Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        B50 Berhasil Setop Impor Solar, Kini Bahlil Bidik E50 untuk Hentikan Impor Bensin

        B50 Berhasil Setop Impor Solar, Kini Bahlil Bidik E50 untuk Hentikan Impor Bensin Kredit Foto: My Pertamina
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indonesia kembali membidik target besar untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM) impor. Setelah penggunaan biodiesel B50 disebut berhasil menghentikan impor solar jenis CN48, pemerintah kini menyiapkan langkah serupa untuk bensin melalui penerapan E50.

        Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan penerapan E50 diharapkan mampu membuat Indonesia tidak lagi mengimpor bensin dalam bentuk produk jadi. Target tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah memperkuat ketahanan energi dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di dalam negeri.

        “Kalau ini mampu kita lakukan ke E50, insyaAllah target kita, kita tidak lagi melakukan impor bensin yang produk jadi,” ujar Bahlil di Balai Sudirman, Jakarta, Senin (21/9/2026).

        E50 merupakan bahan bakar bensin yang dicampur dengan etanol hingga 50 persen. Pemerintah saat ini masih menerapkan pencampuran etanol sebesar 5 persen atau E5 melalui produk Pertamax Green 95.

        Langkah menuju E50 tersebut tidak muncul begitu saja. Pemerintah menjadikan penerapan biodiesel B50 sebagai salah satu pijakan karena kebijakan tersebut dinilai telah memberikan hasil dalam mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor solar.

        B50 merupakan campuran 50 persen fatty acid methyl ester (FAME) berbasis minyak sawit dengan 50 persen solar. Menurut Bahlil, penerapan B50 membuat Indonesia kini tidak lagi mengimpor solar jenis CN48.

        Keberhasilan tersebut kemudian ingin diperluas ke sektor bensin. Jika B50 mengandalkan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel, E50 akan memanfaatkan etanol yang dapat diproduksi dari komoditas pertanian seperti jagung, tebu, dan singkong.

        Pemerintah melihat pemanfaatan bahan bakar berbasis sumber daya domestik sebagai cara untuk mengurangi kebutuhan energi dari luar negeri. Dengan semakin besarnya porsi bahan bakar nabati dalam BBM, ketergantungan terhadap produk impor diharapkan dapat ditekan.

        Bahlil mengatakan penerapan E50 juga diarahkan untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Menurutnya, Indonesia tidak boleh terlalu bergantung kepada pasokan energi dari negara lain, terutama ketika kondisi geopolitik global masih penuh ketidakpastian.

        Baca Juga: Prabowo Mau Bikin Bensin dari Batu Bara, Bahlil: Perusahaan China Sudah Antre Kerja Sama

        “Kalau ini mampu kita lakukan, itu pasti ketahanan energi kita tidak lagi kita menggantungkan ke luar secara besar. Itu kira-kira pikirannya,” kata Bahlil.

        Namun, pemerintah tidak ingin kebijakan E50 hanya memindahkan ketergantungan dari impor bensin menjadi impor etanol. Karena itu, kemampuan industri dalam negeri menjadi salah satu pertimbangan utama dalam penyusunan program tersebut.

        Bahlil menegaskan pemerintah harus memastikan ketersediaan etanol domestik sebelum meningkatkan kadar campuran secara bertahap. Pemerintah tidak ingin penerapan E10, E20, hingga E50 justru membuat Indonesia harus membeli bahan baku dari negara lain.

        “Jadi kita ingin untuk memanfaatkan produksi kita dalam negeri,” tegasnya.

        Untuk menuju E50, Kementerian ESDM melalui Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi kini tengah menyusun peta jalan penerapan etanol pada BBM. Pemerintah menyiapkan tahapan peningkatan campuran secara bertahap sesuai kemampuan industri nasional.

        Bahlil memberikan gambaran bahwa penerapan E10 dapat dimulai pada 2027. Setelah itu, kadar campuran akan ditingkatkan menuju E20 dan secara bertahap diarahkan hingga E50.

        “Tugas kami sekarang adalah dengan Ditjen Migas merancang roadmap-nya bagaimana. Contoh, 2027 kita akan menerapkan E10, 2028 kita akan bangun E20, sampai ke depan,” ujarnya.

        Dengan skema tersebut, pemerintah pada akhirnya ingin membangun dua jalur kemandirian energi sekaligus. Biodiesel B50 diarahkan untuk mengurangi ketergantungan impor solar, sementara E50 diproyeksikan menjadi instrumen untuk menekan bahkan menghentikan impor bensin produk jadi.

        Meski demikian, keberhasilan strategi tersebut akan sangat bergantung pada kemampuan Indonesia membangun rantai pasok bahan bakar nabati di dalam negeri. Bukan hanya teknologi pencampuran BBM, tetapi juga ketersediaan bahan baku dan kapasitas industri etanol harus disiapkan sebelum target E50 diterapkan.

        Jika tahapan tersebut berhasil, pemerintah berharap kebijakan B50 dan E50 dapat menjadi fondasi baru ketahanan energi nasional. Indonesia bukan hanya mengurangi impor BBM, tetapi juga semakin banyak memanfaatkan sumber daya dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan energinya sendiri.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Bagikan Artikel: