Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan bahwa Indonesia masih akan melakukan impor solar jenis C51 di tahun 2026. Rencananya tahun ini, volume impor solar jenis itu mencapai 600 ribu kilo liter.
Rencana ini tertulis dalam bahan paparan Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung dalam gelaran EBTKE Connect di, Jakarta, Rabu (2/9/2026).
"Pada tahun 2026 Indonesia direncanakan masih akan impor 600 ribu KL solar CN51, 1 juta KL avtur, dan 3,6 juta KL produk bensin RON 92, RON 95, dan RON 98,'' tulis materi dalam paparan.
Di sisi lain, pemerintah juga terus mendorong implementasi biodiesel B50 sebagai salah satu strategi mencapai kemandirian energi nasional. Program pencampuran bahan bakar nabati berbasis Fatty Acid Methyl Ester (FAME) sebesar 50 persen tersebut menjadi langkah Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM) impor sekaligus meningkatkan pemanfaatan sumber energi domestik.
''Tahun ini kita sudah mengimplementasikan B50, dan itu Bapak Presiden waktu kita meluncurkan B50 beliau sudah menyampaikan tahun depan sudah diimplementasikan B60,'' kata Yuliot.
Yuliot menjelaskan, penerapan B50 tidak hanya berkaitan dengan substitusi BBM, tetapi juga membutuhkan kesiapan rantai pasok dari sisi hulu hingga hilir. Pemerintah perlu memastikan ketersediaan bahan baku, terutama minyak sawit mentah (CPO), serta kesiapan industri FAME untuk mendukung peningkatan mandatori biodiesel.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, mengatakan B50 menjadi salah satu capaian penting Indonesia dalam mendorong kemandirian energi.
“Target B50 ini bisa menyetop impor solar kita. Jadi CN48, CN48 dan CN51 itu ada jenis solarnya yang tidak diimpor adalah CN48. Jadi kita sudah bisa mandiri dari impor CN48,'' jabar Eniya.
Eniya menyebut implementasi B50 menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara pionir dalam penggunaan campuran biodiesel tinggi. Menurut dia, belum banyak negara yang menerapkan campuran FAME hingga 50 persen.
''Ini rekor dunia. Jadi tidak ada dunia yang mencapai 50 persen dari campuran ini,'' tambahnya.
Baca Juga: Prabowo Sebut B50 Hemat Devisa 9,5 Miliar Dolar AS
Baca Juga: Neraca Perdagangan Indonesia Masih Surplus US$3,7 Miliar, tapi Impor Tumbuh Lebih Kencang
Ia membandingkan, Malaysia masih berada pada mandatori B20, sementara sejumlah negara lain rata-rata menggunakan campuran biodiesel sekitar 7–10 persen.
Data ESDM menunjukkan sektor bioenergi menjadi salah satu penyumbang terbesar dalam bauran energi baru terbarukan Indonesia. Dari total bauran EBT nasional sebesar 17,3 persen, kontribusi biodiesel/FAME pada sisi non-listrik mencapai 5,01 persen, menjadi salah satu komponen terbesar dalam bauran energi bersih nasional.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: