Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rupiah Ditutup Rebound ke Rp17.899 per USD, Ditopang Sentimen Bank Dunia

        Rupiah Ditutup Rebound ke Rp17.899 per USD, Ditopang Sentimen Bank Dunia Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Rabu (6/10/2026). Mata uang Garuda terparkir Rp17.899 per dolar AS, atau menguat 18 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.917.

        Ibrahim menyebut, penguatan rupiah didorong oleh sentimen Bank Dunia yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 mencapai 5,2%. Proyeksi tersebut direvisi naik sebesar 0,5 poin persentase. 

        "Aktivitas ekonomi Indonesia juga ditopang oleh peningkatan program prioritas pemerintah, investasi yang terhubung dengan negara, serta besarnya subsidi energi," kata dia kepada wartawan.

        Lonjakan pertumbuhan tersebut, kata Ibrahim, mencerminkan menguatnya konsumsi swasta dan peningkatan pengeluaran publik pada pergantian tahun. Momentum Ramadan dan Idulfitri yang datang lebih awal, pencairan THR dan gaji ke-13, serta percepatan peluncuran program makan bergizi gratis disebut berhasil menggeser pengeluaran pemerintah menjadi lebih awal dalam siklus fiskal.

        Meski demikian, Bank Dunia turut menyoroti aktivitas ekonomi domestik yang tampak melemah setelahnya. Hal ini ditandai dengan penurunan indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur menjadi 49,3 pada Agustus serta melemahnya tingkat kepercayaan konsumen menjadi 116,8 pada Juli.

        "Di sisi lain, pelebaran defisit memicu kekhawatiran pasar terhadap tren fiskal dan peringkat utang negara (sovereign ratings)," kata dia.

        Sentimen pasar terhadap Indonesia sempat memburuk pada Januari, yang kemudian diperparah oleh lonjakan harga minyak mentah global dan gangguan pengiriman. Arus modal keluar (portfolio outflows) tercatat mencapai 0,2% dari PDB pada kuartal I/2026. 

        Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp17.882 per Dolar AS Terkerek Kebijakan Pro-Market Bank Indonesia

        Baca Juga: Bank Dunia Naikkan Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026 Jadi 5,2 Persen

        Lengkah pemerintah mempertahankan subsidi bahan bakar juga disebut mampu menekan kenaikan harga dan menahan tekanan inflasi. Tingkat inflasi tercatat turun dari 4,8% pada Februari menjadi 3,4% pada Juli 2026.

        Di samping itu, Bank Dunia memproyeksikan defisit transaksi berjalan Indonesia akan melebar menjadi 1,5% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2026. Sementara itu, tingkat inflasi diperkirakan tetap berada di sekitar batas atas rentang target Bank Indonesia (BI) dan pemerintah, yaitu 2,5±1%

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: