Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Disebut 'Bukan Semutnya Jokowi', Syahganda: Prabowo Mulai Tunjukkan Jati Diri

        Disebut 'Bukan Semutnya Jokowi', Syahganda: Prabowo Mulai Tunjukkan Jati Diri Kredit Foto: BPMI
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Aktivis sekaligus pendiri Great Institute yang kini menjadi Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Syahganda Nainggolan, menilai Presiden Prabowo Subianto mulai menunjukkan karakter kepemimpinannya setelah menjalankan pemerintahan.

        Menurut dia, Prabowo perlahan memperlihatkan sikap yang lebih mandiri dalam menentukan arah kebijakan dan tidak lagi berada dalam bayang-bayang pemerintahan sebelumnya.

        Pandangan tersebut disampaikan Syahganda dalam obrolan di kanal YouTube Refly Harun yang tayang pada 3 Oktober 2026. Ia sekaligus menjelaskan alasan dirinya kini mendukung pemerintahan Prabowo setelah sebelumnya berada di barisan pendukung Anies Baswedan pada Pemilu 2024.

        “Bapak Prabowo sendiri kembali ke jati dirinya, memperlihatkan setelah pemilu bahwa dia itu sebenarnya garuda, dia sebenarnya singa, dia harimau. Bukan semutnya Jokowi,” tegas Syahganda.

        Syahganda mengatakan perubahan dukungannya didasarkan pada kesesuaian agenda perjuangan yang selama ini dibawanya. Ia menyebut isu kesejahteraan buruh, reforma agraria, nelayan, hingga masyarakat miskin kota sebagai bagian dari agenda yang menurutnya kini memiliki ruang dalam arah kebijakan pemerintahan Prabowo.

        Menurut Syahganda, sejumlah keputusan pemerintah menunjukkan upaya untuk menyesuaikan program dengan kemampuan fiskal. Salah satunya adalah perubahan target pembentukan Koperasi Desa Merah Putih yang disebutnya dipangkas dari target awal 81.000 gerai menjadi sekitar 30.000 gerai.

        Ia juga menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG). Syahganda menyebut proyeksi anggaran yang sebelumnya mencapai Rp300 triliun per tahun kini dirasionalisasi menjadi sekitar Rp157 triliun, disertai perubahan metode penyaluran untuk menekan potensi kebocoran.

        Selain program tersebut, Syahganda menilai perubahan juga terjadi pada arsitektur ekonomi makro. Ia menyebut pergantian sejumlah figur di sektor keuangan yang menurutnya berhaluan neoliberal sebagai bagian dari pergeseran menuju ekonomi yang lebih berdaulat.

        Syahganda juga melihat masuknya sejumlah tokoh pergerakan, termasuk Jumhur Hidayat, ke dalam pemerintahan sebagai indikasi adanya perubahan orientasi kebijakan menuju kesejahteraan sosial.

        Baca Juga: Jadi Aktivis yang Merapat ke Prabowo, Syahganda Kaget Mayor Teddy Jumatan di Istana

        Meski mengakui pemerintahan Prabowo menghadapi persoalan utang serta persoalan integritas yang menurutnya diwarisi dari era pemerintahan Jokowi, Syahganda tetap melihat peluang pertumbuhan ekonomi ke depan.

        Ia menilai ekspansi fiskal dan intervensi negara yang dilakukan secara tepat sasaran dapat mendorong pertumbuhan sekaligus memperluas manfaat ekonomi kepada masyarakat.

        “Prabowo komit betul untuk memastikan pertumbuhan itu dinikmati oleh rakyat, bukan hanya kapitalis. Kami di Great Institute memproyeksikan pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,6 persen pada tahun 2026 dan berpotensi menembus 6 persen pada tahun depan,” pungkas Syahganda.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Amry Nur Hidayat
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: