Viral Video Soal Prabowo Dibohongi Orang-orang Terdekatnya: Laporan Itu Tak Sesuai Kenyataan
Kredit Foto: BPMI Setpres
Presiden Prabowo Subianto mendapat sorotan setelah menyampaikan klaim mengenai lonjakan pendapatan pengemudi ojek online (ojol) hingga dua sampai tiga kali lipat setelah pemerintah menekan besaran potongan aplikasi. Hal tersebut menjadi perhatian karena diduga klaim tersebut tidak menggambarkan kondisi pengemudi di lapangan.
Penggiat Media Sosial Guru Gembul secara terbuka meminta presiden tidak langsung mempercayai laporan mengenai peningkatan pendapatan mitra pengemudi ojol. Menurutnya, kondisi yang ia dengar langsung dari komunitas pengemudi justru berbeda dengan informasi yang disampaikan kepada Prabowo.
Baca Juga: Sempat Jadi Pembantunya, Loyalis Jokowi Bongkar Kelakuan Prabowo
"Assalamualaikum Pak Prabowo Subianto. Saya bersumpah, Bapak dibohongin. Bapak dibohongin oleh orang-orang yang selama ini memberikan laporan kepada Bapak," tegas Guru Gembul, dikutip Senin (21/9/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons atas klaim bahwa pendapatan pengemudi ojol meningkat signifikan setelah pemerintah menurunkan batas potongan yang dapat diambil perusahaan aplikator.
Guru Gembul menyebut informasi mengenai kenaikan pendapatan tersebut perlu diuji dengan kondisi nyata para pengemudi yang masih aktif bekerja setiap hari.
Guru Gembul menilai angka kenaikan pendapatan yang dilaporkan kepada presiden tidak sejalan dengan pengalaman para pengemudi ojol. Ia bahkan menyebut klaim tersebut sebagai informasi yang tidak sesuai dengan kenyataan.
"Itu hoaks, Pak! Itu sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan. Ojol-ojol yang sampai sekarang masih beroperasi itu tidak mengalami kenaikan penghasilan. Sekali lagi, Bapak dibohongin!" lanjutnya.
Menurut Guru Gembul, persoalan tersebut seharusnya tidak hanya dilihat berdasarkan perubahan persentase potongan aplikator. Ada berbagai faktor lain yang menentukan penghasilan bersih pengemudi, termasuk jumlah order, tarif perjalanan, biaya operasional, serta kondisi persaingan di antara pengemudi.
Karena itu, ia meminta pemerintah membandingkan klaim kenaikan pendapatan dengan data yang benar-benar berasal dari komunitas pengemudi di lapangan.
Guru Gembul mengaku memiliki data yang diperoleh dari penyerapan aspirasi komunitas mitra pengemudi di sejumlah daerah. Ia pun menyatakan siap memaparkan data tersebut secara langsung kepada pemerintah.
"Saya bersedia untuk ngobrol sama Bapak, atau sama anak buah Bapak, sama Seskab Teddy, atau sama siapapun untuk memberikan pengetahuan dan data yang sejujurnya tentang ojol," tantangnya
Perdebatan mengenai pendapatan pengemudi ojol mencuat setelah pemerintah melakukan penyesuaian terhadap besaran potongan yang dapat dikenakan aplikator.
Sebelumnya, potongan disebut berada di kisaran 20 persen. Setelah kebijakan baru, batas maksimal potongan aplikator disebut turun menjadi 8 persen.
Secara sederhana, perubahan tersebut memang membuat porsi pendapatan kotor yang diterima pengemudi meningkat. Jika sebelumnya pengemudi menerima sekitar 80 persen dari nilai perjalanan setelah potongan, persentasenya dapat menjadi 92 persen ketika potongan berada pada batas maksimal 8 persen.
Namun, perubahan persentase tersebut tidak serta-merta berarti pendapatan bersih pengemudi otomatis melonjak dua atau tiga kali lipat.
Dengan menggunakan perhitungan sederhana pada nilai order yang sama, kenaikan bagian pengemudi dari 80 persen menjadi 92 persen berarti peningkatan sekitar 15 persen dibandingkan bagian yang sebelumnya diterima pengemudi, bukan kenaikan 200 hingga 300 persen.
Meski begitu, besaran pendapatan riil pengemudi tetap bergantung pada banyak variabel lain, termasuk jumlah perjalanan yang diperoleh dan pengeluaran selama bekerja.
Perbedaan antara klaim peningkatan pendapatan dan kondisi yang disampaikan pada akhirnya mengarah pada satu persoalan utama: bagaimana data tersebut dihitung dan dari mana sumbernya.
Jika laporan mengenai kenaikan pendapatan hingga dua atau tiga kali lipat benar, diperlukan penjelasan mengenai indikator yang digunakan pemerintah untuk menyimpulkan kenaikan tersebut. Sebaliknya, jika kondisi lapangan menunjukkan hal berbeda, data tersebut juga perlu diperiksa agar kebijakan pemerintah tidak dibangun berdasarkan gambaran yang tidak lengkap.
Guru Gembul menawarkan dirinya untuk berdiskusi langsung dengan pemerintah. Ia mengaku siap bertemu dengan presiden maupun jajaran pemerintahan untuk membahas data mengenai kondisi pengemudi ojol.
Baca Juga: UU Pemilu dalam Bidikan NasDem, Surya Paloh: Harus Diprioritaskan dibanding Undang-undang Lain
Meski demikian, sampai saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah mengenai tantangan Guru Gembul.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: