Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Iran Tangkap Drone Bawah Laut AS, Bakal Pulihkan Data di Dalamnya

        Iran Tangkap Drone Bawah Laut AS, Bakal Pulihkan Data di Dalamnya Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyita kendaraan bawah air tak berawak (UUV) REMUS 600 yang disebut milik militer Amerika Serikat di perairan Selat Hormuz pada Minggu (27/9/2026).

        IRGC menyatakan penyitaan dilakukan melalui operasi yang melibatkan pengawasan intelijen dan peperangan elektronik. Menurut pihak Iran, kendaraan bawah air tersebut sedang beroperasi di Selat Hormuz untuk misi pengintaian.

        IRGC menyebut REMUS 600 yang diklaim telah dikuasai itu kini berada di tangan personel spesialis untuk menjalani pemeriksaan dan pemulihan data. Klaim tersebut menjadi insiden kedua yang melibatkan kendaraan bawah air AS dalam beberapa pekan terakhir.

        REMUS 600 merupakan kendaraan bawah air otonom yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk pemetaan dasar laut, pengawasan maritim, penanggulangan ranjau, serta misi intelijen dan pengintaian. Sistem tersebut dapat beroperasi hingga kedalaman sekitar 600 meter.

        IRGC juga menyatakan Selat Hormuz masih ditutup dan memperingatkan akan mengambil tindakan terhadap aktivitas yang dianggap berbahaya atau pelayaran melalui jalur yang tidak diizinkan.

        Namun, klaim tersebut dibantah oleh pihak militer Amerika Serikat. Juru Bicara Komando Pusat AS (CENTCOM) Tim Hawkins mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Amerika Serikat masih memiliki kendali atas seluruh aset drone operasionalnya.

        Dengan demikian, belum terdapat kesepakatan mengenai apakah REMUS 600 tersebut benar-benar berhasil disita dan dikuasai oleh Iran.

        Insiden Kedua

        Klaim terbaru tersebut muncul setelah IRGC pada awal September menyatakan telah menangkap kendaraan bawah air tak berawak lain yang diidentifikasi sebagai Dive-LD buatan perusahaan pertahanan Amerika Serikat, Anduril.

        Baca Juga: Keputusan Indonesia Walk Out Dari Sidang PBB Berujung Sindiran Menohok PM Israel

        Iran menyebut kendaraan tersebut ditangkap di sekitar pintu masuk Selat Hormuz. Pada saat itu, pihak Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa sebuah unit Dive-LD mengalami kerusakan ketika sedang beroperasi di kawasan tersebut, meski terdapat perbedaan keterangan mengenai status dan kondisi perangkat tersebut.

        Selat Hormuz sendiri tetap menjadi titik penting dalam ketegangan Iran dan Amerika Serikat. Di tengah konflik dan pembatasan pelayaran di kawasan tersebut, keberadaan serta aktivitas kendaraan bawah air menjadi bagian dari persoalan keamanan maritim yang semakin sensitif.

        Klaim penyitaan REMUS 600 juga muncul ketika jalur diplomasi kedua negara masih menghadapi ketegangan. Iran sebelumnya menyampaikan usulan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian konflik, sementara perkembangan hubungan kedua negara masih berlangsung di tengah agenda diplomatik internasional.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Amry Nur Hidayat
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: