Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Gibran Tak Bisa Sendiri, Jokowi Disebut Bukan Siapa-siapa Lagi di 2029

        Gibran Tak Bisa Sendiri, Jokowi Disebut Bukan Siapa-siapa Lagi di 2029 Kredit Foto: ChatGPT/Belinda Safitri
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Perjalanan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali menjadi sorotan menjelang pertarungan politik 2029. Ia diperkirakan akan menjadi akhir karir perjalanan politik dari Eks Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi).

        Pegiat Media Sosial Arif Wicaksono menilai perjalanan politikus muda itu menuju posisi wakil presiden tidak dapat dilepaskan dari posisi politik ayahnya yang ketika itu masih menduduki kursi presiden RI.

        Baca Juga: Jokowi Mulai Sadari 'Permusuhannya' dengan Prabowo: Makanya Pengumumannya di Jabar, Bukan Jateng

        Menurut Arif, kekuasaan yang dimiliki ayah politikus muda itu saat masih menjadi kepala negara menjadi salah satu faktor penting dalam perjalanan politik dari Gibran.

        "Gibran naik karena bapaknya, saat itu, masih duduk di kursi kekuasaan tertinggi," ujar Arif, dikutip Rabu (30/9/2026).

        Ia menilai kedekatan antara kekuasaan dan perjalanan politik politikus muda itu tidak bisa begitu saja dipisahkan dari pembahasan mengenai etika politik.

        "Etika? Sudah lama dikorbankan demi dinasti," tukasnya.

        Namun Gibran menurutnya akan menghadapi tantangan terbesar ketika memasuki kontestasi politik berikutnya. Sebab, Jokowi pada pesta demokrasi nanti diperkirakan tidak akan sama dengan ketika ia masih mempunyai kewenangan sebagai presiden.

        "2029? Jokowi bukan siapa-siapa lagi," tuturnya.

        Di 2029 Gibran dinilai tidak bisa hanya mengandalkan nama besar Jokowi. Gibran akan menghadapi pertarungan politik dalam situasi yang berbeda, termasuk ketika ayahnya tidak lagi memiliki kewenangan formal sebagai Presiden.

        Arif juga mengingatkan adanya konsekuensi jangka panjang dari penggunaan kekuasaan dalam membangun kekuatan politik.

        "Kekuasaan yang dipakai kemarin dan hari ini, suatu saat akan jadi bumerang. Sejarah mencatatnya," tandasnya.

        Adapun Jokowi baru-baru ini melakukan manuver politik dengan resmi menjadi anggota dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Namun, status tersebut baru ditegaskan secara terbuka setelah dirinya menunjukkan kartu tanda anggota dalam Rakorda DPD PSI Kota Bandung di Grand Pasundan.

        Jokowi bahkan membacakan nomor keanggotaannya di hadapan kader dan publik. Langkah tersebut dinilai memiliki makna politik lebih besar daripada sekadar mengonfirmasi keanggotaan, yakni seperti sinyal bahwa ada modal politik baru yang dimiliki oleh PSI.

        Baca Juga: Jokowi Merasa Terisolasi dan Ditinggalkan, Pengamat Sebut Ada Sesuatu di Balik Pengumuman Gabung PSI

        “Sudah setahun yang lalu. Banyak yang nggak percaya, sekarang saya buka saja kartu anggota saya ini,” tegas Jokowi.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: