Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Harga Minyak Melonjak, BI Antisipasi Dampak ke Inflasi dan Nilai Tukar

        Harga Minyak Melonjak, BI Antisipasi Dampak ke Inflasi dan Nilai Tukar Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mewaspadai tekanan dari kenaikan harga minyak dunia di tengah meningkatnya inflasi global. Harga minyak yang terus menanjak dinilai menjadi salah satu tantangan eksternal yang perlu diantisipasi dalam menjaga stabilitas ekonomi Indonesia.

        “Harga minyak dunia pada 24 September 2026 telah mencapai US$125,53 per barel. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan rata-rata harga minyak pada Agustus 2026 yang berada di kisaran US$90,88 per barel,” ujar Destry saat rapat bersama Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia (DPR RI), Senin, (28/9/2026).

        Kenaikan harga minyak tersebut terjadi ketika tekanan inflasi global juga meningkat. Destry menyebut inflasi global telah mencapai 4,6%, sehingga kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam menentukan arah kebijakan moneter ke depan.

        Selain tekanan harga, BI juga melihat kebijakan moneter global masih berada dalam kondisi ketat. Destry mengatakan bank sentral Amerika Serikat telah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dan BI masih memperkirakan adanya satu kali kenaikan lagi pada kuartal IV 2026.

        Kondisi tersebut turut mendorong penguatan dolar Amerika Serikat. Indeks dolar atau DXY disebut telah mencapai 101,11, sementara indeks dolar terhadap mata uang Asia berada di level 96,26. Penguatan dolar tersebut kemudian mendorong perpindahan arus modal dari negara berkembang menuju aset yang dinilai lebih berisiko rendah.

        Menurut Destry, tekanan eksternal tersebut perlu menjadi perhatian karena dapat berpengaruh terhadap stabilitas nilai tukar dan arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia. BI pun menyiapkan bauran kebijakan yang lebih adaptif untuk menghadapi kondisi tersebut.

        Di sisi domestik, Destry mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih relatif terkendali. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% pada kuartal II 2026, sementara secara kumulatif pada semester I 2026 pertumbuhan ekonomi mencapai sekitar 5,45%.

        BI memperkirakan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 tumbuh di kisaran 4,9%-5,7%. Sementara pada 2027, pertumbuhan ekonomi diperkirakan meningkat ke rentang 5,2%-6%, dengan salah satu asumsi utamanya adalah meningkatnya investasi swasta.

        Baca Juga: Harga Minyak Menguat Setelah Trump Tolak Proposal Damai Iran

        Baca Juga: Nyolong Minyak Goreng, Kepala Dapur SPPG di Surabaya Raup RP1,2 Juta

        Destry mengatakan BI akan mengarahkan kebijakan moneter untuk lebih menjaga stabilitas, sementara kebijakan lainnya diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, seluruh kebijakan tersebut perlu dilakukan secara terintegrasi dengan pemerintah dan otoritas terkait.

        “Kebijakan moneter akan diarahkan untuk lebih pro-stability, sementara kebijakan lainnya diarahkan untuk lebih mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Destry.

        Dengan tekanan harga minyak, inflasi global, penguatan dolar, dan potensi arus modal keluar yang masih menjadi tantangan, BI akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aryo Hadi Wibowo
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: