Mengenal AI Sycophancy, Si 'Penjilat Digital' yang Mengancam Etika Komunikasi Digital
Kredit Foto: Unsplash/Nasik Lababan
Penggunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di Indonesia saat ini telah mencapai tingkat yang sangat masif. Berdasarkan data Indonesia AI Report 2025, tingkat penetrasi adopsi AI di tanah air berada di kisaran 59% hingga 71% di kalangan pengguna internet.
Data juga menunjukkan sebanyak 77,8% pengguna mengaku memanfaatkan AI setiap hari untuk menunjang aktivitas mereka. Fenomena ini didominasi oleh Generasi Z (71%) dengan platform seperti ChatGPT (85%) dan Google Gemini (65%) sebagai rujukan utama untuk mencari, menyusun, serta meringkas informasi (Pusat Studi Literasi Digital UGM, 2025; Pratama, 2023).
Bagi Generasi Z yang tumbuh besar bersama teknologi dan menjadikan AI sebagai alat bantu belajar, bekerja, hingga tempat mencurahkan isi hati, tanpa disadari ada ancaman tersembunyi dibalik kebiasaan menggunakan AI. Lantas, apa sebenarnya AI Sycophancy, dan mengapa fenomena ini sangat berbahaya bagi masa depan Gen Z?
Apa Itu AI Sycophancy?
Sycophancy (sikofansi) secara harfiah berarti perilaku manis di bibir, suka memuji secara berlebihan, atau menjilat demi menyenangkan orang lain. Dalam konteks kecerdasan buatan, AI Sycophancy terjadi ketika model AI cenderung menyetujui, membenarkan, atau mengiyakan opini, sudut pandang, dan kesalahan pengguna meskipun argumen pengguna tersebut secara faktual salah, keliru, atau bias (Perez et al., 2022).
AI dirancang melalui metode penguatan (Reinforcement Learning from Human Feedback / RLHF) agar ramah, membantu, dan disukai pengguna. Sayangnya, desain ini menciptakan efek samping: AI belajar bahwa menyenangkan pengguna sering kali mendapatkan skor lebih tinggi daripada memberikan fakta yang sesungguhnya.
Sebagai contoh jika ingin mempertanyakan sesuatu seperti "Saya rasa bumi itu datar," AI yang mengalami sycophancy tidak akan langsung menolak, melainkan mencari cara halus untuk mendukung narasi tersebut agar pengguna tetap merasa nyaman berinteraksi (Wei et al., 2023).
Bahaya bagi Etika Komunikasi Digital
Etika komunikasi digital menempatkan verifikasi dan akurasi sebagai kewajiban moral. Ketika AI mengiyakan informasi salah demi menyenangkan pengguna, terjadi penyebaran misinformasi secara sistematis yang sulit terdeteksi oleh pengguna awam (Perez et al., 2022; Sharma et al., 2024). Hal ini memperparah tingkat literasi digital publik yang masih rentan terhadap confirmation bias dan echo chamber (Kominfo & Katadata, 2023; Utami, 2021).
Penggunaan AI yang selalu memuji dapat membentuk standar komunikasi yang tidak sehat. Pengguna terutama generasi muda berisiko membawa ekspektasi interaksi ini ke dunia nyata, di mana mereka mengekspektasikan persetujuan mutlak dan tidak siap menerima feedback konstruktif (Sponheim / Nielsen Norman Group, 2024).
Hal ini memicu krisis akuntabilitas terhadap Gen Z karena merasa pandangannya telah disetujui oleh pakar (AI), sehingga merasa lepas dari tanggung jawab personal ketika menyebarkan klaim bermasalah di ruang publik (Lubis & Rahmawati, 2023).
Langkah Mitigasi Cegah Bahaya AI Sycophancy
Untuk menanggulangi bahaya AI Sycophancy di ruang digital, diperlukan langkah mitigasi yang terintegrasi yaitu dengan mengubah cara pemberian instruksi kepada AI.Sebagai contoh mengganti instruksi yang berpotensi Sycophantic seperti:
"Apakah teori yang saya buat ini sudah benar dan bagus?"
menjadi lebih kritis dengan instruksi:
"Uji teori saya ini. Bertindaklah sebagai kritikus akademik, temukan 3 kelemahan utamanya, dan berikan argumen pembandingnya."
Dengan demikian akan didapatkan jawaban yang lebih kritis sehingga tidak menjadi bias. Penguatan Literasi Media Digital perlu dilakukan dengan cara memasukkan materi AI literacy dalam kurikulum pendidikan komunikasi dan perguruan tinggi (Santoso & Wibowo, 2023) untuk melatih pengguna agar menempatkan kecerdasan buatan sebagai instrumen pemroses data, bukan sebagai kebenaran mutlak.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: