Portal Berita Ekonomi Minggu, 23 Juli 2017

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

Executive Brief
  • 22:52 WIB. AIA -¬†AIA Financial Cervices menyerahkan dana CSR¬†sebesar Rp300 juta ke Badan Amil Zakat Nasional.
  • 21:50 WIB. e-KTP - DPD Golkar se-Indonesia solid dukung Setnov.
  • 21:49 WIB. Pilpres - PKB harap pilpres 2019 digandeng Jokowi.
  • 21:49 WIB. e-KTP - Golkar harap KPK berpegang pada fakta hukum.
  • 21:48 WIB. Pilpres - PKB: Presidential Threshold bukan untuk hasilkan capres tunggal.
  • 21:46 WIB. Narkotika - BNN sebut Pretty Asmara tak pernah jadi duta antinarkoba.
  • 21:45 WIB. Jakarta - Mantan Gubernur DKI Jakarta Soerjadi Soedirdja pesan kepada Sandiaga tunduk kepada pemerintah pusat.
  • 21:44 WIB. Jakarta - Sandiaga dapat pesan dari mantan Gubernur DKI.
  • 21:43 WIB. Jokowi - Presiden Jokowi usul program sosial jadi PR untuk pelajar.
  • 21:43 WIB. SMS Ancaman - HM: Berkas Hary Tanoe masih di Polri.
  • 21:42 WIB. Makassar - Dishub Makassar akui macet karena kelebihan kendaraan.

Firdaus Nilai Peraturan OJK Bantu Turunkan Defisit Reasuransi

Foto Berita Firdaus Nilai Peraturan OJK Bantu Turunkan Defisit Reasuransi
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 14/POJK.05/2015 tentang Retensi Sendiri dan Dukungan Reasuransi Dalam Negeri dinilai mampu membantu menurunkan defisit neraca pembayaran industri reasuransi.

"Sejak kita terbitkan POJK tahun 2015 mengenai kewajiban prioritaskan perusahaan reasuransi dalam negeri, itu turunkan defisit neraca berjalan di sektor reasuransi," kata Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) OJK Firdaus Djaelani di Jakarta, Rabu (15/3/2017).

Dibandingkan 2015, lanjutnya, pada 2016 ada penurunan jauh, yang mana waktu itu mendekati satu miliar dolar AS namun kemudian hanya 500-600 juta dolar AS.

Kendati demikian, menurut Firdaus, defisit neraca pembayaran industri reasuransi tidak akan pernah surplus untuk saat ini mengingat masih terbatasnya modal perusahaan reasuransi.

"Defisit makin menurun tapi tidak akan pernah sampai 'zero' atau surplus karena modal reasuransi terbatas tapi objek tanggungan asuransi kan makin lama nilainya makin besar, jadi tidak akan pernah positif," ujarnya.

Sementara itu, terkait dengan reasuransi dukungan dana atau financial reinsurance (finrei), menurut ia dapat dijadikan sebagai terobosan baru bagi perusahaan asuransi dalam memperluas usahanya yang sering terkendala permodalan.

Firdaus menuturkan, finrei merupakan praktik yang lazim dilakukan di luar negeri, terutama bagi perusahaan asuransi yang memiliki Risk Based Capital (RBC) mendekati batas minimum yang ditentukan OJK 120 persen "Finrei ini kan untuk perusahaan asuransi yang RBC-nya agak mepet, sementara ia butuh waktu untuk mengembangkan usahanya atau menambah modal. Makanya ia harus izin sama kita untuk melakukan finrei," katanya.

Firdaus menambahkan, penerapan mekanisme Finrei sendiri bukan merupakan sesuatu yang populer di industri domestik. Finrei ditujukan kepada upaya sementara bagi perusahaan asuransi untuk dapat memenuhi ketentuan kesehatan keuangan melalui pengalihan eksposur liabilitas kepada pihak reasuradur.

Penerapan finrei diharapkan tidak sampai menjadi opsi yang akan dipilih bagi pelaku industri mengingat mekanisme tersebut hanya bersifat sementara sehingga tidak menggambarkan kondisi kesehatan keuangan yang sesungguhnya.

Akhir tahun lalu, OJK telah menerbitkan Peraturan OJK Nomor 71 Tahun 2016 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi.

"Rata-rata industri kita sekarang bagus-bagus. Asuransi jiwa rata-rata 500 persen, asuransi umum 250 persen. Tapi kan aturan itu kita siapkan saja manakala suatu saat ada perusahaan asuransi yang dalam rangka pengembangan usaha butuh waktu untuk menambah modal ia tinggal minta izin kepada kita untuk melakukan finrei," ujarnya. (Ant)

Tag: Otoritas Jasa Keuangan, Asuransi

Penulis: ***

Editor: Sucipto

Foto: Sufri Yuliardi

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,571.05 3,534.37
British Pound GBP 1.00 17,368.17 17,186.40
China Yuan CNY 1.00 1,986.20 1,966.33
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 13,390.00 13,256.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,627.64 10,514.66
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,715.13 1,697.64
Dolar Singapura SGD 1.00 9,799.47 9,697.86
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,579.27 15,420.70
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,124.13 3,090.70
Yen Jepang JPY 100.00 11,971.39 11,848.41

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5765.424 -59.784 558
2 Agriculture 1793.082 4.345 18
3 Mining 1466.837 -10.053 44
4 Basic Industry and Chemicals 618.059 -4.488 67
5 Miscellanous Industry 1398.521 -49.715 41
6 Consumer Goods 2489.161 -28.855 45
7 Cons., Property & Real Estate 483.095 -1.806 65
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1174.047 -13.703 60
9 Finance 945.670 -11.217 89
10 Trade & Service 918.198 2.093 129
No Code Prev Close Change %
1 HDFA 193 260 67 34.72
2 BIPP 78 100 22 28.21
3 MABA 1,215 1,515 300 24.69
4 DPNS 336 408 72 21.43
5 KOIN 286 340 54 18.88
6 FORU 191 222 31 16.23
7 PADI 340 390 50 14.71
8 TIRA 242 270 28 11.57
9 LPGI 5,350 5,950 600 11.21
10 TRAM 81 90 9 11.11
No Code Prev Close Change %
1 AISA 1,605 1,205 -400 -24.92
2 UNIT 286 220 -66 -23.08
3 TGKA 2,700 2,090 -610 -22.59
4 ASJT 775 640 -135 -17.42
5 SIMA 690 570 -120 -17.39
6 PALM 420 370 -50 -11.90
7 BBLD 685 605 -80 -11.68
8 SDRA 900 815 -85 -9.44
9 LION 930 855 -75 -8.06
10 GPRA 154 142 -12 -7.79
No Code Prev Close Change %
1 AISA 1,605 1,205 -400 -24.92
2 SRIL 356 358 2 0.56
3 LEAD 64 65 1 1.56
4 ASII 8,550 8,200 -350 -4.09
5 HOKI 404 414 10 2.48
6 ERTX 187 189 2 1.07
7 TLKM 4,630 4,560 -70 -1.51
8 TRAM 81 90 9 11.11
9 WSBP 430 430 0 0.00
10 PBRX 540 525 -15 -2.78