Peneliti Akui Representasi Orang Jokowi Berkurang di Kabinet Prabowo, tapi Bukan Pembersihan Total
Kredit Foto: Istimewa
Reshuffle Kabinet Merah Putih pada 1 Oktober 2026 memunculkan pembacaan soal perubahan posisi figur yang selama ini diasosiasikan dekat dengan Presiden ke-7 Joko Widodo. Peneliti Citra Institute Efriza menilai memang ada kecenderungan berkurangnya representasi kelompok tersebut, tetapi tidak tepat jika disebut sebagai pembersihan total.
Efriza melihat perubahan komposisi kabinet Prabowo Subianto lebih kompleks daripada sekadar mengeluarkan seluruh figur yang memiliki kedekatan dengan pemerintahan sebelumnya. Menurut dia, masih terdapat sejumlah nama dari era Jokowi yang tetap berada dalam struktur pemerintahan.
“Memang ada dasarnya kalau disebut sebagai sebuah kecenderungan, tetapi terlalu jauh kalau disebut pembersihan total orang-orang Jokowi,” kata Efriza.
Salah satu perubahan yang menjadi sorotan adalah pergantian Pratikno dari posisi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Posisi tersebut kini ditempati Sugiono, yang sebelumnya menjabat Menteri Luar Negeri.
Namun, perubahan posisi juga terjadi dengan pola berbeda pada Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Mantan Kapolri itu tidak meninggalkan pemerintahan setelah digantikan Komjen Suyudi Ario Seto, melainkan dipercaya menempati posisi Kepala Staf Kepresidenan atau KSP.
Menurut Efriza, penempatan Listyo Sigit di lingkungan Istana menjadi salah satu alasan mengapa reshuffle tidak bisa dibaca sebagai upaya membersihkan seluruh figur yang diasosiasikan dengan Jokowi.
“Listyo tidak dikeluarkan dari pemerintahan. Dia tetap ditempatkan pada posisi strategis di lingkungan Istana,” ujarnya.
Listyo sendiri mengonfirmasi sebelum pelantikan bahwa dirinya akan menjadi KSP menggantikan Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman. Ia menyebut penugasan tersebut sebagai kehormatan sekaligus bentuk pengabdian kepada bangsa dan negara.
Di sisi lain, sejumlah perubahan memang memperlihatkan adanya pergeseran komposisi di posisi strategis pemerintahan. Pergantian Pratikno dan Listyo Sigit menjadi bagian dari rangkaian reshuffle yang juga mencakup pergantian sejumlah menteri serta pejabat negara lainnya.
Karena itu, Efriza melihat ada kecenderungan pengurangan representasi figur yang diasosiasikan dekat dengan Jokowi, tetapi jaringan tersebut menurutnya tidak sepenuhnya hilang dari pemerintahan Prabowo.
Baca Juga: UGM Buka-Bukaan Format Ijazah Jokowi, Dokter Tifa Langsung Tantang JPU Buka Dokumen Asli!
“Prabowo tampaknya tidak memutus seluruh jaringan lama, tetapi mengurangi representasinya pada sejumlah titik strategis,” tutur Efriza.
Pembacaan tersebut membuat reshuffle kali ini lebih tepat dilihat sebagai perubahan konfigurasi di dalam pemerintahan. Figur lama masih ada di sejumlah posisi, sementara sejumlah posisi lainnya ditempati nama-nama yang mendapat kepercayaan baru dari Prabowo.
Efriza kemudian menyebut pola tersebut sebagai bagian dari konsolidasi pemerintahan Prabowo. Artinya, perubahan kabinet tidak semata-mata diarahkan untuk menghapus kelompok tertentu, tetapi juga untuk mengatur ulang komposisi kekuasaan di sejumlah titik strategis.
“Jadi, istilah yang lebih tepat adalah perubahan konfigurasi dan konsolidasi pemerintahan,” katanya.
Reshuffle 1 Oktober sendiri menjadi perombakan besar yang mencakup sejumlah posisi penting, mulai dari jajaran menteri koordinator hingga Kapolri. Selain Listyo Sigit yang bergeser menjadi KSP, Prabowo juga menunjuk Sugiono sebagai Menko PMK dan Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri.
Perubahan representasi figur dari pemerintahan Jokowi menjadi salah satu bagian dari dinamika reshuffle. Namun, berdasarkan analisis Efriza, perubahan itu belum menunjukkan putusnya seluruh jaringan lama dari pemerintahan Prabowo.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama