Kredit Foto: Pokemon
Kartu Pokémon yang sebelumnya identik dengan permainan anak berkembang menjadi barang koleksi bernilai tinggi. Dalam beberapa tahun terakhir, pasar kartu tersebut kembali mengalami lonjakan minat dan mulai menarik perhatian generasi muda sebagai aset alternatif.
Berdasarkan indeks yang disusun lembaga grading kartu PSA, harga rata-rata kartu Pokémon tercatat meningkat hingga 1.350% sejak 2020. Kenaikan tersebut terjadi ketika aktivitas mengoleksi kartu kembali populer, terutama setelah pandemi mendorong masyarakat menghidupkan kembali berbagai hobi masa kecil.
Popularitas konten unboxing di YouTube dan TikTok turut memperbesar tren tersebut. Kartu langka yang ditemukan dalam sebuah booster pack dapat memiliki nilai jauh lebih tinggi dibandingkan harga ketika pertama kali dibeli.
Fenomena tersebut membuat sebagian kolektor tidak lagi memandang kartu Pokémon sebatas barang permainan. Nilai karakter, kelangkaan, kondisi fisik, edisi, hingga tingkat permintaan menjadi sejumlah pertimbangan dalam menentukan harga kartu.
Pertumbuhan kartu Pokémon menjadi bagian dari perkembangan industri trading card game (TCG) secara global. Mengutip Yahoo Finance, pasar TCG diperkirakan bernilai sekitar US$8,4 miliar pada 2025 dan diproyeksikan mencapai US$16,9 miliar pada 2035.
Pokémon menjadi salah satu merek terbesar dalam industri tersebut dengan pangsa lebih dari 12% dari pasar kartu global.
Minat terhadap kartu Pokémon terlihat di pasar fisik maupun digital. Ketika stok booster pack kembali tersedia di sejumlah toko, kolektor dapat membentuk antrean untuk mendapatkannya.
Di internet, komunitas kolektor juga aktif membahas kartu tertentu yang mengalami perubahan harga dalam waktu singkat. Media sosial membuat informasi mengenai harga, kelangkaan, dan rilisan terbaru lebih mudah diakses oleh calon kolektor.
Konten pembukaan booster pack atau unboxing juga memperlihatkan peluang mendapatkan kartu langka secara langsung. Konten tersebut turut menarik penonton untuk mencoba mengoleksi kartu Pokémon.
Bagi Gen Z, ketertarikan terhadap Pokémon tidak hanya muncul dari tren pasar. Banyak di antara mereka telah mengenal karakter seperti Pikachu, Charizard, dan Mewtwo sejak kecil melalui anime, gim, maupun berbagai produk Pokémon.
Kedekatan tersebut membuat unsur emosional tetap menjadi bagian dari nilai sebuah kartu. Kolektor dapat memilih kartu bukan semata-mata berdasarkan harga, tetapi juga karena menyukai karakter, ilustrasi, atau seri tertentu.
Perkembangan komunitas digital kemudian membuat aktivitas koleksi semakin mudah dilakukan. TikTok, Instagram, dan Discord menjadi tempat bagi kolektor untuk bertukar informasi mengenai harga, kartu langka, rilisan terbaru, hingga perkembangan permintaan pasar.
Dengan akses informasi yang semakin terbuka, seseorang tidak harus menjadi pemain kartu terlebih dahulu untuk mulai mengoleksi Pokémon.
Ekosistem Pokémon juga mulai menggabungkan pengalaman kartu fisik dengan teknologi digital. Melalui Pokémon TCG Live, pemain dapat membawa pengalaman permainan kartu ke platform digital.
Perkembangan teknologi juga membuka peluang penggunaan augmented reality dalam ekosistem kartu. Hal tersebut memperluas cara konsumen berinteraksi dengan kartu dan menjangkau generasi yang lebih terbiasa dengan produk digital.
Ada sejumlah faktor yang memengaruhi daya tarik kartu Pokémon sebagai barang koleksi. Nostalgia menjadi salah satunya. Karakter yang telah dikenal sejak masa kanak-kanak memberikan nilai emosional bagi kolektor.
Media sosial juga membuat informasi pasar semakin mudah diperoleh. Harga kartu, tingkat kelangkaan, rilisan baru, hingga pengalaman kolektor dapat dipantau tanpa harus datang langsung ke toko atau mengikuti komunitas secara luring.
Baca Juga: Lewat Wayang hingga Olahraga, Pokémon Rayakan 30 Tahun dan Perluas Proyek di Indonesia
Baca Juga: iPhone Duo Belum Dijual, Galaxy Z Fold 8 Sudah Kena Efeknya
Selain itu, kartu Pokémon memiliki bentuk fisik yang dapat dimiliki dan disimpan. Kolektor dapat memajangnya sekaligus mempertahankan kemungkinan nilai jual di kemudian hari.
Namun, nilai kartu tidak hanya ditentukan oleh merek Pokémon. Kondisi kartu, tingkat kelangkaan, karakter, edisi, kualitas cetakan, serta permintaan pasar dapat memengaruhi harga.
Karena itu, kenaikan harga rata-rata kartu Pokémon tidak berarti seluruh kartu akan mengalami kenaikan nilai. Bagi kolektor yang menjadikannya aset alternatif, pemahaman terhadap kondisi pasar dan risiko tetap diperlukan sebelum membeli.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: