- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
IHSG Anjlok ke 6.147,85 Usai Batas Minimum Harga Saham Turun Jadi Rp1
Kredit Foto: Antara/Galih Pradipta
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok pada perdagangan Senin (28/9/2026), bertepatan dengan mulai berlakunya aturan baru batas minimum harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). IHSG merosot 1,59% atau 94,03 poin ke level 6.147,85.
Pada hari pertama penerapan aturan tersebut, batas minimum harga saham di BEI berubah dari Rp50 menjadi Rp1 per saham. Kebijakan ini memungkinkan saham yang sebelumnya tertahan di level Rp50 untuk diperdagangkan pada harga di bawah level tersebut.
IHSG bergerak dalam rentang 6.140,34-6.227,89 sepanjang perdagangan. Tekanan jual membuat indeks bergerak turun hingga mendekati level terendah sebelum akhirnya ditutup di 6.147,85.
Tekanan juga tercermin dari mayoritas saham yang berakhir di zona merah. Sebanyak 532 saham melemah, sedangkan 180 saham menguat dan 81 saham lainnya stagnan.
Aktivitas perdagangan terbilang ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp12,50 triliun. Sementara volume perdagangan tercatat sebanyak 37,11 miliar saham.
Perubahan batas minimum harga menjadi salah satu dinamika baru di pasar saham pada awal pekan ini, terutama bagi saham-saham yang sebelumnya berada di level Rp50. Namun, tekanan terhadap IHSG tidak hanya datang dari perubahan mekanisme perdagangan. Pasar juga menghadapi sejumlah sentimen global dan domestik yang berpotensi memengaruhi arah indeks sepanjang pekan ini.
IHSG Dihadapkan pada Sejumlah Sentimen
Investment Specialist Indo Premier Sekuritas (IPOT) David mengatakan IHSG menghadapi sejumlah sentimen penting pada periode 28 September-2 Oktober 2026.
Menurut dia, investor perlu mencermati kembali menguatnya tema higher-for-longer, gejolak harga minyak, tekanan terhadap Rupiah, hingga perkembangan inflasi domestik.
“Pasar kembali mencermati potensi bertahannya suku bunga tinggi lebih lama,” ujar David dalam risetnya, Senin (28/9/2026).
Ekspektasi tersebut menguat setelah sejumlah bank sentral utama mempertahankan arah kebijakan suku bunga yang ketat. Federal Reserve pada 16 September 2026 menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00%.
Sementara itu, European Central Bank (ECB) pada 10 September menaikkan tiga suku bunga kebijakannya masing-masing 25 basis poin. Suku bunga deposit facility naik menjadi 2,50%, main refinancing operations menjadi 2,65%, dan marginal lending facility menjadi 2,90%, yang berlaku efektif mulai 16 September 2026.
David menilai kondisi tersebut perlu dicermati karena apabila data ekonomi Amerika Serikat tetap menunjukkan ketahanan, ekspektasi pelonggaran moneter yang lebih agresif dapat kembali mereda.
Kenaikan imbal hasil US Treasury, khususnya tenor panjang, juga menjadi perhatian. Menurut David, peningkatan required risk premium di negara berkembang dapat mendorong realokasi portofolio dari aset emerging market menuju aset Amerika Serikat.
Baca Juga: IHSG Anjlok di Zona Merah pada Awal Pekan, Turun ke Level 6.209,74
Baca Juga: IHSG Dihantui Suku Bunga Tinggi, Harga Minyak dan Rupiah Jadi Perhatian
Baca Juga: Mulai Hari Ini, BEI Ubah Batas Bawah Harga Saham Jadi Rp1, Ini Daftarnya
Selain kebijakan moneter global, harga minyak menjadi faktor lain yang berpotensi memengaruhi pergerakan IHSG. Dari dalam negeri, tekanan terhadap Rupiah dan perkembangan inflasi juga menjadi perhatian investor.
Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur pada 22-23 September 2026 mempertahankan BI-Rate di level 5,75%. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, mengendalikan inflasi, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
David mengatakan tekanan terhadap Rupiah masih berlanjut. Per 25 September 2026, Rupiah berada di sekitar Rp17.903 per dolar AS, sedangkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) tercatat Rp17.917 per dolar AS.
Meski demikian, posisi cadangan devisa sekitar US$146,5 miliar dinilai dapat menjadi bantalan dalam upaya menjaga stabilitas nilai tukar.
Di sisi lain, perkembangan inflasi juga menjadi perhatian pasar. Kenaikan inflasi, ditambah potensi tekanan dari harga energi dan risiko El Nino terhadap sektor pangan, dapat mempersempit ruang pelonggaran moneter dalam waktu dekat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan