Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Inflasi September Tembus 3,28 Persen, Kelompok Makanan dan Minuman Beri Andil Besar

        Inflasi September Tembus 3,28 Persen, Kelompok Makanan dan Minuman Beri Andil Besar Kredit Foto: Antara/Patrik Cahyo Lumintu
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Harga pangan kembali menjadi sumber tekanan terhadap inflasi pada September 2026. Kenaikan harga cabai, daging ayam ras, beras, hingga telur ayam ras membuat kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan.

        Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi September 2026 sebesar 0,30% secara bulanan. Angka tersebut membuat Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 111,97 pada Agustus menjadi 112,31 pada September 2026.

        Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 0,88% dan memberikan andil 0,26% terhadap inflasi nasional pada September.

        "Komoditas yang dominan menyumbang inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau adalah cabai rawit dengan andil inflasi sebesar 0,08 persen, cabai merah dengan andil inflasi 0,06 persen, daging ayam ras dengan andil inflasi 0,05 persen, beras dengan andil inflasi 0,03 persen, telur ayam ras dengan andil inflasi 0,02 persen, dan kangkung dengan andil inflasi 0,01 persen," kata Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (1/10/2026).

        Tekanan terbesar berasal dari komponen bergejolak yang mencatat inflasi 1,46% dengan andil 0,24%. Sementara komponen inti mengalami inflasi 0,10% dengan andil 0,06%. Adapun komponen harga yang diatur pemerintah mencatat inflasi mendekati 0%.

        Secara tahunan, inflasi September 2026 mencapai 3,28%, meningkat dibandingkan September 2025 yang sebesar 2,65%. Sementara secara tahun kalender, inflasi tercatat 2,17%.

        Dalam periode tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga menjadi penyumbang terbesar dengan andil 1,28%. Berikutnya adalah kelompok transportasi dengan andil 0,58% serta perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,53%.

        Pada komponen inti, kenaikan harga emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, laptop atau notebook, serta pelumas dan oli mesin turut mendorong inflasi tahunan.

        Secara wilayah, 36 dari 38 provinsi mengalami inflasi secara bulanan, sementara dua provinsi mengalami deflasi. Inflasi bulanan tertinggi terjadi di Sulawesi Utara sebesar 3,53%, sedangkan deflasi terdalam tercatat di Nusa Tenggara Timur sebesar 0,35%.

        Untuk inflasi tahunan, seluruh provinsi mencatat kenaikan harga. Sulawesi Utara menjadi provinsi dengan inflasi tahunan tertinggi sebesar 7,59%, sedangkan Sumatera Selatan mencatat inflasi terendah sebesar 2,55%.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ilham Nurul Karim
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: