Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Ancaman Tersembunyi Golkar-Gerindra Jika Dedi Mulyadi Gabung PSI, Bisa Tamat!

        Ancaman Tersembunyi Golkar-Gerindra Jika Dedi Mulyadi Gabung PSI, Bisa Tamat! Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Analis Politik dan Militer Universitas Nasional, Doktor Selamat Ginting, mengungkapkan salah satu skenario yang berpotensi terjadi jika Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meninggalkan Partai Gerindra dan bergabung dengan partai lain, termasuk Partai Solidaritas Indonesia (PSI), menjelang Pilpres 2029.

        Menurut Ginting, langkah tersebut bisa dianggap sebagai bentuk pengkhianatan politik terhadap Gerindra yang telah mengusung Dedi Mulyadi pada Pilkada Jawa Barat 2024.

        Ginting menilai, apabila hal itu terjadi, bukan tidak mungkin Partai Gerindra akan bersekutu dengan Partai Golkar untuk mengungkap rekam jejak politik Dedi Mulyadi saat menjabat sebagai Bupati Purwakarta.

        Diketahui, sebelum bergabung dengan Gerindra, Dedi Mulyadi merupakan kader Partai Golkar. Ia kemudian pindah ke Gerindra menjelang Pilgub Jawa Barat 2024 dan berhasil terpilih sebagai gubernur.

        "Bukan tidak mungkin kalau Prabowo, Gerindra bersekutu dengan Golkar ya melihat bahwa KDM ini mengkhianati Gerindra, ini bisa dibongkar apa yang telah dilakukan KDM selama menjadi Bupati Purwakarta. Golkar pasti tahu kartunya, Gerindra pasti tahu kartunya," ujar Gintng dalam YouTube Forum Keadilan TV, dikutip Minggu (27/9).

        Ia kemudian mengaitkan kemungkinan tersebut dengan pengalaman politik mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menjelang Pilgub Jawa Barat 2018.

        "Ini kan seperti dulu Ridwan Kamil terpasung karena Nasdem punya kartu di mana kemudian Anda ingat 'Jaksa Agung' bisa dibilang dulu orangnya Nasdem, kan seperti itu," imbuhnya.

        Sebagai informasi, sejumlah survei nasional terbaru menempatkan elektabilitas Dedi Mulyadi di posisi yang sangat kompetitif dalam bursa calon presiden 2029, bahkan melampaui Presiden Prabowo Subianto dalam beberapa simulasi.

        Baca Juga: Jokowi Bisa Tinggalkan PDIP, Bisakah Dedi Mulyadi Lepas dari Bayang-bayang Prabowo?

        Berdasarkan survei Tempo Data Science yang dirilis pada 26 Agustus 2026, dalam simulasi pertanyaan terbuka mengenai kandidat presiden terkuat, elektabilitas Dedi Mulyadi berada di kisaran 41-42 persen, sedangkan Prabowo memperoleh 15 persen.

        Sementara itu, survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dilakukan pada 5-19 Juli 2026 juga menunjukkan tren serupa. Dalam simulasi semi-terbuka, Dedi Mulyadi menempati posisi pertama dengan elektabilitas 35 persen, sedangkan Prabowo berada di angka 14,5 persen.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
        Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

        Bagikan Artikel: