Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Sampah rumah tangga di kawasan Koja, Jakarta Utara, tak lagi sekadar menjadi persoalan lingkungan. Di Gang Hijau Cemara, Kelurahan Tugu Utara, warga dapat menabung sampah untuk ditukar dengan oli kendaraan sekaligus menghasilkan tambahan pendapatan.
Konsep tersebut dikembangkan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Pertamina Lubricants di sekitar Production Unit Jakarta. Program yang berjalan di Kampung Cemara ini menggabungkan pengelolaan lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Salah satu bentuknya adalah Bengkel Cemara yang dikelola Karang Taruna RW 01. Warga dapat melakukan penggantian oli dengan memanfaatkan tabungan sampah, sehingga tidak perlu membayar seluruh biaya menggunakan uang tunai.
Corporate Secretary PT Pertamina Lubricants, Rika Gresia Wahyudi, mengatakan nilai penggantian oli dapat disetarakan dengan sekitar 5 kilogram sampah. Dengan kemampuan satu keluarga mengumpulkan rata-rata sekitar 1 kilogram sampah per hari, kebutuhan tersebut dapat dikumpulkan warga dalam waktu sekitar satu bulan.
"Untuk ganti oli itu kan harganya setara dengan misalnya kalau tabungan sampahnya itu sekitar 5 kilo. Nah dalam satu hari satu KK itu bisa mengumpulkan sekitar 1 kg sampah. Jadi dalam sebulan itu mereka sudah pasti bisa untuk mengganti oli di sini tanpa harus menggunakan uang tapi dengan tabungan memanfaatkan tabungan sampah mereka," ujar Rika di Jakarta Rabu (12/8/2026).
Ketua kelompok pengelola Gang Hijau Cemara RW 01 Kelurahan Tugu Utara Dani Arwanto mengatakan kegiatan di kawasan tersebut sebenarnya telah dimulai sejak 2013. Namun, dukungan dari Pertamina Lubricants mulai diterima sejak 2022.
"Kami berkegiatan sejak tahun 2013 dan kami di-support sejak tahun 2022. Dan sampai saat ini kegiatan program yang ada di tempat kami terus berlanjut dan meningkat," kata Dani.
Menurut Dani, pengelolaan lingkungan menjadi salah satu kegiatan utama masyarakat. Selain kebersihan, warga mengembangkan ketahanan pangan dan berbagai kegiatan produktif berbasis pengolahan sampah.
Sampah organik diolah menjadi maggot, pakan ternak, pakan ikan, pelet biomassa, hingga pupuk. Sementara sampah anorganik seperti plastik, kardus, dan minyak jelantah juga dikumpulkan melalui bank sampah.
Volume sampah yang dikelola pun cukup besar. Dani menyebut sampah yang masuk ke kawasan tersebut dapat mencapai 500 kilogram hingga 1 ton per hari.
Sumbernya tidak hanya berasal dari rumah tangga di sekitar Gang Hijau Cemara. Sampah juga datang dari pasar, hotel, restoran, dan perkantoran di kawasan Kecamatan Koja.
Produk hasil pengolahan sampah kemudian dimanfaatkan untuk kebutuhan internal maupun dijual. Menurut Dani, komunitas binaan di luar RW 01 juga telah membeli pakan yang dihasilkan dari pengolahan tersebut.
"Selain dipakai sendiri, pakan sendiri maggot dipakai sendiri tapi komunitas-komunitas binaan kita di luar daripada RW 01 meminta juga untuk memberikan pakannya juga membeli," kata Dani.
Bagi warga, manfaat ekonomi tidak hanya berasal dari produk olahan sampah. Sistem tabungan sampah juga memberikan kesempatan bagi masyarakat mendapatkan uang dari sampah yang mereka kumpulkan.
Dani mencontohkan, ibu-ibu yang tergabung dalam program pendidikan anak usia dini (PAUD) bahkan dapat mengumpulkan tabungan sampah hingga lebih dari Rp2 juta pada akhir periode pembelajaran.
"Kalau sampai ibu-ibu PAUD kalau mereka nabung sampai di akhir pelajaran itu sampai lebih dari dua juta lah gitu ya kan uangnya itu. Nah itu bisa dibagikan dan kapan pun bisa diambil," ujarnya.
Konsep serupa diterapkan melalui Green PAUD Cemara. Program tersebut telah berjalan hingga tujuh angkatan dan tidak memungut biaya pendidikan dalam bentuk uang, melainkan mendorong wali murid menyetorkan sekitar 2 kilogram sampah setiap bulan.
Namun, edukasi tidak hanya diberikan kepada anak-anak. Orang tua juga dilibatkan agar kebiasaan memilah dan menabung sampah dapat diterapkan di rumah.
"Jadi yang bersekolah di Gang Hijau Cemara ini tidak bukan hanya mengeluarkan uang tapi akan mendapatkan uang dari hasil tabungan sampah yang kami kelola di sini di bank sampah kami," kata Dani.
Selain pendidikan, Kampung Cemara juga mengembangkan program kesehatan melalui Posbindu. Warga juga menjalankan peternakan, perikanan, hidroponik, dan budidaya anggur sebagai bagian dari program ketahanan pangan.
Dani mengatakan berbagai kegiatan tersebut melibatkan masyarakat dan pengurus wilayah, termasuk RT, RW, kelurahan, hingga kecamatan.
Menurut dia, keterlibatan warga menjadi faktor penting agar program dapat bertahan dalam jangka panjang. Ia bahkan menilai kegiatan tersebut kini telah bergeser dari sekadar program CSR menjadi kebutuhan masyarakat.
"Program ini bukan kegiatan, bukan lagi program tapi kebutuhan masyarakat, yang tentunya nantinya itu akan dirubah menjadi satu ekonomi sirkular yang kita bentuk untuk UMKM-nya," ujarnya.
Baca Juga: Bank Jakarta Bangun Biodigester, 500 Kg Sampah Organik per Hari Disulap Jadi Biogas
Ia juga menekankan bahwa pengelolaan Gang Hijau Cemara tidak menggunakan pendekatan perusahaan komersial. Sebagian besar kegiatan dijalankan sebagai lembaga masyarakat dengan semangat gotong royong.
"Karena saat ini sifat gotong royong sudah hampir punah dan kita pertahankan itu kita lestarikan budaya yang dulu kita lewatin saat ini kebersamaan tentunya yang kita kelola sama pengurus wilayah RW 01 ini kita junjung tinggi bersama-sama," kata Dani.
Pertamina Lubricants Siapkan Komersialisasi Produk Sampah
Di sisi lain, Pertamina Lubricants melihat pengembangan ekonomi dari pengelolaan sampah masih memiliki ruang untuk diperluas. Rika mengatakan perusahaan memiliki roadmap pembinaan agar produk yang saat ini sebagian masih digunakan untuk kebutuhan sendiri dapat berkembang menjadi produk komersial.
"Harapannya memang ke depan selain bisa digunakan sendiri bisa memberikan manfaat komersial, bisa dikomersialkan sehingga bisa menambah manfaat ekonomi yang untuk warga," ujar Rika.
Program Kampung Cemara sendiri merupakan bagian dari Program Kampung Iklim yang dikembangkan di sekitar Production Unit Jakarta. Rika mengatakan pendekatan serupa juga dilakukan di sekitar Production Unit Pertamina Lubricants lainnya.
"Di lokasi lain yang di Gresik maupun Cilacap juga punya program yang tentunya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi di masyarakat sekitar," kata Rika.
Dengan model tersebut, sampah yang sebelumnya menjadi beban lingkungan perlahan diubah menjadi sumber nilai ekonomi. Mulai dari ditukar dengan oli, ditabung menjadi uang, hingga diolah menjadi pakan, pupuk, dan produk lainnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: