Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Industri Tekstil Tumbuh 6,36 Persen, AGTI Harap Menperin Sarmuji Jaga Momentum

        Industri Tekstil Tumbuh 6,36 Persen, AGTI Harap Menperin Sarmuji Jaga Momentum Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Asosiasi Garment dan Textile Indonesia (AGTI) berharap penguatan kinerja industri tekstil dan pakaian jadi dapat terus berlanjut di bawah kepemimpinan Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji.

        AGTI menilai dukungan pemerintah terhadap industri tekstil dan pakaian jadi selama ini telah memberikan dorongan bagi pertumbuhan sektor tersebut. Harapan itu disampaikan seiring dengan penguatan kinerja industri pada semester pertama 2026.

        Sekretaris Jenderal AGTI Rizal Tanzil Rakhman mengatakan, pertumbuhan yang sedang terjadi perlu dijaga melalui program-program yang memberikan dampak nyata bagi pelaku industri.

        Menurutnya, dukungan pemerintah tetap dibutuhkan agar perusahaan dapat mengembangkan usaha, memperluas pasar, sekaligus membuka lebih banyak kesempatan kerja.

        “Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pemerintah, khususnya Kementerian Perindustrian, atas perhatian dan dukungan yang selama ini diberikan kepada industri garmen dan tekstil. Ini tentu menggembirakan bagi pelaku usaha dan menjadi semangat untuk terus berkembang,” ujar Rizal.

        Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri tekstil dan pakaian jadi tumbuh 3,55 persen sepanjang 2025. Memasuki 2026, pertumbuhan sektor tersebut mencapai 4,86 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) pada kuartal I, kemudian meningkat menjadi 6,36 persen pada kuartal II.

        Penguatan juga terjadi pada industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki. Setelah tumbuh 3,31 persen sepanjang 2025, kelompok industri tersebut mencatat pertumbuhan 5,28 persen yoy pada kuartal I-2026 dan meningkat menjadi 11,30 persen pada kuartal II-2026.

        Pertumbuhan kedua kelompok industri tersebut pada kuartal II-2026 berada di atas pertumbuhan industri pengolahan nonmigas sebesar 5,32 persen dan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen pada periode yang sama.

        Rizal menilai capaian tersebut menunjukkan masih adanya ruang bagi industri tekstil, pakaian jadi, kulit, dan alas kaki untuk berkembang.

        “Angka ini memberi gambaran bahwa industri tekstil, pakaian jadi, kulit dan alas kaki masih punya ruang untuk tumbuh. Kami berharap perkembangan yang baik ini semakin terasa bagi pelaku usaha, baik melalui bertambahnya pesanan, meningkatnya produksi, maupun kesempatan untuk berinvestasi,” kata Rizal.

        Selain pertumbuhan produksi, kinerja perdagangan luar negeri juga menunjukkan capaian positif. Sepanjang Januari-Juli 2026, industri tekstil dan pakaian jadi serta industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki secara gabungan membukukan surplus perdagangan sebesar US$5,6 miliar.

        AGTI menilai capaian tersebut menunjukkan peran kedua kelompok industri dalam perdagangan luar negeri Indonesia. Karena itu, peluang pasar ekspor dinilai perlu terus dikembangkan bersamaan dengan penguatan penjualan produk di dalam negeri.

        “Industri ini tidak hanya menghasilkan produk untuk kebutuhan masyarakat, tetapi juga memberikan pemasukan dari pasar ekspor. Potensinya masih besar. Karena itu, kami berharap dukungan terhadap pelaku usaha bisa terus berlanjut agar peluang yang ada dapat dimanfaatkan lebih luas,” ujarnya.

        Rizal juga berharap Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji dapat melanjutkan dukungan yang selama ini diberikan sekaligus membuka ruang bagi pelaku industri untuk menyampaikan kebutuhan dan kendala di lapangan.

        Menurutnya, kepastian kebijakan menjadi salah satu pertimbangan perusahaan dalam menyusun rencana usaha. Kepastian tersebut dibutuhkan agar pelaku industri dapat merencanakan produksi, melakukan pembaruan mesin, hingga mempertimbangkan ekspansi pabrik.

        “Kami berharap Bapak Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji dapat lebih terbuka dan menerima masukan-masukan dari industri, serta meneruskan dan memperkuat kebijakan yang sudah berjalan baik. Bagi pelaku usaha, kepastian itu penting karena rencana investasi dan pengembangan usaha tidak dibuat untuk satu atau dua bulan saja,” kata Rizal.

        Meski menyambut penguatan pertumbuhan, AGTI melihat masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu dibahas bersama pemerintah. Tantangan tersebut antara lain penguatan daya saing sektor garmen, biaya energi dan logistik, pembaruan mesin, ketersediaan bahan baku, serta akses pasar.

        AGTI berharap pertumbuhan industri juga dapat dirasakan secara lebih luas oleh perusahaan di berbagai mata rantai, mulai dari sektor hulu hingga hilir. Untuk itu, komunikasi antara pemerintah dan asosiasi dinilai penting agar dukungan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha.

        “Tentu masih ada tantangan yang dihadapi teman-teman di industri. Kami berharap komunikasi dengan pemerintah terus terjaga, sehingga persoalan di lapangan bisa dibicarakan dan dicarikan jalan keluarnya bersama. Dengan begitu, pertumbuhan ini bisa dirasakan oleh semakin banyak pelaku usaha,” ujarnya.

        Baca Juga: Sarmuji Tinggalkan DPR Usai Jadi Menteri Perindustrian: 'Nggak Bisa Rangkap'

        AGTI juga berharap produsen bahan baku dan industri produk jadi dapat berkembang secara bersama-sama. Penguatan pemasok dalam negeri, menurut Rizal, perlu berjalan seiring dengan ketersediaan bahan baku yang sesuai dari sisi kualitas, harga, dan waktu pengiriman.

        Asosiasi menyatakan siap menjadi mitra pemerintah dengan membawa masukan dari pelaku usaha. AGTI berharap perkembangan industri tidak hanya tercermin dalam angka pertumbuhan, tetapi juga diikuti peningkatan investasi, perluasan pasar, dan terjaganya lapangan kerja.

        “Dengan pertumbuhan yang sedang menguat, kita memiliki momentum yang baik. Kami berharap di bawah kepemimpinan Bapak Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji, industri tekstil, pakaian jadi, kulit dan alas kaki dapat semakin kuat sebagai motor pertumbuhan industri nasional, penghasil devisa dan pencipta lapangan kerja,” tutup Rizal.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Amry Nur Hidayat
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: