Tak Hanya Hadapi AS dan Israel, Iran juga Ditekan Pemberontak dari Dalam Negeri
Kredit Foto: Reuters/Morteza Nikoubazl
Pemerintah Iran menghadapi tantangan keamanan di dalam negeri di tengah meningkatnya ketegangan dan perang dengan Israel serta Amerika Serikat. Selain menghadapi ancaman dari luar negeri, Teheran juga mewaspadai aktivitas kelompok-kelompok bersenjata berbasis etnis di wilayah perbatasan.
Kelompok bersenjata Kurdi yang berada di dekat perbatasan Iran dengan Irak disebut sebagai salah satu ancaman bersenjata non-negara terbesar bagi Teheran. Sejumlah kelompok Kurdi Iran telah lama bermarkas di wilayah Kurdi semiotonom di Irak utara.
Pemerintah Iran selama bertahun-tahun melakukan serangan terhadap sejumlah pangkalan kelompok tersebut di wilayah Irak. Iran juga berupaya bekerja sama dengan pemerintah Irak untuk mengurangi aktivitas kelompok bersenjata di sepanjang perbatasan.
Pada awal perang tahun ini, kelompok bersenjata Kurdi bahkan disebut sempat dipertimbangkan untuk menjalankan operasi darat terbatas di wilayah barat Iran. Operasi tersebut diperkirakan akan melengkapi serangan udara yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel.
Reuters melaporkan pada awal Maret bahwa sekitar 5.000 hingga 8.000 pejuang Kurdi Iran dari beberapa kelompok sedang mempersiapkan kemungkinan operasi lintas batas.
Kelompok tersebut antara lain Partai Kehidupan Bebas Kurdistan atau PJAK, Partai Demokratik Kurdistan Iran atau PDKI, serta Partai Kebebasan Kurdistan atau PAK.
Namun, rencana tersebut tidak terlaksana. Kelompok-kelompok tersebut menyatakan mereka tidak memiliki persenjataan yang cukup dan belum memperoleh arahan yang jelas dari Washington untuk memulai operasi.
Pada April, IRGC kemudian dilaporkan meningkatkan jumlah pasukannya di sejumlah provinsi perbatasan.
Ancaman lainnya datang dari wilayah tenggara Iran yang menjadi basis kelompok bersenjata Baloch. Kawasan tersebut selama bertahun-tahun dikenal sebagai wilayah yang mengalami ketegangan keamanan dan ketertinggalan ekonomi.
Salah satu kelompok bersenjata yang paling menonjol di wilayah tersebut adalah Jaish al-Adl.
Pada akhir Agustus, aparat keamanan Iran mengatakan telah membubarkan sebuah sel yang terkait dengan kelompok tersebut. Dalam operasi itu, seorang anggota kelompok dilaporkan tewas dan enam lainnya ditangkap.
Aparat juga menyita senapan, peluncur granat, dan bahan peledak. Meski demikian, serangan sporadis masih terjadi dan terkadang menargetkan aparat kepolisian serta anggota IRGC.
Karena itu, pemerintah Iran mengatakan akan terus memperkuat pengawasan di wilayah perbatasan untuk mencegah kelompok bersenjata memanfaatkan situasi perang.
Peneliti senior Middle East Institute di Washington, Alex Vatanka, mengatakan dukungan dari luar negeri kepada kelompok pemberontak Kurdi dan Baloch dapat memperbesar tantangan keamanan bagi pemerintah Iran.
Baca Juga: Iran Serang Yordania, 18 Rudal Balistik Diklaim Berhasil Dicegat
Menurutnya, dalam situasi perang, pemerintah Iran dapat melihat peningkatan dukungan asing terhadap kelompok bersenjata etnis sebagai ancaman yang sangat serius.
Sementara itu, Trita Parsi dari Quincy Institute mengatakan kelompok separatis saat ini belum menjadi ancaman yang dapat menjatuhkan pemerintahan Iran. Namun, kondisi tersebut dapat berubah jika perang dengan Amerika Serikat semakin meluas.
Bagi Teheran, menjaga keamanan wilayah perbatasan dan mencegah munculnya pemberontakan bersenjata menjadi bagian penting dari upaya mempertahankan stabilitas negara di tengah konflik yang semakin luas.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: