Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Trump Tolak Regulasi AI Baru, Pilih Pengawasan Mandiri Industri

        Trump Tolak Regulasi AI Baru, Pilih Pengawasan Mandiri Industri Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak gagasan pembentukan regulasi federal baru untuk mengatur kecerdasan buatan (AI). Sebagai gantinya, pemerintah AS mendorong industri teknologi memperkuat pengawasan mandiri terhadap keamanan sistem AI.

        Sikap tersebut disampaikan Trump setelah bertemu dengan hampir dua lusin eksekutif perusahaan teknologi di Gedung Putih untuk membahas risiko dan keamanan AI pada Selasa waktu setempat.

        Dalam pertemuan tersebut, Trump dan para pemimpin perusahaan teknologi menyepakati kerangka kerja yang mendorong perusahaan bekerja sama dengan auditor eksternal untuk menilai keamanan model AI. Perusahaan juga berkomitmen memperketat pengendalian internal terhadap sistem yang mereka kembangkan.

        Trump mengatakan aturan yang sudah berlaku saat ini dinilai cukup untuk melindungi masyarakat AS dari potensi risiko AI. Ia juga menekankan pentingnya mekanisme pengawasan yang dilakukan oleh industri.

        “Ada keyakinan bahwa harus ada regulasi mandiri yang sangat ketat, dan kita secara otomatis memiliki regulasi melalui Departemen Kehakiman, FBI, dan sebagainya, tetapi regulasi mandiri ini sangat penting,” kata Trump.

        Ketua DPR AS Mike Johnson menyebut kesepakatan tersebut sebagai serangkaian komitmen sukarela dari perusahaan AI. Menurutnya, industri akan menerapkan pengendalian internal sekaligus melibatkan peninjauan dari pihak internal dan eksternal.

        Kesepakatan tersebut muncul ketika tuntutan terhadap penguatan keamanan AI meningkat. Sejumlah insiden yang melibatkan sistem AI dan persoalan keamanan mendorong pengembang teknologi serta sejumlah pemimpin dunia membahas perlunya standar pengamanan yang lebih kuat.

        Namun, Trump tetap mempertahankan pendekatan yang tidak banyak melibatkan pemerintah dalam pengaturan industri AI. Sikap tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pemerintahannya belum mengarah pada pembentukan aturan federal baru khusus untuk mengantisipasi risiko AI.

        Dalam pertemuan di Gedung Putih, Trump didampingi Johnson dan sejumlah tokoh industri teknologi. Mereka antara lain CEO Meta Platforms Mark Zuckerberg, CEO Palantir Technologies Alex Karp, CEO Anthropic Dario Amodei, CEO Nvidia Jensen Huang, Presiden OpenAI Greg Brockman, CEO Microsoft Satya Nadella, Elon Musk dari SpaceX, serta CEO Advanced Micro Devices Lisa Su.

        Setelah pertemuan, Trump juga sempat menyampaikan gagasan pembentukan sebuah komite yang beranggotakan sekitar 10 orang untuk membantu mengawasi perkembangan AI. Namun, ia belum memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai struktur maupun kewenangan komite tersebut.

        Jensen Huang termasuk eksekutif yang mendukung pendekatan yang menyeimbangkan pengembangan teknologi dengan aspek keamanan. Ia mengatakan inovasi AI dan pengamanan teknologi tidak harus dipertentangkan.

        “Kita harus menciptakan teknologi baru untuk meningkatkan kemampuan AI. Namun, kita juga menciptakan teknologi baru untuk meningkatkan keamanan AI,” kata Huang.

        Pernyataan tersebut disampaikan sehari setelah Nvidia memperkenalkan perangkat lunak keamanan baru yang dirancang untuk membantu mencegah agen AI menjalankan tindakan di luar kendali.

        Perdebatan mengenai regulasi AI menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintahan Trump. Di satu sisi, Trump mendorong pengembangan AI di AS agar tetap kompetitif dengan China dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, kekhawatiran publik terhadap dampak AI mencakup potensi kehilangan pekerjaan, peningkatan kebutuhan listrik, hingga ancaman serangan siber.

        Perbedaan pandangan tersebut membuat pendekatan pemerintah terhadap keamanan AI terus menjadi perhatian, terutama ketika pengembangan teknologi berlangsung semakin cepat.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: