Kredit Foto: Ist
Presiden Prabowo Subianto mengungkap praktik pelaporan keuangan sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) yang dinilai tidak mencerminkan kondisi sebenarnya. Menurutnya, masih banyak perusahaan pelat merah yang sebenarnya merugi, tetapi tetap melaporkan kinerja seolah-olah mencetak laba.
"Saudara-saudara, terlalu banyak BUMN yang tidak produktif. Rugi terus, laporannya untung. Ngarang saja itu untungnya itu," kata Prabowo, saat menyampaikan pidato dalam Rapat Paripurna DPR RI dengan agenda penyampaian Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2027 di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Menurut Prabowo, praktik pelaporan yang tidak sesuai kondisi riil tersebut tidak hanya mengganggu tata kelola BUMN, tetapi juga berpotensi menurunkan kepercayaan mitra usaha dan investor asing yang bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan milik negara.
"Kita kena masalah, karena banyak perusahaan-perusahaan asing juga kerja sama dengan BUMN kita. Jadi kita harus menghilangkan permainan-permainan ini," ujarnya.
Sebagai bagian dari pembenahan, Prabowo mengatakan pemerintah telah melakukan restrukturisasi besar-besaran terhadap BUMN melalui Danantara. Hingga saat ini, pemerintah telah menutup 290 BUMN beserta anak dan cucu usahanya.
Ia menargetkan jumlah BUMN akan dipangkas menjadi paling banyak 300 perusahaan pada akhir 2026. Dengan demikian, lebih dari 750 BUMN akan ditutup atau dikonsolidasikan sehingga hanya perusahaan yang produktif dan menciptakan nilai tambah bagi masyarakat yang dipertahankan.
"Hari ini kita telah menutup 290 BUMN. Pada 31 Desember 2026, kita targetkan hanya akan memiliki paling banyak 300 BUMN. Lebih dari 750 BUMN akan kita tutup. Hanya yang produktif, hanya yang menciptakan nilai tambah untuk rakyat yang akan kita pertahankan," ujar Prabowo.
Presiden menyebut langkah tersebut berpotensi menjadi salah satu restrukturisasi korporasi terbesar yang pernah dilakukan pemerintah Indonesia.
Prabowo juga mengungkapkan bahwa perampingan struktur perusahaan pelat merah telah menghasilkan efisiensi biaya operasional (overhead) sekitar Rp50 triliun. Penghematan berasal dari pemangkasan biaya direksi dan komisaris, sewa gedung, sewa kendaraan, perjalanan dinas, serta berbagai pengeluaran operasional lainnya.
"Hanya dari gaji direksi, komisaris, sewa gedung, sewa mobil, perjalanan dinas, kita sudah menghemat Rp50 triliun lebih. Target kita 31 Desember nanti penghematannya harus lebih dari Rp70 triliun," katanya.
Baca Juga: Prabowo Pamer Kinerja BUMN, Laba PT Timah Meroket 804,7% Usai Tambang Ilegal Ditutup
Baca Juga: Prabowo: 750 BUMN Lebih Akan Ditutup, Hanya yang Produktif Dipertahankan
Baca Juga: Prabowo Proyeksikan Dividen BUMN Rp200 Triliun pada 2026, Negara Tak Perlu Lagi Suntik Modal Lagi
Menurut Prabowo, dana hasil efisiensi tersebut akan dialihkan untuk membiayai sektor yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, seperti pembangunan puskesmas, renovasi sekolah, hingga penyediaan rumah bagi rakyat.
"Kita bisa bayangkan dengan Rp50 triliun berapa puskesmas bisa kita perbaiki, berapa sekolah bisa kita renovasi, berapa rumah untuk rakyat kita bisa kita berikan," ujar Prabowo.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri