Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Kepemilikan Kendaraan RI Cuma 99 per 1.000 Orang, Kalah Jauh dari Malaysia dan Thailand

        Kepemilikan Kendaraan RI Cuma 99 per 1.000 Orang, Kalah Jauh dari Malaysia dan Thailand Kredit Foto: Ilham Nurul Karim
        Warta Ekonomi, Tangerang -

        Tingkat kepemilikan kendaraan di Indonesia masih jauh di bawah sejumlah negara Asia Tenggara. Dengan rasio sekitar 99 kendaraan per 1.000 penduduk, pasar otomotif nasional dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan, termasuk bagi industri komponen dan layanan aftermarket.

        Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan tingkat kepemilikan kendaraan di Indonesia saat ini baru sekitar 99 unit per 1.000 penduduk. Angka tersebut masih jauh dibandingkan Malaysia yang mencapai 673 unit per 1.000 penduduk dan Thailand sekitar 275 unit per 1.000 penduduk.

        “Indonesia membutuhkan 99 unit per 1.000 orang, negara ini dibandingkan dengan Malaysia 673 per 1.000 orang, di Thailand 275 per 1.000 orang,” ujar Faisol dalam pembukaan Automechanika Jakarta 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), Tangerang, Kamis (24/9/2026).

        Menurut Faisol, rendahnya rasio kepemilikan kendaraan menjadi salah satu indikator bahwa pasar otomotif Indonesia masih memiliki potensi untuk berkembang.

        Potensi tersebut tidak hanya berkaitan dengan penjualan kendaraan baru. Ketika populasi kendaraan bertambah, kebutuhan terhadap suku cadang, perawatan, perbaikan, hingga berbagai layanan aftermarket juga ikut meningkat.

        Peluang tersebut turut dilihat oleh industri komponen. Ketua Umum Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) sekaligus Presiden Direktur PT Astra Otoparts Tbk, Yusak Kristian Solaeman, mengatakan kebutuhan aftermarket tetap menjadi bagian penting dalam ekosistem otomotif Indonesia seiring dengan bertambahnya kendaraan yang beredar.

        Menurut Yusak, perubahan teknologi kendaraan memang akan mengubah jenis komponen dan layanan yang dibutuhkan pasar. Namun, kebutuhan purnajual tetap berjalan karena kendaraan yang sudah beredar akan terus membutuhkan perawatan dan penggantian komponen sepanjang usia pakainya.

        “Automechanika Jakarta menjadi wadah untuk menghadirkan wawasan regional melalui berbagai program pendukung, sekaligus menyoroti potensi manufaktur Indonesia,” kata Yusak.

        Menurutnya, peluang pertumbuhan tersebut juga harus diikuti dengan peningkatan kemampuan industri komponen nasional. Perubahan teknologi otomotif membuat produsen lokal perlu menyesuaikan kemampuan manufaktur dengan perkembangan industri global.

        “Peningkatan kemampuan manufaktur otomotif Indonesia membutuhkan penyelarasan standar industri dalam negeri dengan perubahan global di industri otomotif,” ungkap Yusak.

        Tantangan tersebut semakin kompleks seiring dengan berkembangnya kendaraan elektrifikasi. Industri komponen tidak hanya perlu mempertahankan kemampuan memasok kebutuhan kendaraan bermesin pembakaran internal, tetapi juga menyiapkan kapasitas untuk teknologi kendaraan listrik dan elektrifikasi lainnya.

        Baca Juga: Otomotif RI Masih Tertinggal, Kemenperin: Kepemilikan Kendaraan Jauh di Bawah Malaysia

        Baca Juga: Heboh Impor Raw Sugar 150.000 Ton, Kemenperin Buka Suara

        Perubahan itu mendorong kebutuhan investasi pada teknologi, sumber daya manusia, serta kemampuan manufaktur agar industri komponen nasional dapat mengikuti pergeseran struktur pasar otomotif.

        Di sisi lain, rasio kepemilikan kendaraan yang masih rendah menunjukkan bahwa pasar Indonesia belum mencapai tingkat penetrasi seperti Malaysia maupun Thailand.

        Jika pertumbuhan ekonomi dan daya beli mendorong semakin banyak masyarakat memiliki kendaraan, kebutuhan terhadap komponen dan layanan purnajual berpotensi ikut meningkat. Artinya, ruang pertumbuhan industri komponen tidak hanya datang dari kendaraan baru, tetapi juga dari kendaraan yang sudah beredar dan membutuhkan perawatan sepanjang masa pakainya.

        Bagi industri aftermarket, kondisi tersebut membuat rendahnya kepemilikan kendaraan Indonesia bukan hanya menjadi gambaran kecilnya penetrasi pasar, tetapi juga menunjukkan besarnya ruang yang masih tersedia untuk pertumbuhan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ilham Nurul Karim
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: