Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Dedi Mulyadi Tinggalkan Gerindra demi PSI? Pengamat Soroti Satu Bahaya Besar

        Dedi Mulyadi Tinggalkan Gerindra demi PSI? Pengamat Soroti Satu Bahaya Besar Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Analis Politik dan Militer Universitas Nasional, Doktor Selamat Ginting, memprediksi skenario yang berpotensi terjadi apabila Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) memutuskan meninggalkan Partai Gerindra dan bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

        Menurut Ginting, publik kemungkinan akan mempertanyakan alasan Dedi Mulyadi kembali berpindah haluan politik setelah sebelumnya meninggalkan Partai Golkar dan bergabung dengan Gerindra menjelang Pilkada Jawa Barat 2024.

        "Jadi kalau KDM tiba-tiba pindah lagi ke PSI misalnya, maka pertanyaan penting bagi publik secara sederhana kira-kira begini: apakah memang KDM memiliki kendaraan politik sendiri atau sedang mencari kendaraan terbaik untuk 2029?" ujar Ginting dalam Forum Keadilan TV, dikutip Minggu (27/9).

        Ginting menilai langkah tersebut perlu dipertimbangkan secara matang, mengingat PSI di Jawa Barat saat ini hanya memiliki satu kursi di DPRD.

        Selain itu, perolehan suara PSI pada Pemilu sebelumnya juga disebut masih berada di bawah ambang batas parlemen, sehingga partai tersebut belum mampu mengirimkan wakil ke DPR RI.

        Menurut Ginting, apabila salah mengambil langkah politik, Dedi Mulyadi berpotensi mengalami situasi yang justru merugikan dirinya sendiri, seperti yang terjadi pada mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

        Ia menilai posisi politik Ridwan Kamil belakangan menjadi tidak mudah untuk dipulihkan setelah menghadapi berbagai dinamika politik.

        "Kalau KDM salah mengambil keputusan, dia bisa menjadi senjata makan tuan seperti yang dialami oleh Ridwan Kamil. Tokoh besar masuk ke Jakarta, amsong gitu kan, enggak ada apa-apanya. Dan sekarang dia dikuliti secara politik agak sulit lagi menaikkan Ridwan Kamil," ujarnya.

        Baca Juga: Jokowi Bisa Tinggalkan PDIP, Bisakah Dedi Mulyadi Lepas dari Bayang-bayang Prabowo?

        Karena itu, Ginting mengingatkan bahwa karier politik seorang tokoh dapat berubah dalam waktu singkat apabila mengambil keputusan yang keliru.

        "Jadi dalam sekejap seperti membalikkan telapak tangan bisa terjadi, sudah selesailah era politiknya Ridwan Kamil," tandasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
        Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

        Bagikan Artikel: