Mengapa Jokowi Belum Buru-buru Bawa Dedi Mulyadi ke PSI? Pengamat Ungkap Alasannya
Kredit Foto: Ist
Analis Politik dan Militer Universitas Nasional, Selamat Ginting, menilai Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) tidak ingin terburu-buru menarik Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau Kang Dedi Mulyadi (KDM) yang saat ini merupakan kader Partai Gerindra ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Menurut Ginting, Jokowi diduga mempertimbangkan hubungan politiknya dengan Presiden Prabowo Subianto yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Partai Gerindra. Karena itu, langkah membawa KDM ke PSI dinilai belum menjadi prioritas saat ini.
"Jadi poin penting yang menurut saya kemungkinan akan dilakukan oleh Jokowi di dalam membaca hubungan dengan Prabowo dan kepentingannya terhadap KDM adalah tidak membutuhkan KDM untuk menjadi kader PSI sekarang Supaya konflik dengan Prabowo tidak di awal, beda kalau di ujung menjelang Pilpres," ujar Ginting dalam YouTube Forum Keadilan TV, dikutip Minggu (27/9).
Menurutnya, langkah yang lebih penting bagi Jokowi saat ini adalah menjaga KDM tetap berada dalam orbit politiknya sebagai opsi untuk dipasangkan dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres 2029.
"Jadi mungkin yang terlebih penting bagi Jokowi adalah KDM tetap di dalam orbit Jokowi untuk berpasangan dengan Gibran di 2029, tetapi dia tetap di Gerindra dulu, tapi tetap hubungannya dengan Jokowi terus dibangun secara komunikasi politik," jelasnya.
Sebagai informasi, sejumlah survei nasional terbaru menempatkan elektabilitas Dedi Mulyadi di posisi yang sangat kompetitif dalam bursa calon presiden 2029, bahkan melampaui Presiden Prabowo Subianto dalam beberapa simulasi.
Baca Juga: Ancaman Tersembunyi Golkar-Gerindra Jika Dedi Mulyadi Gabung PSI, Bisa Tamat!
Berdasarkan survei Tempo Data Science yang dirilis pada 26 Agustus 2026, dalam simulasi pertanyaan terbuka mengenai kandidat presiden terkuat, elektabilitas Dedi Mulyadi berada di kisaran 41-42 persen, sedangkan Prabowo memperoleh 15 persen.
Sementara itu, survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dilakukan pada 5-19 Juli 2026 juga menunjukkan tren serupa. Dalam simulasi semi-terbuka, Dedi Mulyadi menempati posisi pertama dengan elektabilitas 35 persen, sedangkan Prabowo berada di angka 14,5 persen.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: