Bukan Berkat Jokowi, PSI Bilang Gibran Bisa Jadi Wapres Karena Satu Alasan...
Kredit Foto: ChatGPT/Belinda Safitri
Posisi Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden kembali dikaitkan dengan sosok ayahnya, Joko Widodo (Jokowi). Namun, kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Dedy Nur Palakka membantah anggapan tersebut dan menyebut ada alasan konstitusional yang membuat Gibran bisa maju hingga terpilih sebagai wakil presiden.
Dedy menilai posisi Gibran dalam Pilpres 2024 tidak bisa dilepaskan dari mekanisme pencalonan yang berlaku. Menurut dia, seseorang tidak bisa begitu saja masuk dalam kontestasi Pilpres tanpa dicalonkan oleh partai politik atau gabungan partai politik.
"Gibran Rakabuming Raka bisa sampai pada posisi Wakil Presiden Republik karena satu alasan konstitusional sederhana," tulis Dedy di akun X, Rabu (30/9/2026).
Baca Juga: Kata-kata Refly Harun Jelang Sidang Ijazah Gibran: Yang Paling Penting...
Ia kemudian menjelaskan alasan yang dimaksud. Dedy menekankan bahwa status sebagai anak presiden, menurutnya, bukan tiket otomatis untuk masuk ke dalam surat suara.
"Apa itu? Ia dicalonkan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik. Tanpa itu, siapa pun mau dia anak Presiden sekalipun tidak akan bisa masuk dan di cetak dalam kartu suara dah," ujarnya.
Dalam Pemilu 2024, Gibran memang tercatat sebagai calon wakil presiden yang diusulkan sejumlah partai politik. KPU menetapkan pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka sebagai pasangan calon nomor urut 2 dengan sejumlah partai pengusul, di antaranya Partai Gerindra, Golkar, Demokrat, PAN, PSI, Partai Bulan Bintang, hingga Partai Garuda.
Dedy pun menilai tudingan bahwa Gibran memperoleh posisi tersebut semata-mata karena Jokowi masih menjabat presiden saat itu tidak tepat jika dilihat dari mekanisme pencalonan.
Baca Juga: Sidang Ijazah Gibran Lanjut, Akademisi: Saya Lihat Pembuktiannya akan Sulit
"Jadi, tuduhan bahwa Gibran Rakabuming Raka naik karena Bapaknya masih Presiden adalah tuduhan yang tidak kontekstual," lanjut dia.
"Itu lebih cocok kita sebut sebagai tuduhan politis," pungkasnya.
Pernyataan Dedy tersebut merupakan respons terhadap unggahan pegiat media sosial Arif Wicaksono di akun X. Arif sebelumnya menilai posisi Gibran tidak terlepas dari status Jokowi yang kala itu masih menduduki kursi kekuasaan tertinggi di Indonesia.
"Gibran naik karena bapaknya, saat itu, masih duduk di kursi kekuasaan tertinggi," ungkapnya di akun X.
Arif juga menyinggung persoalan etika dan dinasti politik dalam unggahannya.
"Etika? Sudah lama dikorbankan demi dinasti. 2029? Jokowi bukan siapa-siapa lagi," kata dia.
"Kekuasaan yang dipakai kemarin dan hari ini, suatu saat akan jadi bumerang. Sejarah mencatatnya," imbuhnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: