Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Awal Pekan, Rupiah Dibuka Melemah ke Level Rp17.903 per USD

        Awal Pekan, Rupiah Dibuka Melemah ke Level Rp17.903 per USD Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada pembukaan perdagangan Senin (5/10/2026). Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, rupiah dibuka melemah 21 poin (0,12%) di level Rp 17.903 per dolar AS.

        Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrhaim Assuaibi, memproyeksikan mata uang Garuda pada hari ini bergerak fluktuatif namun ditutup melemah pada rentang Rp17.880 sampai dengan Rp17.930 per dolar AS.

        "Sedangkan perdagangan dalam pekan ini rupiah bergerak di rentang Rp17.750 - Rp18.050," ungkap Ibrhaim kepada wartawan.

        Sebelumnya Bank Indonesia memperluas surat berharga yang dapat digunakan sebagai underlying dalam operasi moneter. 

        Kebijakan ini, kata Ibrahim, membuka ruang yang lebih besar bagi perbankan untuk mengelola likuiditas sekaligus mendorong aktivitas transaksi surat berharga korporasi di pasar keuangan. 

        "Perluasan tersebut dilakukan dengan memasukkan obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi sebagai underlying operasi moneter," kata dia kepada wartawan.

        Ibrahim menyebut, kebijakan BI merupakan bagian dari penguatan operasi moneter yang lebih berorientasi pasar (pro-market) dan terintegrasi dengan pengembangan Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA).

        Operasi moneter pro-market memungkinkan kebijakan moneter tidak hanya diarahkan untuk mengelola likuiditas, suku bunga, dan nilai tukar, tetapi juga mendorong aktivitas transaksi di pasar keuangan. 

        Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp17.882 per Dolar AS Terkerek Kebijakan Pro-Market Bank Indonesia

        Baca Juga: Ada Reshuffle dan Rilis Data BPS, Rupiah Tertekan Dekati Level Rp18.000 per USD

        Transmisi kebijakan moneter perlu mengalir melalui pasar uang dan pasar valuta asing agar dapat memengaruhi transaksi serta pembiayaan dunia usaha dan rumah tangga. BI Melalui perluasan underlying ini, perbankan mendapatkan instrumen yang lebih beragam dalam mengelola likuiditasnya. 

        "Di sisi lain, korporasi penerbit surat berharga juga memperoleh dukungan terhadap likuiditas dan aktivitas perdagangan instrumennya di pasar sekunder," kata dia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: