Bukan Pecah Kongsi! Pengamat Ungkap Strategi Mengejutkan Jokowi dan Prabowo yang Sebenarnya
Kredit Foto: Istimewa
Pengamat politik Hendri Satrio menilai langkah Joko Widodo bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) belum dapat diartikan sebagai tanda bahwa Presiden ke-7 RI itu berpisah jalan dengan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, Jokowi justru tengah membangun jalur politik baru di tengah dinamika nasional.
“Apakah kemudian ini tandanya dia pisah jalan dengan Prabowo? Saya tidak ingin mengatakan pisah jalan, tapi dia sedang membangun jalannya sendiri, jalannya yang baru,” kata Hensa dalam tayangan di kanal YouTube Hendri Satrio Official.
Hensa menyoroti keputusan Jokowi memperlihatkan dirinya sebagai bagian dari PSI pada September 2026. Ia mengaitkan momentum tersebut dengan pembahasan mengenai ambang batas parlemen atau parliamentary threshold yang juga tengah menjadi perhatian.
Menurut Hensa, dinamika tersebut dapat membuat Jokowi melihat ruang politiknya semakin terbatas. Ia menilai kondisi itu menjadi salah satu hal yang mungkin melatarbelakangi langkah Jokowi memilih PSI sebagai kendaraan politik.
“Kenapa Pak Jokowi kemudian mengumumkan September 2026 ini bahwa dia menjadi bagian dari PSI? Ini karena dia merasa terisolasi. Menurut catatan saya, dia merasa terisolasi, ditinggalkan,” ujar Hensa.
Hensa kemudian menilai keberadaan Jokowi di PSI dapat menjadi pesan bahwa dirinya masih memiliki kekuatan dan kendaraan politik sendiri. “Dia merasa ingin dilihat sebagai kekuatan baru yang tidak bisa dianggap remeh. Oke, lu bisa mengisolasi gue, tidak ikutan bicarakan threshold, tapi jangan meremehkan saya. Saya punya kendaraan, dan ini bisa jadi kekuatan baru,” tuturnya.
Meski begitu, Hensa mengingatkan kehadiran Jokowi tidak otomatis membuat kekuatan elektoral PSI meningkat. Menurutnya, dampaknya terhadap posisi PSI pada Pemilu 2029 tetap membutuhkan kalkulasi politik lebih lanjut.
“PSI pasti akan diuntungkan dengan itu, tapi apakah kemudian PSI bisa melonjak dengan hadirnya Jokowi? Ya, kita mesti ada hitung-hitungan politik lain,” kata Hensa.
Ia juga mengaitkan dinamika tersebut dengan sejumlah persoalan yang menyangkut Jokowi dan putranya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Hensa menggambarkan adanya perasaan diserang yang menurut pandangannya dapat memengaruhi sikap politik Jokowi.
“Kok bergulir ya kasus ini? Kok enggak ditahan ya? Kok double attack ya? 'Ke saya juga, ke anak saya juga. Kok didiamkan ya? Kok gue enggak dibelain ya?' Dia diserang, merasa diserang menurut saya,” ujar Hensa.
Hensa mengingatkan bahwa sebelumnya ia berpandangan hubungan Jokowi dan Prabowo belum mengarah pada permusuhan. Namun, menurutnya, dinamika terkait parliamentary threshold dan perkara di Mahkamah Konstitusi mengenai Gibran dapat membuat Jokowi mulai menyadari perubahan situasi politik.
“Lantas saya pernah bilang, belum saatnya Jokowi dan Prabowo bermusuhan. Tapi dengan adanya isu threshold kemarin, kemudian MK tentang Gibran, saya rasa dia mulai menyadari,” kata dia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy
Tag Terkait: