Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        PSI: Jokowi Dihina, Sekarang Gibran, tapi Derajatnya Tetap Tinggi di Mata Rakyat

        PSI: Jokowi Dihina, Sekarang Gibran, tapi Derajatnya Tetap Tinggi di Mata Rakyat Kredit Foto: ChatGPT/Belinda Safitri
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Dedy Nur Palakka menanggapi perdebatan dan kritik yang kembali mengarah kepada Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Dedy menilai penghinaan terhadap keduanya tidak akan mengubah posisi mereka di mata masyarakat.

        Pernyataan itu disampaikan Dedy melalui akun X pada Jumat (2/10/2026). Ia mengatakan ada pihak yang menjadikan hinaan terhadap orang lain sebagai cara untuk menghibur diri sendiri.

        "Menghibur diri sambil menghina orang lain adalah sikap yang tidak mereka sadari dari dulu," tulis Dedy di akun X, Jumat (2/10/2026).

        Baca Juga: Syahganda Nainggolan: Gibran Harusnya Jadi Camat Dulu

        Menurut Dedy, pola tersebut sebelumnya juga terjadi ketika Jokowi menjadi sasaran hinaan. Kini, kata dia, Gibran mengalami hal serupa.

        "Jokowi, mereka hina-hina tetap tinggi derajatnya di mata rakyat. Sekarang giliran Gibran yang di hina-hina dan hasilnya juga akan sama," ujarnya.

        Dedy kemudian menutup pernyataannya dengan menyinggung dampak dari tindakan menghina orang lain.

        "Penghinaan tidak akan pernah menghasilkan kemuliaan," tutup dia.

        Unggahan Dedy tersebut merespons postingan pegiat media sosial Hasyim Muhammad mengenai pihak-pihak yang disebutnya sebagai pembenci Jokowi. 

        "Pembenci Jokowi itu sudah sejak 2014 selalu ketawa-ketawa sendiri ketika ada orang yang seakan-akan bisa menurunkan Jokowi. ITU SUDAH SEJAK 2014!" ungkapnya.

        Baca Juga: Luky Alfirman Jadi Wamenkeu Usai Dicopot Purbaya, Eks Stafsus Sri Mulyani: Ampunilah Mereka

        Hasyim kemudian menilai kegembiraan tersebut tidak selalu berujung pada hasil yang diharapkan. Ia mengaitkannya dengan dinamika politik yang terjadi selama masa pemerintahan Jokowi.

        "Selalu merasa menang dengan wajah gembira. Padahal semua itu semu. Nggak terjadi. Makanya saya selalu bilang mereka itu masturbasi. Senangnya cuma di angan-angan. Jangankan menurunkan Jokowi di periode 2014-2019, mengalahkan Jokowi di Pilpres 2019 pun nggak bisa," lanjut dia.

        Ia juga menyinggung kembali reaksi yang muncul menjelang berakhirnya pemerintahan Jokowi pada 2024.

        "Lalu ketawa-ketiwi lagi karena merasa bisa menurunkan Jokowi di periode 2019-2024. Sampai Jokowi turun tahta tahun 2024 pun ketawa-ketiwinya cuma di wajah aja. Di hati mereka tetap nangis dan marah-marah nggak karuan," sebutnya.

        "Semoga Anda tahu ya maksud saya bagaimana "marah-marah nggak karuan" itu gimana. Lihat aja kalau ngomong di tiktok atau komentar di X. Mereka cuma bisa ngomong termal-termul tapi aslinya hatinya nangis," imbuhnya.

        Menurut Hasyim, situasi tersebut kemudian berlanjut setelah Gibran terpilih sebagai Wakil Presiden pada 2024. Ia menyebut muncul kembali harapan dari pihak-pihak tersebut untuk menjatuhkan Gibran.

        "Ditambah Gibran terpilih di tahun 2024. Makin menjadi kemarahan mereka. Sekarang ketawa-ketiwi merasa bakal menurunkan Gibran. Dan nggak usah heran, mungkin hal seperti ini akan berlangsung sampai tahun 2034 nanti," tambah Hasyim.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Bagikan Artikel: