitu. Presidennya sudah berganti-ganti, birokrasi masih saja begitu. Ciri yang selalu melekat pada birokrasi  dari dulu hingga sekarang adalah orientasinya pada kekuasaan, korupsi, pengejar rente, malas, menunggu perintah, paternalistik dan feodal.

 

Ada dua penyebab mengapa wajah birokrasi indonesia bisa seperti ini, yaitu faktor sejarah dan salah teori. Dilihat dari sejarahnya, gen birokrasi indonesia berasal dari pelayan raja di masa kerajaan terdahulu. Namanya juga pelayan raja, yang dilayani adalah para raja, bukan masyarakatnya. Masyarakat bukan sumber kekuasaan melainkan entitas yang berpotensi mengancam “tatanan” sehingga harus diamankan atau ditertibkan oleh kepanjangan tangan raja alias para pelayan raja. Kolonialisme eropa ternyata tidak menghapus karakter itu. Lagian untuk apa melayani masyarakat kalau niatnya menjajah. Orientasi melayani penguasa ini semakin diperkuat lagi pada masa orde baru dengan cara yang lebih sophisticated yaitu dengan membangun sistem karier birokrasi yang berpedoman pada selera atasan. tanpa patuh pada atasan, seorang pegawai rendahan tak akan bisa naik pangkat.

 

Budaya organisasi yang serba atasan ini kian mengakar ketika teori birokrasi resmi republik ini adalah birokrasi a la weberian plus manajemen pegawai taylorism. Dalam model ini, birokrasi diandaikan sebagai organisasi yang tersusun secara hirarkis, terspesialisasi, berdasarkan sop yang kaku nan baku. Lantaran kaku dan baku, perubahan kreatif atau inovasi menjadi sulit dilakukan. Dalam struktur organisasi yang hirarki itu, semakin ke atas struktur, tugasnya semakin manajerial atau think. Sebaliknya semakin rendah struktur, tugasnya semakin teknis. Hal ini mempersulit peluang adanya inovasi. Sebab sebuah inovasi kecil sekalipun harus meminta persetujuan dari atasan.

 

Teori yang bercampur dengan budaya organisasi yang feodal-kolonial inilah yang disebut dengan penyakit Weberian Plus. Penyakit Weberian Plus ini memiliki ciri utama: penguasa minded, hirarkis formalistik, rendah inovasi. Maka jangan heran jika hirarki organisasi tidak hanya urusan kedinasan melainkan selalu diikuti dengan embel-embel lainnya. Misalnya ketika mengisi daftar hadir acara. Urutan nomor kecil hanyalah milik atasan. Jadi sekalipun atasan telat, tandatangannya ya tetap di nomor satu; atasan mendapat parkiran tersendiri; berbicara dengan atasan jangan lupa mengucapkan mohon izin atau mohon arahan. Tentu saja webber tidak berpikir sejauh itu. Itu hanya modifikasi teori webber yang bercampur dengan budaya birokrasi feodal-kolonial.

 

Mengobati penyakit birokrasi yang sudah mendasawarsa ini butuh kerja keras. Pertama, dibutuhkan agen perubahan. Kedua, dibutuhkan pemimpin perubahan. Lalu apa instrumen atau alat yang dapat mengusahakan itu?

 

Dwiyanto melihat bahwa pendidikan adalah instrumen manipulasi karakter yang paling efektif. Posisinya sebagai Kepala LAN benar-benar dimanfaatkan untuk mereformasi kurikulum diklat PIM dan diklat Prajabatan. Jika sebelumnya diklat PIM menekankan kemampuan kognisi peserta yang dibuktikan dengan paper ilmiah, kini diklat PIM menuntut kemampuan peserta (umumnya pejabat) untuk membuat inovasi. Demikian juga pada diklat Prajabatan. Yang tadinya peserta hanya mendapat materi hak dan kewajiban pegawai, kini peserta dituntut untuk merancang dan melaksanakan kegiatan yang sesuai dengan nilai Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti Korupsi.

 

Dibandingkan buku bertema birokrasi yang lain, buku ini memiliki keunikan tersendiri. Buku ini terletak pada pemaparan pengalaman pribadi penulis, yang berlatar belakang akademisi, dalam memimpin salah satu lembaga pemerintahan, yaitu Lembaga Administrasi Negara (LAN). Sehingga buku ini tidak hanya bercerita tentang teori administrasi atau seni kepemimpinan belaka. 

 

Agus Dwiyanto berada di tengah tegangan kutub dilematik itu. Sebab yang jamak terjadi pemimpin terlalu textbook mengikuti teori. Lalai bahwa teori selalu merucut ketika hendak menggenggam realitas dunia yang bergerak sangat cepat dan dinamis, yang oleh Giddens disebut sebagai runaway world. Di sisi lain banyak juga pemimpin yang mengabaikan teori sebagaimana terangkum dalam ungkapan “tak peduli kucing hitam atau putih asal tujuan tercapai. Ini bahaya karena kucing ada juga yang penyakitan sehingga menyengsarakan pemilik dan lingkungannya. Agus Dwiyanto berhasil mengatasi dilema ini dengan tidak terlalu teori atau praktek minded. Dalam buku itu, teori menjadi aplikatif, praktik menjadi ideologis. 

 

 

Zamzam Muhammad Fuad. S.IP, M.Si 

Penulis adalah PNS di Dewan Perwakilan Daerah RI (DPD), tengah menyiapkan buku biografi dan pemikiran politik Eko Cahyo Prihantono

Tag: buku

Penulis: Redaksi

Editor: Ferry Hidayat

Foto: UGM Press

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 3,514.87 3,478.27
British Pound GBP 17,169.60 16,991.11
China Yuan CNY 1,989.13 1,969.21
Dolar Amerika Serikat USD 13,179.00 13,047.00
Dolar Australia AUD 10,171.55 10,063.15
Dolar Hong Kong HKD 1,699.24 1,682.01
Dolar Singapura SGD 9,827.01 9,722.78
EURO Spot Rate EUR 14,736.76 14,583.94
Ringgit Malaysia MYR 3,292.28 3,255.24
Yen Jepang JPY 13,026.59 12,889.75

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5592.510 51.308 540
2 Agriculture 1855.822 35.223 21
3 Mining 1516.040 23.159 43
4 Basic Industry and Chemicals 589.872 10.001 66
5 Miscellanous Industry 1482.871 36.961 42
6 Consumer Goods 2438.334 16.794 39
7 Cons., Property & Real Estate 504.490 2.205 61
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1104.650 16.082 57
9 Finance 874.132 5.856 89
10 Trade & Service 894.795 -3.198 122
No Code Prev Close Change %
1 SDPC 111 149 38 34.23
2 ARII 302 376 74 24.50
3 ICON 230 286 56 24.35
4 SKLT 600 740 140 23.33
5 DKFT 424 500 76 17.92
6 FISH 2,650 3,100 450 16.98
7 KBLI 550 640 90 16.36
8 AUTO 2,590 2,900 310 11.97
9 SSIA 600 670 70 11.67
10 RMBA 430 480 50 11.63
No Code Prev Close Change %
1 BMSR 138 90 -48 -34.78
2 TIRA 288 222 -66 -22.92
3 INRU 300 260 -40 -13.33
4 APLI 147 130 -17 -11.56
5 PORT 625 570 -55 -8.80
6 ARTO 155 142 -13 -8.39
7 GSMF 108 99 -9 -8.33
8 EMTK 10,000 9,175 -825 -8.25
9 ADES 1,250 1,155 -95 -7.60
10 MAMI 79 73 -6 -7.59
No Code Prev Close Change %
1 SRIL 356 382 26 7.30
2 PGAS 2,410 2,540 130 5.39
3 MYRX 122 136 14 11.48
4 TLKM 4,080 4,150 70 1.72
5 INDF 7,950 8,000 50 0.63
6 KBLI 550 640 90 16.36
7 ADRO 1,800 1,820 20 1.11
8 MAMI 79 73 -6 -7.59
9 BUMI 338 332 -6 -1.78
10 HMSP 4,010 4,010 0 0.00